Belajar Bersyukur Kepada Nabi Sulaiman - Malang Post

Rabu, 20 November 2019 Malang Post

  Follow Us


Jumat, 11 Okt 2019, dibaca : 843 , udi, imam

MALANG - Stabilnya hidup seorang muslim ketika ia mampu menyeimbangkan sikap sabar dan syukur dalam hidupnya. Juga karena alasan itulah Nabi Muhammad SAW, bangga kepada kepada ummatnya.
Hal tersebut disampaikan K.H Syaifuddin Zuhri saat memberikan materi pengajian kepada para Jamaah di Masjid Sabilillah Malang, Selasa (8/10). Kiai Syaifuddin menjelaskan, Rasulullah cinta kepada ummatnya yang sabar ketika diberi musibah dan bersyukur ketika mendapat nikmat. "Dengan dua sifat inilah maka kehidupan seseorang menjadi stabil," katanya.
Pengasuh Pondok I'anatut Tholibin ini mengungkapkan, sikap syukur yang hebat telah dicontohkan oleh Nabi Sulaiman. Sebagai sosok nabi pilihan Allah, Nabi Sulaiman menunjukkan sikap sejatinya sebagai hamba Allah.
Sebagaimana diketahui, Nabi yang satu ini mendapat anugerah yang luar biasa dari Sang Khalik. Selain mampu berkomunikasi dengan jin dan hewan sebagai mukjizatnya, Nabi Sulaiman juga dianugerahi kekayaan yang melimpah.
Menjadi nabi terkaya yang tersirat dalam sejarah Islam. Nabi Sulaiman juga punya jabatan sebagi Raja yang menguasai berbagai wilayah di belahan bumi. Ia juga dapat mengendalikan angin dan gelombang di lautan.
Kendati demikian, Nabi Sulaiman tidak merasa memiliki. Semua disadarinya sebagai titipan dari Sang Pencipta. Kata-kata Nabi Sulaiman yang populer di telinga kaum muslimin dan tertulis dalam Alquran, Hadza Min Fadli Rabbi. Yang artinya ini semua karena keutamaan dari Tuhanku.
Dengan prinsip dan keyakinan itulah, sehingga tidak ada rasa sombong dan angkuh dalam hatinya. "Padahal pada umumnya ketika orang mencapai tingkat kekayaan, akan lupa pada hakikat dirinya," ucap Kiai Syaifuddin.
Rois Syuriah MWC NU, Kecamatan Blimbing ini menuturkan, sebagai salah satu Nabi dengan anugerah yang luar biasa, ada tiga hal yang diminta Nabi Sulaiman kepada Allah SWT. Doa Nabi Sulaiman, 'Robbi auzi’nii an asykuro ni’matakalattii an’amta ‘alayya wa ‘alaa waalidayya wa an a’mala soolihan tardhoohu wa adkhilnii birohmatika fii ‘ibadikash soolihiin'.
Pertama, mampu mensyukuri nikmat-nikmatnya Allah. Sebab kenikmatan hidup tergantung tingkat syukurnya. Bukan jumlah materinya. Syukur kunci kenikmatan hidup. Semakin tinggi daya syukur seseorang maka semakin nikmat hidupnya.
Demikian sebaliknya, sebanyak apapun kekayaan yang dimiliki tanpa rasa syukur tidak akan terasa nikmat. Hatinya semakin sempit, materi selalu mengatur hidupnya. Bukan dirinya yang mengatur materi. "Itulah rahasia Nabi Sulaiman sukses di dunia akhirat. Kuncinya, bersyukur," tegas Kiai Syaifuddin.
Ia menjelaskan, bahwa syukur itu aspek ruhaniyah. Di beberapa ayat dalam Alqur'an termasuk hadits Nabi, syukur sering digandeng dengan prestasi keimanan. Semakin bagus tingkat syukur seseorang maka semakin tinggi keimanannya. Semakin bagus iman seseorang semakin cerdas menangkap kenikmatan sekecil apapun yang diberikan oleh Allah.
Jika syukur dan iman bernilai bagus maka pasti prestasi ibadahnya juga bagus. "Allah tidak mengazab seseorang dengan dua prestasi,  jika bersyukur dan jika beriman," ungkapnya.
Menurut Kiai Syaifuddin orang bersyukur hidupnya akan produktif. Karena bisa mengembangkan nikmat yang diperoleh menuju kepada hal yang dicintai oleh Allah. Nikmat besar yang juga harus disyukuri yaitu kesatuan dan persatuan bangsa Indonesia. Di tengah majemuk dan heterogennya rakyat, dengan berbagai suku, ras dan agama, bangsa ini tetap bersatu. "Maka bersyukurlah kita punya pancasila dengan UUD 45, atas dasar kebesaran dan Rahmat Allah bangsa ini lahir dan menjadi kuat di tengah perbedaan. Maka jangan mau dipecah belah dengan masuknya ideologi baru yang merusak tatanan negara ini," jelasnya.
Adapun permintaan kedua Nabi Sulaiman kepada Allah, yaitu nikmat besar yang diterimanya menjadi sarana berbuat kebajikan. Anugerah yang diberikan Allah baik berupa materi, jabatan maupun yang lain menjadi media untuk berbuat amal saleh. "Harus menjadi sarana ibadah. Kalau tidak maka semakin menjauhkan kita kepada Allah," tambahnya.
Dan yang ketiga, lanjut Kiai Syaifuddin, nikmat yang diperoleh membuat Nabi Sulaiman dekat dengan orang-orang saleh. "Bahwa yang dilakukan oleh Nabi Sulaiman merupakan pelajaran bagi kita, untuk juga kita laksanakan. Tidak berguna harta yang banyak, kalau kita jauh dari orang-orang saleh. Karena orang-orang di sekitar kita, juga menentukan arah jalan hidup kita di dunia ini," tandasnya. (imm/udi)



Loading...