Bahas Green Economy, FTP UB Libatkan Akademisi Internasional | Malang Post

Sabtu, 14 Desember 2019 Malang Post

  Mengikuti :


Senin, 26 Agu 2019, dibaca : 726 , Rosida, mp

MALANG - Ekonomi konvensional telah mengakibatkan kerusakan lingkungan yang membahayakan kehidupan manusia di bumi. Oleh karenanya, green economy belakangan menjadi bahasan serius oleh masyarakat dunia. Kali ini, para akademisi mancanegara berkumpul pada ajang The 3rd International Conference on Green Agro-Industry and Bioeconomy (ICGAB) 2019 oleh Fakultas Teknologi Pangan (FTP) Universitas Brawijaya (UB), di Ijen Suite Hotel, Senin (26/8).
"Kali ini kita mengikuti perkembangan isu dunia, sekarang semua harus sustain (berkelanjutan). Karena ekonomi konvensional sering kali mengeksploitasi lingkungan, sehingga mengancam kehidupan manusia di masa mendatang " kata Dekan Fakultas Teknologi Pangan (FTP) Universitas Brawijaya (UB) Prof. Dr. Imam Santoso, M.P pada sela-sela sesi konferensi ICGAB tahun ketiga ini.
Konferensi tersebut dihadiri akademisi mancanegara, mulai dari Amerika Serikat, Filipina, Korea Selatan, Thailand, hingga Libya. Mereka akan saling berbagi pengalaman, pengetahuan, dan hasil riset terkait tema tersebut. Selain itu, koferensi semacam ini konsisten diselenggarakan oleh FTP UB untuk terus menumbuhkan iklim akademis di lingkupnya.
"Melalui konferensi internasional semacam ini, harapannya iklim akademik FTP UB semakin baik. Selain itu momen seperti itu jadi kesempatan kita untuk saling bertukar pikiran dan meningkatkan kolaborasi riset akademik," lanjutnya.
Disampaikannya juga, bahkan pada awal dimulainya konferensi sudah terdapat sejumlah rencana-rencana kolaborasi antara FTP UB dengan sejumlah instansi dan akademisi internasional.
"Setelah ini kita bahkan ada rencana kolaborasi dengan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) untuk menyelenggarakan konverensi internasional," imbuhnya.
Namun demikian, Prof. Imam menjelaskan bahwa tujuan utama dari konferensi semacam ini adalah bagaimana keluaran yang dihasilkan. Bisa berupa kolaborasi atau bahkan kerjasama di bidang riset dalam rangka memecahkan persoalan-persoalan yang dihadapi terkait dengan agroindustri dan bioekonomi. Selain itu, ICGAP yang akan diselenggarakan selama tiga hari berturut-turut hingga, (28/8) ini mengusung tema tentang Striving a Green Economy through Innovation Technology in Agroindustry 4.0 Era to Strengthen Sustainable Development atau membangun ekonomi hijau melalui teknologi inovasi di era agroindustri 4.0 untuk nemperkuat pembangunan berkelanjutan.
Lebih lanjut, konferensi tersebut juga melibatkan seluruh akademisi FTP UB yang tak hanya sebagai penyelenggara namun juga sebagai presenter. Setidaknya mereka akan mempresentasikan lima bidang akademik dalam konferensi tersebut, antara lain ialah bioteknologi, ilmu pangan, teknik agrikultur yang mendukung smart agliculture, hingga taknologi pangan.
ICGAB kali ini juga diisi oleh sejumlah pembicara dari berbagai negara, antara lain ialah Prof. Seong Gu Hwang (Hakyong Korea National University, Korea), Prof. Joong-Ho Kwon (Kyungpook National University, Korea), Dr. Julianne H Grose (Brigham Young University, USA), Prof. Kongkiti Phusavat (Kasetsart University), Dr. Hens Saputra (BPPT, Indonesia), Ass.Prof. Phung Kim Le (Ho Chi Minh University of Technology, Vietnam), Dr. Yusuf Hendrawan (Universitas Brawijaya, Indonesia).
Sementara itu, pada kesempatan berbeda, Rektor Prof. Dr. Ir. Nuhfil Hanani, AR, MS, menyampaikan bahwa UB sejauh ini berkomitmen untuk mendukung kegiatan inovasi, penelitian dan pengembangan untuk mencari solusi-solusi dari permasalahan global.
"Kami berpengalaman dalam melakukan kolaborasi secara nasional dan internasional melalui kegiatan penelitian dan pengabdiaan kepada masyarakat, sehingga diharapkan dapat memberikan dampak yang positif bagi masyarakat," jelasnya.
UB, lanjutnya, sangat mendukung terhadap pengembangan dan perluasan agroindustri 4.0 yang ramah lingkungan melalui penyediaan pelatihan, suport teknis dan pendampingan. Namun, kolabarasi dengan berbagai pengambil kebijakan terkait juga sangat diutuhkan untuk menghasilkan dampak inovasi yang lebih baik bagi industri dan masyarakat umum. (mg3/adv/oci)



Loading...