Aneh Ada Gergaji Masuk Bui, Ada yang Lalai | Malang Post

Jumat, 24 Januari 2020 Malang Post

  Mengikuti :


Selasa, 10 Des 2019,

MALANG  - Selain memburu empat tersangka yang kabur dari sel tahanan Polresta Malang Kota, polisi sedang getol menyelidiki dari mana mereka mendapatkan gergaji. Aneh jika alat ini berhasil masuk ke sel tahanan. Pelacakan alat pemotong teralis besi ini, bakal melibatkan data pembesuk dari empat tersangka kabur, yaitu Sokip Yulianto, Nur Cholis, Bayu Prasetyo dan Andria alias Ian.
“Kami masih lakukan pendalaman tentang asal dari alat gergaji ini,” kata Kapolresta Makota, AKBP Leonardus Simarmata, kepada wartawan di mako Jalan JA Suprapto, Selasa siang. Data pembesuk empat tersangka selama dua pekan terakhir, bakal didata dan diinventarisir. Mereka yang pernah membesuk para tersangka, akan diinterogasi.

Baca juga :

Jebol Teralis Atap, Empat Tahanan Kerjai Kapolres Baru

Buru Tahanan Kabur, Polresta Malang Terjunkan Tim Khusus


Selain melakukan interogasi terhadap keluarga, teman dan para pembesuk empat tersangka, polisi juga mengamati rekaman CCTV di ruang besuk tahanan. Dari sini, petugas bakal meneliti, di mana terjadi penyelundupan gergaji sehingga bisa sampai masuk ke sel tahanan Sat Tahti Polresta Makota.
Sebab, jika skenario gergaji ini bagian dari rencana besar prison break Polresta Makota, maka hampir bisa dipastikan empat tersangka itu setidaknya memiliki komplotan di luar penjara. Dengan adanya komplotan yang bergerak bebas di luar, rencana kabur tersebut bisa lebih mudah dilakukan oleh empat tahanan tersebut.
Tak hanya memburu para tersangka dan mencari saksi dan keluarga para tersangka, petugas Propam melakukan penyelidikan. Yakni, terhadap petugas yang melakukan tugas jaga piket Senin dini hari kemarin. Mereka adalah Aiptu S, Bripka T dan Brigadir M. Menurut Leo, para petugas jaga sedang dimintai keterangan.
“Penjaga ada, mereka yang melakukan penjagaan masih dalam proses pemeriksaan,” sambung perwira polisi dengan pangkat dua melati emas di pundaknya itu.
Pemeriksaan tersebut akan menentukan pula, kapan alat gergaji untuk memotong teralis besi tersebut terselundup ke dalam tahanan.
Pengecekan kapan alat gergaji ini terselundup, bakal menentukan nasib para petugas yang melakukan penjagaan pada hari tersebut. Sementara, tiga petugas jaga yang sedang dalam proses pemeriksaan, juga diultimatum oleh Kapolresta. Jika sampai kedapatan ada kelalaian, maka sudah ada hukuman internal kepolisian yang menanti.
“Apabila ada ditemukan kelalaian di sana, yang bersangkutan akan kami proses,” tambah mantan Wakapolrestabes Surabaya tersebut.
Selanjutnya, selain memeriksa daftar pembesuk serta para petugas jaga, anggota reserse Polresta juga menginterogasi satu per satu tahanan yang berada di Sat Tahti.
Ada 59 tahanan yang tinggal di sel tahanan Polresta. Empat di antaranya sudah kabur. Sehingga, sangat besar kemungkinan sebagian dari mereka ada yang mengetahui aksi atau tindak kejadian ini. Leo meminta doa agar kasus ini segera terungkap, dan empat tersangka yang kabur bisa ditangkap lagi untuk menerima ganjaran yang lebih berat.
Berdasarkan kasus sebelumnya di Polres Malang, keluarga yang menyembunyikan tahanan kabur atau membantu tahanan kabur, akan dijerat pasal 223 KUHP. Dengan ancaman hukuman dua tahun delapan bulan. Sementara, tahanan yang kabur, andai tertangkap lagi, bakal semakin berat hukuman yang dijatuhkan di pengadilan.
Karena, mereka tidak kooperatif, bahkan kabur dari penjara. Selain itu, ada kajian pasal 138 UU nomor 35 tahun 2009 tentang menghalang-halangi upaya penyidikan tindak pidana narkotika, dengan ancaman hukuman 7 tahun penjara.(fin/ary)

Editor : Bagus
Penulis : Fino





LOWONGAN KERJA

Loker

WEB HOSTING HANDAL

ArdetaMedia

INTERNET STABIL dan MURAH

BestNet
Loading...