Anak Buruh Tani Sukses Pimpin Kapal Perang TNI AL | Malang Post

Kamis, 14 November 2019 Malang Post

  Follow Us


Sabtu, 05 Okt 2019, dibaca : 4353 , parijon, fino

Bagi Letkol Laut Hariono, Komandan KRI Makassar 590 TNI AL, nasib memang tidak bisa ditolak. Dia tak bisa mengontrol dari mana dia harus dilahirkan. Dia lahir dari keluarga sederhana. Namun, pria kelahiran 19 Mei 1977 tersebut tidak pernah merasa menyesal atau rendah diri.
Letnan Kolonel Laut Pelaut Hariono memiliki cerita perjuangan di balik kesuksesannya kini memimpin kapal perang. Karena, prinsip hidup yang diwariskan oleh orang tuanya, terpatri kuat dalam sanubarinya. Hariono bertumbuh menjadi seorang yang optimis, dan meyakini masa depan ditentukan oleh diri sendiri.
Hariono, merasa bersyukur dilahirkan dari ayah buruh tani yang akhirnya menjadi sopir angkot dan ibu buruh cuci. Hariono kecil, tumbuh menjadi lebih dewasa dari anak-anak sebayanya. Dia tak pernah mengeluh ketika harus berangkat sekolah tanpa uang saku.
“Saya lahir dari keluarga yang kurang mampu. Kalau sekolah ya sekolah aja. Berangkat ya berangkat saja, Tidak pernah seperti anak-anak dari keluarga berada, dikasih uang saku. Bagaimana punya uang saku, makan sehari-hari aja susah,” ujar Hariono kepada Malang Post.
Hariono kecil menempuh pendidikan dasar di SD 06 Donomulyo mulai 1984 sampai 1990. Memasuki masa SMP, sekolahnya semakin jauh. Dia harus berjalan 3 kilometer untuk tiba di SMP Negeri 2 Donomulyo. Ketika teman-temannya pergi jajan, Hariono hanya bisa duduk dan melihat.
Kehidupan Hariono kecil dan keluarganya semakin berat, ketika sang ayah, almarhum Purwanto berhenti dari pekerjaan sebagai buruh tani. Sawah yang biasa digarap tiba-tiba dijual oleh pemiliknya. Dengan kondisi yang seperti ini, ibu Hariono, Ramini, ikut membantu meringankan ekonomi keluarga. Dengan cara berjualan jamu, gorengan dan kadang menjadi buruh cuci untuk tetangga. Hariono, ikut membantu meringankan pekerjaan orang tuanya. “Setelah pulang sekolah, kadang bantu bapak ngangkot dengan menjadi kernet. Kadang bantu ibu jualan gorengan di Donomulyo,” tandas alumnus SMAN Pagak itu.
Kakaknya nomor tiga, ikut membantu keluarga dengan cara menjadi loper koran. Setiap hari, keluarga ini terus berjuang agar ada yang bisa dimakan setiap hari. Namun, Hariono ingat betul bahwa dia baru memiliki uang saku ketika memasuki masa SMA.
Itupun karena sekolah tempatnya belajar jauh dari rumah sehingga harus naik angkot. Uang sakunya hanya cukup untuk pulang pergi naik angkot. “Kakak bantu jualan koran, sehingga bisa makan untuk hari itu. Tapi, besok kami masih belum tahu apakah bisa makan,” kenang Hariono.
Sebelum masuk SMA, Hariono tidak bisa melihat ke mana arah masa depannya akan bergerak. Tapi, kedatangan seorang alumnus SMAN Pagak sebagai taruna Akabri Laut (sekarang akademi militer) untuk presentasi, mengubah cara pandang dan cita-citanya. Melihat sosok taruna yang gagah dan akan menjadi calon perwira, Hariono terinspirasi.
Sejak melihat kakak senior itu, Hariono bertekad untuk masuk ke Akabri Laut. Karena, dia ingin secepatnya berhenti merepotkan kedua orangtuanya. Mental nJawani ala Arek Malang asli Donomulyo ini, menjadi bahan bakar semangatnya untuk menuju karir militer.
Setelah lulus, dia mencoba peruntungan dengan mendaftar Akabri Laut. Tahun 1996, dia mengumpulkan berkas, lalu mendaftar Akabri Laut dengan datang ke Depo Bela Negara Rampal. Namun, pada pendaftaran ini, Hariono gagal lulus. Setelah gagal lulus, Hariono mencoba pendaftaran militer tamtama AU di Surabaya dan secaba Kopassus.
Semua upayanya ini gagal. Tapi, Hariono tak menyurutkan niatnya untuk menjadi prajurit. Dia membidik pendaftaran Akabri Laut tahun 1997. Di sela-sela mempersiapkan diri, Hariono mencoba melamar pekerjaan sebagai office boy maupun kasir toko.
Tapi, lamarannya ditolak. Penolakan dan kegagalan adalah makanan rutin Hariono pada masa itu. Hariono mengaku tidak putus asa meski sering gagal. “Saya tidak pernah minder, apalagi rendah diri. Karena, saya meyakini ketika orang lain bisa, seharusnya saya juga bisa,” tambah bapak tiga anak tersebut.
Nasib Hariono muda, akhirnya berubah pada tahun 1997. Setelah belajar banyak dari semua kegagalannya, Hariono mendaftar lagi ke Akabri Laut, dan akhirnya dinyatakan lulus. Sejak inilah, nasib Hariono berubah. Dengan semangat pantang menyerah ala Arek Malang, penggemar mantan pemain Arema Christian ‘El Loco’ Gonzales ini tembus ke Magelang, dan diangkat sebagai taruna. (fin/aim)



Kamis, 14 Nov 2019

Suka Pengalaman Baru

Kamis, 14 Nov 2019

Antara Pendidik dan Penyanyi

Loading...