Baku Tembak Deiyai Papua, Satu Tentara Tewas, Lima Polisi Terluka | Malang Post

Minggu, 15 Desember 2019 Malang Post

  Mengikuti :


Kamis, 29 Agu 2019, dibaca : 785 , bagus, net

PAPUA - Seorang anggota TNI AD, Rabu (28/8) dilaporkan tewas akibat terkena panah dan lima anggota Polri terluka saat bentrok dengan massa yang menggelar demonstrasi di Kabupaten Deiyai, Papua, Rabu (28/8). Anggota TNI yang tewas terkena panah itu diduga bernama Serda Rikson. Jenazahnya segera dievakuasi ke Nabire melalui jalan darat.
 
    
Kapendam XVII Cenderawasih Letkol CPL Eko Daryanto, Rabu petang, membenarkan anggota TNI-AD yang menjadi korban dalam insiden tersebut adalah Serda Rikson.
Ketika ditanya tentang situasi di Deiyai, Kapendam mengaku belum mendapat laporan lengkap, karena kontak senjata masih berlangsung.

Selain menewaskan satu anggota TNI AD, insiden itu juga menyebabkan dua anggota Polri terluka kena panah. Dua personel itu dari Brimob dan Sabhara.

"Sementara satu pucuk senjata api hilang," Letkol Eko.

Kapolda Papua Irjen Pol Rudolf Rodja mengatakan hingga kemarin sore kontak tembak masih berlangsung di Deiyai pasca tewasnya satu anggota TNI AD dan dua anggota Polri yang terluka.
 
    
"Kapolres Paniai dan tim masih kontak tembak," ujar Rudolf  melalui telepon selularnya dari Jayapura.

Ketika ditanya tentang korban lainnya, Kapolda Papua mengaku belum dapat laporan lengkap. Rudolf mengatakan masih berada di Timika.
Terpisah, Mabes Polri mengonfirmasi aksi demonstrasi berujung ricuh, yang menewaskan satu anggota TNI di Deiyai, Papua. Dedi menyebut, demonstrasi tersebut bermula ketika 150 pedemo menuntut Bupati Deiyai ikut menandatangani surat pernyataan keinginan referendum.

Selain itu, lima personel Polri juga dilaporkan terluka. "Satu anggota TNI AD gugur dan ada tambahan lima anggota Polri terluka (akibat) panah," ujar Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri Brigjen (Pol) Dedi Prasetyo ketika ditemui di Hotel Mercure Ancol, Jakarta Utara, Rabu (28/8/2019).

Usai menyampaikan tuntutan, kata Dedi, sempat terjadi negosiasi antara aparat kepolisian dengan 150 warga tersebut. Namun, pada saat proses negosiasi berlangsung, tiba- tiba ribuan masyarakat datang dari berbagai penjuru lokasi dan melakukan penyerangan menggunakan senjata tajam dan panah terhadap aparat di lokasi.


Dalam bentrok tersebut, polisi belum dapat memastikan informasi terkait adanya korban dari masyarakat sipil di lokasi kericuhan.
 
    
"Korban dari masyarakat sipil, itu belum terkonfirmasi kebenarannya, jadi informasi tersebut masih terus akan dicek oleh Polda Papua," Kata Dedi.

Dedi menyebutkan saat ini, aparat kepolisian bersama TNI masih berupaya untuk melakukan pengendalian terhadap massa yang ricuh. Pihak aparat juga mengimbau masyarakat melalui tokoh- tokoh masyarakat kemudian melalui pemda setempat untuk tidak terprovokasi terhadap sekelompok orang yang diduga akan memanfaatkan situasi dengan memicu kericuhan serta tindakan anarkis.
Aparat sempat berhasil melakukan negosiasi. Namun, tiba-tiba massa dalam jumlah yang lebih banyak datang dari segala penjuru sambil membawa senjata tajam. Mereka menyerang aparat, baik TNI maupun Polri yang sedang melakukan pengamanan. Terjadi pula kontak tembak antara aparat dengan kerumunan massa yang baru datang tersebut sehingga menyebabkan seorang personel TNI gugur.

Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko menduga ada provokator yang mengakibatkan seorang anggota TNI AD tewas dan sejumlah anggota Polri terluka saat bentrok dengan massa yang menggelar demonstrasi di Kabupaten Deiyai, Papua, Rabu (28/8).

Anggota TNI yang tewas terkena panah itu diduga bernama Serda Rikson. Jenazahnya segera dievakuasi ke Nabire melalui jalan darat.
 
    
"Ya, memang ada (provokator). Memang ada. Jadi sering saya katakan memang poros gerakan politiknya sedang masif. Sekarang betul-betul sedang masif," ujar Moeldoko di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Rabu (28/8).


Moeldoko mengaku sudah meminta laporan dari Pangdam XVII/Cenderawasih Mayor Jenderal Joppye Onesimus Wayangkau terkait kabar enam orang tertembak di Papua.

Menurut Moeldoko, dari kabar yang dirinya terima, seorang anggota TNI tewas dan dua anggota Polri luka-luka.Namun, kata mantan Panglima TNI itu, dalam pemberitaan Reuters dilaporkan enam masyarakat sipil tewas diberondong oleh aparat keamanan.
 
    
Moeldoko menyebut kebenaran dari laporan yang ditulis media asing itu masih belum jelas sampai saat ini.

"Sementara dari Pangdam tadi, karena Pangdam dengan Panglima TNI baru turun dari pesawat, sementara jawabannya seperti itu. Belum ada laporan," ujarnya.

Moeldoko berkata kondisi Papua yang semakin panas ini tak terlepas dari kegusaran kelompok poros politik dan bersenjata. Ia menyebut kelompok yang memperjuangkan Papua merdeka itu cemas dengan pembangunan yang dilakukan pemerintahan Jokowi di Bumi Cenderawasih.

"Kecemasan yang dihadapi oleh mereka adalah dia tak bisa lagi membohongi rakyat. Dia tidak bisa lagi membohongi dunia luar bahwa Papua itu begini, begini," tuturnya.(cni/ary)



Loading...