MalangPost - Belajar Adaptasi New Normal dari Berbagai Negara, FIA UB Gelar Webinar Internasional

Kamis, 09 Juli 2020

  Mengikuti :

Belajar Adaptasi New Normal dari Berbagai Negara, FIA UB Gelar Webinar Internasional

Kamis, 25 Jun 2020, Dibaca : 2064 Kali

MALANG – Memasuki masa transisi normal baru, Fakultas Ilmu Administrasi (FIA) Universitas Brawijaya menggelar webinar internasional bertajuk ‘Administrative Science Perspective: Adapting to A New Normal in Higher Education’. Webinar digelar dua sesi pada Jumat (19/6) dan Kamis (25/6) . Tak hanya narasumber dari Indonesia, FIA UB juga mengadirkan mahasiswa S1, master dan doktoral dari Malaysia, Australia, Jepang dan Cina sebagai narasumber.

 

Dekan Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Brawijaya Prof. Dr. Bambang Supriyono, MS., mengungkapkan, webinar internasional ini digelar untuk memperkaya pengetahuan bagi sivitas akademika tentang bagaimana beradaptasi dengan situasi new normal pada lingkup universitas.

“Di Indonesia sendiri, Pulau Jawa merupakan daerah dengan jumlah kasus terbanyak dan bahkan masih terus bertambah hingga hari ini. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk bisa beradaptasi dalam new normal ini mengenai proses akademik kedepannya. Baik dalam hal infrastruktur, proses belajar mengajar dan yang terpenting bagaimana mengimprovisasi kemampuan teknologi kita. Dari webinar ini kita bisa saling belajar bagaimana kondisi dan juga proses adaptasi negara lain di kondisi pandemi ini,” ungkapnya.

 

Sesi pertama yang digelar pada Jumat (19/6), webinar menghadirkan empat narasumber dari tiga universitas dan Negara berbeda. Di antaranya Regita Nur Salsabila dari Universitas Brawijaya, Siti Nursharafana Binti Nazrey dari Universiti Utara Malaysia serta Tafadzwa Leroy Machirori dan Swasta Priambada dari Swinburne University of Technology, Australia. Pada sesi ini, para narasumber juga mengungkapkan tantangan yang dihadapi oleh masing-masing negara dalam menghadapi era normal baru ini.

“Sebenarnya intinya hampir sama untuk setiap negara. Pembelajaran yang semula face to face harus full berganti secara daring. Mahasiswa tentu memerlukan penyesuaian dari kondisi semacam ini. Oleh kerena itu, penting bagi dosen atau pengajar untuk membuat sistem ajar yang baru yang lebih fleksibel demi menaikkan engagement atau ketertarikan mahasiswa terhadap proses belajar mengajar. Selain itu, Perpustakaan and IT supports dari universitas harus terus melakukan improvisasi dalam menyediakan fasilitas untuk mahasiswa,” ujar salah satu narasumber asal Afrika Selatan, Tafadzwa Leroy Machirori.

 

Pada sesi kedua yang digelar pada Kamis (25/6), FIA UB menghadirkan lima mahasiswa dari tiga negara berbeda yakni Ashil Nasywa Hernanda dari Universitas Brawijaya, MD Atikur Rahman dan Inggang Perwangsa Nuralam dari Kobe University Jepang, serta Ashfaque Ahmad dan Mirna Amirya dari Huazhong University of Science and Technology Wuhan China.

“Untuk di Wuhan sendiri, pembelajaran masih banyak dilakukan secara daring. Meski sudah lewat masa lockdown yang ditetapkan pemerintah, mahasiswa dan masyarakat pada umumnya sudah bisa meninggalkan kediaman masing-masing. Dengan tetap menaati batas waktu yang ditentukan oleh pemerintah. Setelah kondisi makin baik, waktu yang diberikan juga semakin bertambah. Sejak 22 Juni, mahasiswa yang keluar dari asrama menuju kampus diberi waktu dari pukul 06.00 – 22.00,” jelas Mirna Amirya dalam paparannya.

 

Lebih lanjut, Ashil Nasywa Hernanda juga menambahkan bahwa meski pembalajaran dilakukan full secara daring, FIA UB memberikan banyak kemudahan bagi mahasiswa. “Bantuan dari universitas sangat membantu bagi mahasiswa. Beberapa dosen merekam dirinya yang sedang mengajar untuk disebarkan kepada para mahasiswa. Untuk diskusi dan debat, kami menggunakan mixidea.org. Selain itu banyak online webinar dan diskusi bahkan kompetisi yang membuat mahasiswa tetap produktif dan kreatif di masa pandemi ini,” pungkas Ashil Nasywa Hernanda.  (ae6/ley)

Editor : Stenly Rehardson
Penulis : Redaksi