Bangun Jiwa Sosial Lewat Permainan Tradisional | Malang Post

Jumat, 15 November 2019 Malang Post

  Follow Us


Jumat, 08 Nov 2019, dibaca : 348 , rosida, imam

MALANG - Kamis (7/11) kemarin, sejumlah siswa MIN 1 Kota Malang tampak asik bermain di halaman madrasah. Ada yang bermain angkualu, dakon dan engklek. Kegembiraan terlihat dari wajah anak-anak. Meski beberapa permainan tersebut sedikit asing bagi mereka.  
"Senang bisa bermain permainan ini bersama teman-teman. Kalau engklek saya pernah tapi jarang, kalau lainnya belum," ucap Aura Kamila Puteri salah satu siswa.
Meski awalnya terlihat bingung cara memainkannya, berkat bimbingan teman dan beberapa guru akhirnya semuanya bisa menikmati. Satu sama lain saling mendukung agar bisa menyelesaikan permainan dengan baik. "Disinilah nilai sosial yang kami inginkan dari pengenalan permainan tradisional ini, anak-anak membangun berkomunikasi dan saling menguatkan," ucap Waka Kurikulum MIN 1 Kota Malang, Nanang Sukmawan, M.Pd.
Permainan tradisional, merupakan satu dari rangkaian agenda Sehari Belajar Di Luar Kelas MIN 1 Kota Malang. Selama sehari, siswa dan guru melaksanakan kegiatan belajar mengajar di luar kelas.
Siswa yang biasanya membaca buku di kelas, pada hari itu mereka membawa buku-buku yang ada di Sudut Baca setiap kelas untuk dibaca di halaman sekolah. Suasana belajar dan bermain yang berbeda di MIN 1 Kota Malang saat itu.
Nanang mengatakan puncak pembelajaran di luar kelas diakhiri dengan Deklarasi Madrasah Ramah Anak oleh guru dan siswa MIN 1 Kota Malang. Pembelajan diluar kelas dimulai dari menyambut siswa di gebang sekolah, makan bersama, bermain, literasi dan senam. Semuanya dilaksanakan dengan konsep budaya salam, senyum, sapa, sopan dan santun.
“Sebenarnya kita melakukan ini sudah sejak lama, bahkan sebelum adanya perintah deklarasi Sekolah Ramah Anak,” katanya.
Ia memaparkan, isi dari Deklarasi Madarsah Ramah Anak terdiri dari beberapa poin. Yaitu meningkatkan keimanan dan ketakwaan menurut dasar kemanusiaan yang adil dan beradab. Mewujudkan madrasah yang aman, bersih, hijau, inklusif dan nyaman bagi perkembangan peserta didik.
Menghargai hak-hak anak, menjadi motivator, fasilitator, sekaligus sahabat bagi perserta didik. Menciptakan madrasah bebas dari vandalism, kekerasan fisik dan non fisik. Serta menciptakan lingkungan madrasah bebas asap rokok, munuman keras dan napza.
“Intinya madrasah ramah anak, madrasah yang memberikan rasa nyaman dan aman bagi anak, bebas tekanan dan bulying,” pungkasnya. (imm/sir/oci)



Loading...