Akibat Sampah dan Minimnya Resapan Air

Minggu, 20 Oktober 2019

Minggu, 06 Okt 2019, dibaca : 291 , vandri, asa

PAKAR pengairan yang juga Rektor Intitut Teknologi Nasional (ITN) Malang Dr. Ir. Kustamar, M.Pd mengatakan, penyebab banjir di Kota Malang disebabkan ulah manusia. Penghuni kota tak mengelola lingkungannya dengan baik.
Menurutnya, banjir di Kota Malang secara umum disebabkan oleh lima faktor utama. Mulai dari kurangnya kawasan resapan air, hingga alih fungsi lahan irigasi persawahan tengah kota.
"Utamanya yang terjadi di Kota Malang itu karena banyaknya sampah yang menyumbat saluran air. Sehingga drainase menyempit dan tidak bisa menampung air hujan secara maksimal. Lalu juga cukup banyak ditemui warga yang membangun di kawasan sempadan sungai," terangnya pada Malang Post.
Menurut Rektor ITN Malang ini, bangunan disekitar sempadan sungai memberikan pengaruh besar terhadap aliran sungai, sehingga tidak berfungsi optimal. Kemudian faktor yang lebih besar ialah sampah dalam skala banyak yang menyumbat aliran sungai, gorong-gorong dan juga saluran drainase.
Persoalan selama ini, sampah yang dibuang ke sungai bukan hanya sampah ringan. Namun juga sampah berat seperti limbah kayu hingga perlengkapan rumah tangga. "Kalau lihat beberapa salurannya sebenarnya masih cukup, tapi banyak sampah di situ. Jadi menurut saya untuk menanggulangi banjir yang utama adalah membersihkan sampah dan sedimen yang ada di drainase,” lanjutnya.
Ditambahkannya, potensi banjir di Kota Malang diperparah dengan minimnya kawasan resapan air. Banyak bangunan yang menutup akses air untuk terserap langsung ke dalam tanah. Umumnya, lahan terbuka di sekitar bangunan tertutup dengan semen yang mengakibatkan air langsung masuk ke saluran drainase yang ukurannya tak sebanding dengan limpahan air hujan. Sehingga air meluap dan menyebabkan banjir.
Selain sejumlah faktor tersebut, penyebab banjir yang cukup krusial di Kota Malang ialah alih irigasi dan sawah yang kemudian dibangun sebagai kawasan perumahan. Seperti di kawasan sekitar Jalan Soekarno Hatta, di bagian sebelah barat dulunya merupakan lahan persawahan dengan saluran irigasi yang memiliki posisi lebih tinggi. Namun kemudian beralih fungsi, dan tak memiliki kawasan resapan air yang memadai.
"Dulunya sekitar situ (sekitar Jalan Soekarno Hatta) sawah, saluran irigasi. Sekarang dibangun perumahan, tapi tidak dilengkapi dengan saluran air yang tepat dan memadai. Ya akhirnya, air langsung mengalir ke jalan. Makanya di situ langganan banjir," ungkapnya.
Oleh karenanya ia menambahkan, bahwa seharunya pihak berwenang membangun kawasan resapan air yang memadai. Atau paling tidak memberi biopori pada tiap-tiap lahan  terbuka, agar air dapat terserap lebih baik ke dalam tanah.
Sementara itu, pakar kebencanaan ITN Dr. Ir. Agustina Nurul Hidayati, M.T, IAP membenarkan bahwa salah satu faktor krusial penyebab banjir di Kota Malang adalah kurangnya kawasan resapan air ke dalam tanah. Padahal sudah terdapat undang-undang yang mengatur hal tersebut. Yakni UU 26 tahun 2007, yang menyebut bahwa setiap kawasan harus memiliki resapan air setidaknya 30 persen.
"Supaya tidak banjir itu sudah ada ketentuannya pada UU 26 tahun 2007, bahwa harus ada 30 persen kawasan resapan air. Terdiri dari 20 persen kawasan publik, dan 10 persen kawasan privat. Itu pun sanksinya sebenarnya juga cukup berat, mulai dari kurungan dan denda hingga Rp 2 miliar,” paparnya.
Nurul, sapaan akrab Agustina Nurul Hidayati menambahkan, penyebab umum terjadinya banjir di Kota Malang memang disebabkan oleh keteledoran penduduknya. Serta tata kelola bangunan kota yang tak berlandas pada ketentuan yang sudah berlaku. Padahal jika dilihat konturnya, Kota Malang memiliki tipikal berbukit yang seharusnya tak terlalu rentan dengan banjir.
"Banjir Kota Malang dominan karena keteledoran orangnya, kemudian juga karena kebiasaan penggunaan sampah plastik yang berlebihan. Tapi sekarang dari pemkot juga sudah bagus, dengan mengeluarkan kebijakan untuk meminimalisir penggunaan plastik oleh masyarakat," tandasnya.(asa/van)



Minggu, 06 Okt 2019

Menunggu Bukti Atasi Banjir

Loading...