Bangun Miniatur Solar Cell di Sekolah Libatkan Siswa untuk Praktik | Malang Post

Jumat, 06 Desember 2019 Malang Post

  Follow Us


Kamis, 14 Nov 2019, dibaca : 657 , bagus, asa

Mengenal Karya Prof. Dr. Yus Mochamad Cholily M.Si
Isu energi terbarukan memang belum digencarkan secara maksimal oleh Indonesia. Padahal di beberapa negara maju, energi terbarukan bahkan masuk dalam kurikulum. Namun di Malang, seorang Guru Besar bidang Ilmu Pendidikan Matematika Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Prof. Dr. Yus Mochamad Cholily M.Si serius mengerjakannya. 
Ketertarikannya dalam isu energi terbarukan mendorongnya melakukan riset di tahun 2014. Risetnya ini telah membuahkan puluhan miniature solar cell. Hingga saat ini kurang lebih dua sekolah negeri di Kota Malang dan beberapa sekolah di luar Kota Malang sudah memanfaatkannya. 
“Kalau di Kota Malang miniatur sudah dikerjasamakan dengan SMP Sabilillah dan SMPN 14 Malang. Dan sebagian lagi digunakan juga di beberapa sekolah di luar kota seperti di Jogjakarta dan Semarang,” urai Prof. Yus, panggilan akrabnya kepada Malang Post. 
Lantas apa itu Miniature Solar Cell? perangkat ini adalah sebuah prototype solar cell. Alat ini bisa menjelaskan bagaimana cara kerja solar cell dalam menangkap energi matahari. Hingga energi itu isa dimanfaatkan lebih untuk berbagai kebutuhan. 
Yang dibuatnya ini adalah perangkat yang dilengkapi dinamo dan lampu. Jadi siswa-siswi dapat langsung mempraktikkan sendiri bagaimana solar cell bekerja. 
“Jadi saat pelajaran soal energi. Mereka bisa langsung memakai miniature solar cell ini sebagai media pembelajaran. Ditaruh saja di bawah sinar matahari, maka dinamo akan langsung bergerak. Siswa langsung melihat prosesnya,” terangnya.
Paling tidak, solar cell yang selama ini merupakan perangkat berat, berukuran besar dan mahal dapat “dikecilkan” sedikit dan menjadi media pembelajaran. Harapannya anak-anak dapat belajar darisitu dan membuat solar cell karya mereka sendiri yang lebih baik dengan kreasi sendiri. 
Membuat perangkat ini menurut Prof. Yus juga menguras pikirannya. Saat melakukan riset ini sejak 2014 lalu ia sempat hendak berhenti dan menyerah. Karena penelitian dan risetnya ini mengalami kendala dalam laporan keuangan. 
Karena riset tersebut dibiayai oleh Kemristek Dikti sejak 2014, mekanisme laporannya harus terus disetorkan untuk memenuhi ketentuan yang sudah dikeluarkan. Namun ternyata laporan keuangan tersebut cukup sulit untuk diselesaikan oleh Prof. Yus bersama dengan tim risetnya. Sampai ketika ia semangat lagi ketika berkunjung ke Jepang untuk melakukan riset bidang lain. 
"Saat saya ke Jepang saya melakukan riset lain soal energi terbarukan. Nah di sana saya diberi tahu kalau di Jepang saat ini sedang gencar mengembangkan teknologi energi terbarukan,” jelas ayah tiga anak ini.
Di Jepang warga dan para ahlinya sedang gencar mengembangkan riset tentang proyek jangkap panjang yang bertujuan untuk membuat warganya mandiri secara energi khususnya listrik. Minimal, satu keluarga di Jepang bisa menghasilkan listrik sendiri paling tidak untuk penerangan membaca buku.
Saat itu Prof. Yus tersadar bahwa apa yang dilakukan pemerintah Jepang ini adalah hal yang juga dilakukan dengan risetnya sejak 2014 lalu. 
“Dari itu saya tergugah lagi untuk tidak menyerah dan kembali melanjutkan proyek Solar Cell saya. Itu sejak awal menjadi tujuan kami, ternyata di Jepang juga sudah melakukan itu,” tuturnya. 
Lantas mengapa Prof. Yus kemudian mengedepankan pada pendidikan berbasis energi terbarukan? Semua berawal dari tantangan penelitian terkait isu energi dari kampus. Guru Besar bidang Ilmu Pendidikan Matematika Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ini menggagas riset optimalisasi energi surya sebagai bagian dari energi terbarukan. 
Ia kemudian membuat kurikulum energi terbarukan dan miniatur solar cell sebagai media pembelajaran berkelanjutan di sekolah. Ia berpikir generasi pelajar inilah yang harus ditanamkan pemikiran bahwa energi terbarukan adalah masa depan. 
“Dan Miniature Solar Cell adalah salah satu cara paling efektif dalam menerapkan energi terbarukan dalam dunia pendidikan,” tegasnya.
Sebab masyarakat Indonesia sejauh ini masih cenderung terpaku pada energi yang umum digunakan seperti Bahan Bakar Minyak (BBM), gas dan batu bara. Padahal, energi tersebut suatu saat dipastikan akan habis, karena jumlahnya yang terbatas. Sedang manusia menggunakan energi tersebut secara terus menerus. 
Kemudian di sisi lain, sebenarnya banyak energi terbarukan disekitar manusia yang sangat melimpah, namun belum dimanfaatkan secara optimal. Seperti halnya sinar matahari, angin hingga gelombang dan arus air.
"Waktu ke Jepang (saat melakukan riset,red) saya diledek, karena saya berasal dari negara tropis yang melimpah akan sinar matahari hampir sepanjang tahun. Tapi kenapa tidak memanfaatkan itu sebagai energi terbarukan," papar pria yang juga Direktur Direktorat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (DPPM) UMM ini.
Apa yang dilakukannya ke depan lagi? Untuk tahun 2020, ia berencana untuk menggagas kelas mandiri energi. Ia akan mengajak sekolah untuk memiliki satu ruang kelas khusus yang memiliki energi mandiri lewat solar cell. Kelas tersebut nantinya akan digunakan sekaligus untuk pembelajaran energi terbarukan pagi para siswa.
"Satu kelas saja yang memiliki energi mandiri, awalnya diperkirakan membutuhkan anggaran cukup besar. Tapi itu bisa digunakan sepanjang tahun, tidak seperti listrik PLN yang masih iuran setiap bulannya," papar suami dari Meinarni Susilowati.
Estimasi pendirian untuk kelas mandiri energi adalah sekitar Rp. 10 juta. Dana tersebut hanya dikeluarkan pada awal instalasi solar cell, dan dapat digunakan sepanjang tahun.
Mungkin beberapa kali membutuhkan biaya perawatan, atau pergantian accu sekitar dua tahun sekali. Tapi bisa dipastikan melalui energi solar cell, kebutuhan energi kelas sudah tercukupi dan tidak membutuhkan pasokan lagi dari PLN.
"Kalau kita hitung-hitungan, menggunakan solar cell ini hanya besar biaya di awal. Kita gagas digunakan di kelas karena penggunaan listrik optimalnya siang. Jadi cocok dengan energi solar cell ini, yang optimal di siang hari," pungkasnya.(Inasa Al Islamiyah/ary)



Kamis, 05 Des 2019

Kelola Dua Bisnis di Kepanjen

Loading...