Malang Post - Awasi Penyemprotan Disinfektan, Ketua RT Bareng Meninggal Dunia

Jumat, 03 April 2020

  Mengikuti :


Awasi Penyemprotan Disinfektan, Ketua RT Bareng Meninggal Dunia

Rabu, 25 Mar 2020

MALANG - Ketua RT 5, RW 3 Kelurahan Bareng, Budi Selo Atmojo mendadak meninggal dunia saat mengawasi penyemprotan disinfektan di wilayahnya. Setelah peristiwa itu, siapa saja yang ikut penyemprotan wajib cek kondisi kesehatan.


Budi Selo Atmojo, 62 tahun, diduga terkena serangan jantung saat mengikuti penyemprotan disinfektan di kampungnya, Rabu (25/3). Ketua RW 3, Yuni Hartono menjelaskan, kegiatan penyemprotan dimulai sekitar pukul 07.30 WIB. Ia mengikuti kegiatan mencegah penyebaran virus corona itu bersama rekan lainnya.
"Penyemprotan ini diberikan oleh pihak kelurahan. Beliau meminta kalau kampungnya didahulukan. Agar kegiatan warga bisa berjalan secara efektif," jelas Yuni. Selama penyemprotan berlangsung, lanjut dia, korban berjalan kaki. Saat itu tidak ada masalah apapun. Satu jam kemudian, korban tiba-tiba pingsan setelah sempat foto bersama.


Warga langsung membawa korban menuju Rumah Sakit Hermina untuk mendapatkan perawatan. Namun ia meninggal dunia ketika dalam perjalanan ke rumah sakit. "Berdasarkan diagnosa dari rumah sakit, almarhum meninggal dunia karena sakit jantung," jelas dia.


Hal tersebut diperkuat dengan pernyataan anak korban yang membenarkan bahwa sang ayah memang memiliki riwayat penyakit jantung. "Selain itu, anaknya bilang, sebelum kegiatan, ayahnya tidak sempat sarapan dan minum obat," lanjut Yuni.


Kejadian ini langsung disikapi Satgas Pencegahan Covid-19. Warga diminta  memanfaatkan Satgas gugus kelurahan hingga kecamatan untuk antisipasi pencegahan penyebaran COVID-19.  Hal ini ditegaskan Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Kota Malang, dr Husnul Muarif.
 “Itulah mengapa kita ada gugus-gugus satgas pencegahan Covid-19 di tiap kecamatan dan kelurahan. Di sana bisa digunakan untuk cek kesehatan awal dengan koordinasi puskesmas setempat,” jelas Husnul saat dikonfirmasi.


Ia menjelaskan, satgas di kecamatan dan kelurahan juga diimbau untuk paling tidak memberitahu puskesmas setempat jika hendak melakukan penyemprotan disinfektan secara mandiri. Guna mengetahui kiat hingga aturan melakukan penyemprotan dengan baik.
Termasuk mengontrol siapa saja yang bisa melakukan penyemprotan atau yang tidak dianjurkan melakukan.
“Di beberapa kelurahan kan juga ada kelurahan tangguh. Saya pikir bisa melakukan pemerikasaan awal saja, misal mengecek kondisi kesehatan yang hendak melakukan penyemprotan. Ditanya apa ada riwayat penyakit,” jelasnya.


Dari pemeriksaan awal, pasti dianjurkan siapa yang bisa melakukan penyemprotan dan yang tidak dianjurkan. Jika mereka yang punya riwayat penyakit, seperti jantung, dianjurkan tidak ikut dalam penyemprotan disinfektan. Jika kondisi baik bisa melakukan kegiatan tetapi dibatasi jamnya.
Husnul menyarankan, bagi mereka yang memiliki riwayat jantung, diharapkan tidak mengikuti kegiatan fisik apapun yang menggunakan tenaga ekstra. “Kami imbau warga yang usia dibawah 60 tahun saja dan dalam keadaan fit yang melakukan penyemprotan. Boleh saja yang sudah berumur melakukan hanya tidak seharian hanya satu dua jam saja,” tegasnya.


Ia sangat menyarankan seluruh perangkat wilayah melakukan pemerikasaan awal seperti cek tekanan darah dengan bekerja sama dengan tenaga puskesmas setempat. Yang memang sudah diinstruksikan siaga dalam pencegahan penyebaran virus Corona. (tea/ica/van)

Editor : Vandri Battu
Penulis : Redaksi

  Berita Lainnya





Loading...