Bedah Metakognitif Imam Al Ghozali | Malang POST

Selasa, 18 Februari 2020 Malang Post

  Mengikuti :


Jumat, 27 Des 2019,

MALANG - Banyak sumber terdahulu untuk bisa menggali inspirasi pembelajaran efektif. Termasuk dari tokoh ulama besar Islam sekaliber Imam Al Ghozali.
Imam kelahiran Ghazalah Thusi ini dikenal sebagai pemikir yang karyanya banyak disitir para ahli pikir. Misalnya konsep pengelompokkan manusia menjadi empat golongan yang menginspirasi Prof. Akhsanul In’am, Ph.D dalam upayanya menemukan model pembelajaran efektif.
Penghayatan In’am atas buah pemikiran Imam Al Ghozali ini digadang mampu memberikan kontribusi signifikan pada peningkatan efektivitas pembelajaran, khususnya Matematika. Buah pemikirannya itu menjadikan In’am dikukuhkan sebagai guru besar bidang pembelajaran Matematika Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). In’am dikukuhkan sebagai guru besar pada hari ini, Sabtu (28/12).
Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al Ghazali ath-Thusi asy-Syafi'i (lahir di Thus; 1058 / 450 H – meninggal di Thus; 1111/14 Jumadil Akhir 505 H; umur 52–53 tahun) adalah seorang filsuf dan teolog muslim Persia, yang dikenal sebagai Algazel di dunia Barat abad Pertengahan.
“Salah satu pemikiran Imam Al Ghozali yang terkenal adalah mengelompokkan manusia menjadi empat golongan,” kata In’am menjelaskan.
Empat golongan yang dimaksud adalah Rojulun Yadri wa Yadri Annahu Yadri (orang yang tahu, dan dia tahu kalau dirinya tahu), Rojulun La Yadri wa Yadri Annahu Laa Yadri (orang yang tidak tahu dan mengetahui bahwa ia tidak tahu),  Rojulun Yadri wa Laa Yadri Annahu Yadri (orang yang tahu, tapi dia tidak tahu kalau dirinya tahu), dan Rojulun La Yadri wa Laa Yadri Annahu Laa Yadri (orang yang tidak tahu dan tidak mengetahui bahwa ia tidak tahu).
“Memperhatikan keempat kelompok manusia tersebut dapat dikatakan bahwa kelompok pertama dan kedua yang dapat ditingkatkan kualitas hubungan vertikal dan horizontal. Mereka termasuk kelompok yang mau menyadari kalau dirinya tahu tentang sesuatu dan juga menyadari mengenai ketidaktahuannya, dalam istilah lain dikatakan dengan metakognitif,” ungkap Direktur Pascasarjana UMM ini.
Metakognitif, disambung suami dari Dra. Siti Hajar, M.Pd ini, mempunyai peran sangat penting dalam kegiatan pembelajaran.
“Seorang peserta didik yang menyadari dirinya sedang belajar, faham dengan yang dipelajari, sadar apa yang belum diketahuinya, dan berpikir tentang sesuatu, merupakan faktor yang sangat berperan terhadap keberhasilan peserta didik dalam melaksanakan kegiatan belajar,” terangnya.
Metakognitif ialah kesadaran untuk mengetahui apa yang diketahui dan yang tidak diketahui, sebagai pemikiran tentang pemikiran, merupakan pengetahuan dan kemampuan seseorang untuk menilai, mengawal dan memantau pemikiran mereka terhadap proses kognitif secara efektif bagi membentuk pembelajaran aktif.
“Dikatakan juga sebagai berpikir tentang berpikir atau belajar bagaimana belajar,” katanya.
Berkenaan dengan pembelajaran, dapat dikatakan bahwa pembelajaran adalah usaha peserta didik mempelajari sesuatu materi sebagai konsekuensi dari pengajaran guru. Pembelajaran merupakan aktivitas guru melaksanakan tugas menyampaikan materi kepada peserta didik sesuai dengan perencanaan yang telah dirancang. Pembelajaran bukan hanya proses menyampaikan ilmu pengetahuan oleh guru kepada peserta didik.
“Namun peran guru adalah mengenal kemampuan dan potensi yang dimilikinya dan berusaha untuk mengembangkannya,” tegas In’am.
Hal ini didasarkan kepada tiga hal: Pertama, peserta didik adalah manusia yang sedang berkembang. Kedua, pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan. Serta ketiga, penemuan baru terkait dengan konsep perubahan perilaku manusia,” terang pria kelahiran Kediri, 10 Agustus 1964 ini.
Memperhatikan hal itu, katanya, terdapat 4 hal yang hendaknya perlu diperhatikan dan diperhitungkan dalam pelaksanaan pembelajaran, yaitu strategi, pendekatan, metode dan prosedur pembelajaran. Keempat hal tersebut mempunyai peran yang sangat berarti untuk membantu peserta didik memahami materi yang dipelajarinya. Juga secara bersama merupakan aspek-aspek dalam pelaksanaan pembelajaran.
Dari hal ini, usaha untuk meningkatkan efektivitas pembelajaran, khususnya matematika, dapat dikemukakan bahwa faktor pertama dan utama adalah guru, baik berkenaan dengan kemampuan penguasaan materi serta penyampaiannya. “Berkaitan dengan penyampaian materi, efektivitas pembelajaran dapat terwujud dengan baik melalui penggunaan pendekatan metakognitif Imam Ghozali,” beber In’am.  
“Yang dalam hal ini dapat dikatakan bahwa metakognitif telah dikemukakan lebih terdahulu oleh al Ghozali sebagaimana diuraikan tadi. Melalui pemikiran al Ghozali, dalam pelaksanaan pembelajaran, khususnya pada bidang pembelajaran Matematika dapat diinisiasi melalui aksi dengan mengimplementasi kelompok pertama dan kedua, sehingga pembelajaran Matematika menjadi kondusif dan efektif,” tandas In’am. (*/adv/oci)

Editor : Rosida
Penulis : mp



Loading...


Honda
mitsubhisi

WEB HOSTING HANDAL

ArdetaMedia

INTERNET STABIL dan MURAH

BestNet
Loading...