Bambang Sulistyo Jadikan Limbah Bernilai Tambah - Malang Post

Rabu, 20 November 2019 Malang Post

  Follow Us


Sabtu, 12 Okt 2019, dibaca : 1410 , bagus, kris

Bambang Sulistyo menciptakan limbah komponen jam tangan menjadi sebuah karya seni. Limbah hasil reparasi jam disulap menjadi kerajinan unik bernilai ekonomis dan artistik. Warga Dusun Dadaptulis Dalam RT 1 RW 7, Kelurahan Dadaprejo, Kecamatan Junrejo, Kota Batu ini merangkai suku cadang jam rusak menjadi miniatur motor gede alias Moge yang unik.

Ia merakit miniatur Moge tersebut di kios jasa reparasi jam miliknya komplek pertokoan Pasar Batu. Tanpa peralatan canggih, Bambang sapaan akrabnya merangkai miniatur Moge hanya dengan obeng, lem dan alat seadanya. Jam tangan dari berbagai merek dipreteli. Kemudian di ambil beberapa komponen yang diperlukan. Biasanya yang ia rangkai dari body jam, tali, hingga mesin jam bekas dari berbagai merek.
Dalam sehari ia sanggup membuat miniatur Moge sekitar satu sampai dua Moge. Tergantung dari tingkat kerumitan dan kesulitan pembuatan jam. Untuk satu Moge, Bambang membutuhkan tiga jam tangan rusak untuk dirakit menjadi sebuah karya seni bernilai ekonomis dan artistik .

“Awal mula membuat miniatur Moge usai melihat acara di TV tentang kerajinan miniatur dari sebuah sendok. Dari situ saya terkesan dan mulai berpikir harus bisa mengerjakan miniatur Moge dari komponen jam," urai Bambang kepada Malang Post.
Memang benar, jika seorang memiliki keyakinan dan kemauan apa yang diinginkan bisa didapat. Dan tak butuh waktu lama, alumnus SMA Muhammadiya Batu ini mampu membuat miniatur Moge dari komponen jam rusak.
"Jadi dengan yakin dan ilmu otak atik gatuk sebuah miniatur Moge dari komponen jam rusak mampu saya buat. Hasil pertama memang lucu. Tapi itulah awal saya membuat miniatur Moge disela bekerja sebagai reparasi jam di Pasar Besar Batu," bebernya.
Setelah beberapa karya mampu dibuatnya. Pembeli pertama pun datang. Yakni saat miniatur Moge miliknya dipajang di tempat reparasi jam tangan milikinya ada turis asal Belanda yang tertarik.
"Saat itu akhirnya satu miniatur Moge yang saya dibeli. Harga yang saya tawarkan ketika itu, sekitar lima tahun lalu sekitar Rp 100 ribu," jelas laki-laki kelahiran Batu, 27 Februari 1975 ini.
Tak hanya wisatawan mancanegara. Hingga saat ini kerajinannya mulai dilirik beberapa peminat dan kolektor dalam negeri yang suka dengan miniatur Moge dari bahan dasar bekas. Baik sebagai koleksi, mainan atau sebagai buah tangan.
Hingga saat ini, miniatur yang ia bandrol mulai dari Rp 75 ribu – Rp 150 ribu cukup banyak yang laku. Dari sekitar 50 miniatur Moge yang telah ia garap. Separuhnya sudah terjual. Bahkan ada banyak yang meminjam Moge tersebut untuk dipamerkan dalam kegiatan tingkat desa atau kota.
Bambang menceritakan, apa yang dikerjakannya tersebut juga upaya untuk memanfaatkan limbah bekas yang sulit untuk diuraikan. Lebih dari itu. Selain bernilai artistik limbah bekas itu bernilai ekonomis tinggi.
Bagaimana tidak, yang semula per kilogram limbah jam tangan bekas hanya mampu terjual Rp 2.500. Ketika itu setiap ia jual mencapai 25 Kilogram atau hampir satu karung. Artinya setiap karung komponen jam rusak yang ia jual hanya menghasilkan uang Rp 62.500.
"Nah dari situ juga saya menekuni pekerjaan sampingan membuat miniatur Moge dari komponen jam tangan rusak ini. Selain mampu menghilangkan kejemuan saat pasar sepi, miniatur dari jam tangan rusak ini juga mampu datangkan untung," urainya.
Sementara untuk kendala yang ia alami dalam kerajinan membuat miniatur Moge dari limbah jam tangan adalah pemasaran. Pasalnya tak banyak orang yang tertarik dengan kerajinan dari limbah.
"Tak banyak yang suka. Itu jadi kendala pemasaran. Terus saya juga berharap pemerintah memberi wadah seperti show room bagi warganya yang punya kreativitas bernilai artistik dan ekonomi," harapnya.
Tak hanya miniatur Moge dari komponen jam rusak. Bambang memiliki keahlian untuk membuat miniatur vespa dari kaleng bekas minuman. Serta beragam kerajinan dari limbah plastik seperti hiasan bunga dan kerajinan lainnya.(eri/ary)



Loading...