Badai Terjang Kota Batu, 1 Meninggal 1216 Warga Tiga Desa Mengungsi | Malang Post

Jumat, 15 November 2019 Malang Post

  Follow Us


Senin, 21 Okt 2019, dibaca : 2862 , vandri, febri

BATU – Bencana angin kencang porak poranda tiga desa di wilayah utara Kota Batu. Yakni Desa Sumberbrantas, Gunungsari dna Sumbergondo di  Kecamatan Bumiaji, Sabtu (19/10) dan Minggu (20/10) kemarin. Satu orang meninggal dan 1.216 warga mengungsi hingga tadi malam. Rumah dinas wali kota pun dijadikan salah satu tempat pengungsi.
Angin yang bagai badai itu berhembus kencang disertai debu juga mengakibatkan puluhan rumah rusak, beberapa di antaranya rusak berat. Delapan pohon tumbang, sebagian di antaranya menutup jalan raya Batu-Mojokerto lewat Cangar.

Baca Juga : Pembangunan Pasar Sayur Diwarning Tepat Waktu


Warung-warung semi permanen sepanjang Jalan Raya Cangar, Sumberbrantas juga porak poranda, papan reklame pun tumbang. Sedangkan alat komunikasi putus, listrik padam dan saluran air bersih rusak.
Data dari BPBD Kota Batu, korban meninggal yakni  Sodiq, warga Desa Gunungsari Kecamatan Bumiaji. Dia meninggal setelah tertimpa pohon dalam bencana alam di wilayah utara Kota Batu tersebut. ‘’Kami terus berupaya mengevakuasi warga agar mengungsi ke tempat aman,’’ ungkap Kasi Kedaruratan dan Logistik BPBD Kota Batu, Achmad Choirur Rochim.
Diperoleh keterangan, angin berhembus kencang pada Sabtu (19/10) malam. BPBD dan petugas gabungan langsung meluncur ke lokasi malam itu juga. Hanya saja, mereka belum bisa melakukan penanganan malam itu karena suasana gelap ditambah angin yang masih berhembus kencang. Petugas gabungan kemudian melakukan evakuasi pohon dan kerusakan lainnya, siang kemarin.
Menurutnya, angin juga sesekali berhembus kencang siang kemarin. Kondisi itu mengakibatkan pandangan sangat terbatas karena angin membawa debu. Sore dan tadi malam, angin terus berhembus kencang  sehingga petugas memutuskan evakuasi warga Sumberbrantas.
Ada beberapa titik tempat pengungsian warga Sumberbrantas. Titik-titik itu mulai Posko BPBD di Jalan Raya Punten, Balai Desa Punten, Balai Desa Tulungrejo hingga Rumah Dinas Wali Kota Batu di Jalan Panglima Sudirman. Evakuasi dilakukan secara bertahap menggunakan ambulans hingga kendaraan BPBD, Tagana,  TNI dan Polri. Hingga semalam pukul 20.18, pengungsi berjumlah 1.216.
Wali Kota Batu, Dewanti Rumpoko langsung mendatangi pengungsi yang berada di Posko BPBD. Dia kemudian meminta, beberapa pengungsi dialihkan ke rumah dinas wali kota di Jalan Panglima Sudirman.
‘’Kasihan anak-anak, ibu dan para lansia. Jadi mereka yang mengungsi di rumah dinas agar kesehatan lebih terjamin. Kalau menetap di posko, tenda kurang, begitu juga dengan tempat tidur dan toilet. Kalau di rumah dinas lebih terjamin untuk anak-anak dan lansia,’’ terang Dewanti Rumpoko kepada Malang Post.
Dia mengatakan, angin kencang yang berhembus di Sumberbrantas merupakan musiman. Biasa berhembus setelah enam bulan sekali, memasuki pancaroba dari kemarau menuju musim penghujan. Namun angin kencang kali ini terparah karena membawa debu dan merusak berbagai fasilitas.
Pihaknya juga meminta akses jalan dari Kota Batu menuju Mojokerto lewat Cangar dan sebaliknya diputus.  Makanya, Pemkot Batu koordinasi dengan Polres Batu lalu  melakukan komunikasi dengan Polres Mojokerto soal penutupan jalan demi menjaga keselamatan pengendara.   
“Kondisi Jalan Raya Sumberbrantas cukup membahayakan untuk dilewati kendaraan karena banyaknya material pohon tumbang. Angin juga berhembus kencang setiap saat. Pak Kapolres juga sudah komunikasi dengan Polres Mojokerto, begitu juga Sekda Kota Batu sudah menjalin komunikasi dengan Sekda Mojokerto,’’ terangnya.
Sementara itu Emilia, pemilik warung kuliner di Desa Sumberbrantas mengaku batal membuka warungnya akibat angin kencang. Kue dan dagangan yang harusnya dijual rusak diterjang angin dan terkena debu. Begitu pun warungnya mengalami rusak parak. Dua anaknya harus mengungsi untuk sementara waktu.
“Sekarang saya kosentrasi bersih-bersih rumah, semua pada kena debu. Saya tidak jualan hari ini karena kue rusak. Peralatan dapur dan meja pada terkena debu, dan sebagian rusak,” kata Emilia.
Menurutnya, kejadian itu terjadi pada pukul 21.00 WIB sampai menjelang subuh. Saat itu listrik langsung padam. Malam itu, Emilia tidak berani keluar karena takut dan memilih menyelamatkan diri bersama anak-anaknya.
Karena banyaknya pengungsi, mereka membutuhkan aneka kebutuhan. Di antaranya
makanan. Sedangkan anak-anak dan lansia juga membutuhkan beragam kebutuhan.Yakni obat-obatan untuk anak seperti minyak telon dibutuhkan selama pengungsian. Begitu juga dengan diapers dan kebutuhan lain.
Sementara petugas gabungan melakukan evakuasi beberapa warga ke RS Karsa Husada dan RS Baptis dalam kejadian bencana ini. “Ada warga yang memang sudah sakit. Ada juga yang sesak napas karena menghirup debu terlalu banyak dalam kejadian ini sehingga mereka memerlukan perawatan lebih intensif di RS,’’ terang salah satu petugas.
Dari pantauan Malang Post, petugas medis juga siaga di tempat pengungsian, khususnya rumah dinas wali kota. Setiap warga Sumberbrantas yang masuk mendapatkan perawatan. Apalagi jika mereka memiliki keluhan tentang kesehatan di pengungsian.
Kejadian itu juga mengundang simpati berbagai pihak. Misalnya beberapa hotel di Kota Batu langsung mengirim selimut dan matras ke lokasi pengungsian. Fasilitas itu langsung dikirim hotel-hotel ke lokasi pengungsian. (feb/van)  



Loading...