Bahasa Indonesia Kita Telah Dijajah - Malang Post

Rabu, 20 November 2019 Malang Post

  Follow Us


Selasa, 15 Okt 2019, dibaca : 2373 , mp, opini

Kota Malang sangat dikenal dengan nama kota Pendidikan. Ya, walaupun pada umumnya juga diketahui masyarakat dengan kota ribuan tempat wisata. Kota ini merupakan tempat berlabuhnya anak rantau dari berbagai kota dan juga warga negara asing. Banyak orang-orang dari berbagai pulau, kota, dan negara singgah ke kota ini hanya untuk merantau mencari pekerjaan dan juga menuntut ilmu.
Di kota ini kita dapat bertemu orang-orang baru yang berasal dari berbeda daerah, etnis, agama, dan bahasa serta sejenisnya. Namun, tetap saja Bhineka Tunggal Ika yaitu walaupun berbeda-beda namun tetap satu jua. Bahasa Indonesialah yang menjadi penyatu dan penyambung masyarakat untuk berkomunikasi dan menyatukan perbedaan-perbedaan yang ada agar saling memahami satu sama lainnya.
Indonesia memang tak jarang dijadikan sebagai tujuan dan pilihan warga negara asing sebagai tempat untuk berwisata dan menuntut ilmu, khususnya di Malang. Banyak warga negara asing yang melancong atau sekadar liburan untuk jalan-jalan dan juga berstatus sebagai pelajar di Indonesia.
Warga negara asing yang bertempat tinggal di Indonesia dikenal dengan sebutan “Bule” yang memiliki makna dalam KBBI yaitu orang yang berkulit putih. Namun kenyataannya kata tersebut mendoktrin perspektif masyarakat Indonesia bahwa bule itu adalah orang asing yang berasal dari luar negeri atau berbeda negara, sehingga baik warga negara asing berkulit putih, sawo matang, kuning langsat, dan hitam, tetap saja akan mendapatkan sebutan “bule” dari masyarakat Indonesia. Hal ini tentu bukan berarti kita juga harus meniru untuk bersikap kebule-bulean.
    Pada kenyataannya di kota Malang yang mayoritas masyarakatnya warga negara asli Indonesia selalu bersikap ke-Inggrisan atau ke-bule-an. Menganggap keren saat menggunakan bahasa asing. Masyarakat Indonesia terkadang berlebihan juga dalam membanggakan bahasa asing itu sendiri dan bersikap rendah diri ketika berbahasa Indonesia misalnya saat melakukan komunikasi dengan orang asing.
Memang pada dasarnya kita perlu menggunakan bahasa asing ketika dibutuhkan tapi bukan berarti kita ikut-ikutan untuk menjadi orang asing di negara tercinta sendiri. Hal ini banyak terjadi di lingkungan sekitar masyarakat, khususnya ketika Bule tersebut ingin membeli sesuatu di sebuah warung pinggir jalan. Bulenya yang datang, memiliki kepentingan ingin membeli, namun orang Indonesia yang gugup, panik, dan direpotkan untuk mentranslate atau menerjemahkan bahasa Indonesia ke dalam bahasa Inggris untuk memulai komunikasi.
Intinya, Yang butuh siapa? Yang repot siapa? Dan ini Negara siapa? Ketika berkaca pada fenomena ini tentunya miris sekali, melihat orang Indonesia yang tidak bangga dan percaya diri dalam menggunakan bahasa Negaranya sendiri.  
Warga negara asing yang tinggal di Indonesia tentunya harus tahu mengenai bahasa Nasional Negara yang ia tempati, khususnya Indonesia. Tentunya secara tidak langsung menuntut mereka untuk belajar menggunakan bahasa Indonesia. Hal ini perlu dilakukan untuk menjunjung dan menghargai bahasa Indonesia.
Selain itu, orang Indonesia tidak perlu malu dan merasa rendah diri ketika menggunakan bahasa Indonesia baik dalam berkomunikasi maupun berinteraksi dengan warga negara asing yang berasal dari negara yang berbeda. Karena, pada dasarnya ketika orang asing memasuki negara lain yang mereka tempat tinggali, maka secara adaptasi mereka akan berupaya belajar mengenai bahasa dan budaya yang ada pada negara yang mereka kunjungi saat itu.
Selain itu, warga negara asing yang tinggal di Indonesia tentunya sangat tertarik untuk mengetahui sekaligus belajar mengenai warisan budaya, kekayaan alam, suku, bahasa, dan sebagainya yang dimiliki oleh Indonesia. Hal ini justru patut dibanggakan oleh masyarakat Indonesia itu sendiri, yang dibuktikan dengan banyaknya warga negara asing yang belajar BIPA (Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing) di beberapa Universitas di Indonesia, khususnya juga ada di kota Malang.
Oleh karena itu, hal ini secara tidak langsung mendeskripsikan bahwa warga negara asing memiliki minat dan ketertarikan tersendiri pada negara Indonesia khususnya dalam belajar, menguasai, dan bahkan menjadi ahli bahasa Indonesia.
Selain permasalahan yang terjadi dalam komunikasi masyarakat mengenai bahasa ke-Inggris-an, disisi lain juga terdapat hal-hal yang menjadi tren di kehidupan masyarakat yang tanpa disadari menjajah bahasa Nasional negara Indonesia.
Jika kalian melihat nama-nama tempat usaha seperti toko, warung, kafe dan resto, hotel, dan lain sebagainya. bahasa apa yang dominan orang-orang gunakan untuk memberi nama tempat usaha tersebut? Seperti nama Bukit Delight, Night Cafe, Kedai Bamboe Cafe, dan lain-lain. Apakah nama-nama tersebut sudah menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan tepat? Tentunya tidak, dalam nama-nama tempat usaha tersebut memiliki campuran bahasa, antara bahasa Inggris, bahasa Indonesia, dan bahasa Gaul.   
Hal demikian secara tidak langsung sudah mendoktrin pikiran-pikiran masyarakat dengan mengganggap bahwa asing itu lebih “WOW” daripada bahasa negara mereka sendiri. Padahal di dalam Undang-Undang Kebahasaan (UU/24/2009), Pasal 36 ayat 3 yang mengatakan “Bahasa Indonesia wajib digunakan untuk nama bangunan atau Gedung, jalan, apartemen atau permukiman, perkantoran, kompleks perdagangan, merek dagang, Lembaga usaha, Lembaga Pendidikan, organisasi yang didirikan atau dimiliki oleh warga negara Indonesia atau badan hukum Indonesia.”
Sebagaimana yang telah dijelaskan tersebut, hal ini membuktikan bahwa keadaan hukum di Indonesia tidak dapat berjalan dengan semestinya yang dapat dilihat dari vakumnya Undang-Undang Kebahasaan yang telah dipaparkan tersebut.
Sebagai warga negara Indonesia seharusnya kita bangga dan menjunjung tinggi bahasa Indonesia seperti ikrar kita dalam sumpah pemuda nomor 3 “Kami Putra dan Putri Indonesia, menjunjung Bahasa persatuan, Bahasa Indonesia”.
Menggunakan bahasa asing boleh-boleh saja, tapi alangkah lebih baiknya jika menghargai, menguasai dan mencintai bahasa negara kita sendiri sebelum menguasai bahasa asing serta melakukan pencegahan terhadap penjajahan bahasa Indonesia yang kini semakin menjadi sebelum ada rasa sesal dikemudian hari.

Oleh: Putri Ambarwati
Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia - Universitas Muhammadiyah Malang

“-Utamakan Bahasa Indonesia, Lestarikan Bahasa Daerah, dan Kuasai Bahasa Asing-“(*)



Loading...