MalangPost - 9 Jam di Lab Tahan Haus Tanpa ke Toilet

Senin, 06 Juli 2020

  Mengikuti :


9 Jam di Lab Tahan Haus Tanpa ke Toilet

Jumat, 29 Mei 2020, Dibaca : 3480 Kali

PEKERJAANNYA berurusan langsung dengan Covid-19. Syarat amannya wajib kenakan Alat Pelindung Diri (APD). Karena pakai APD, maka harus menahan diri tak makan minum hingga tak boleh ke toilet selama sembilan jam. Bagi mereka, tugas memeriksa Swab pasien Covid-19 sangat penting.


   Baca juga : Kerja Cepat Hasil Akurat

 

Begitulah hari-hari dr. Andrew William Tulle, MSc, Tim Persiapan Lab PCR Covid-19 Rumah Sakit Universitas Brawijaya (RSUB). Tapi ia melakoninya dengan setia dan bersemangat di laboratorium  untuk Swab Test yang beroperasi sejak 11 Mei lalu itu.


Sekali masuk laboratorium, dr. Andrew hanya fokus berurusan dengan coronavirus disease. Bagi dr. Andrew, bekerja di Lab PCR RSUB sangat mengesankan walau harus masuk labortaorium  mulai pukul 07.30 secara nonstop sampai sore. Bahkan pernah hingga malam.
“Selama bekerja kami harus menahan segala-galanya. Menahan lapar, haus dan keinginan untuk ke kamar kecil juga ditahan sampai selesai. Ini dilakukan karena kalau keluar dari lab, kami harus melakukan proses dekontaminasi. Selain itu melepas semua APD serta membersihkan diri,” papar dr. Andrew kepada Malang Post.


Bertahan tidak keluar dari laboratorium sebelum proses pemeriksaan Swab selesai dilakukan sebagai upaya melakukan efisiensi. Sebab jumlah APD yang terbatas. Menurutnya, lapar dan haus lebih mudah ditahan dibandingkan keinginan untuk ke kamar kecil. Apalagi ruangan laboratorium disetting bersuhu  kurang dari 20 derajat celcius.  


Pria kelahiran Pasuruan 19 Juni 1983 ini mengaku tugas yang dijalankan tersebut memberi kesan tersendiri. Bercampur aduk. Lelah, takut tertular Covid-19 dan ada kalanya jengkel terutama saat ada hasil kurang bagus sehingga harus diulang.  
“Tapi ada rasa bahagia. Karena saya ikut berkontribusi di pandemi ini. Juga haru, saya melihat masih ada orang-orang yang peduli dan mensupport kami tim di laboratorium walaupun kami bekerja di belakang layar tidak langsung menangani pasien,” urai ayah dua anak ini.


Dalam Tim Persiapan, dr. Andrew bertugas mendesign laboratorium dan membuat daftar alat-alat serta bahan-bahan yang dibutuhkan untuk melakukan pemeriksaan PCR Covid-19. Sedangkan di Tim Pemeriksaan PCR, ia ikut memproses sample Swab maupun dahak dari pasien yang diduga menderita Covid-19.
Dia juga diminta mengelola logistik laboratorium dan berkoordinasi dengan bagian pengadaan RSUB untuk pengadaan bahan habis pakai serta kebutuhan alat pemeriksaan Covid-19.


Selama menjalankan tugasnya, dr. Andrew juga menjumpai beberapa kesulitan. Terutama berkaitan dengan APD dan bahan habis pakai. Sebab dengan jumlah APD terbatas harus berbagi dengan petugas di luar laboratorium seperti unboxing dan penerima sample.
“Pernah suatu hari baju kerja dan APD di loker tidak mencukupi untuk yang bekerja hari itu.  Jadi kami yang di laboratorium maupun di luar laboratorium  menunggu dikirim dari bagian laundry,” katanya.  “Kemudian bahan habis pakai ada beberapa item sulit didapat sehingga harus menunggu beberapa hari sampai minggu baru tersedia,” ungkap dosen di Departemen Mikrobiologi Klinik  Fakultas Kedokteran (FK) UB.


Tantangan yang dirasakan lulusan Master of Science RMIT University, Melbourne, Australia ini tidak hanya berkaitan dengan tugasnya di Tim Persiapan Lab PCR melainkan juga membagi waktu. Sebab dr. Andrew masih harus melaksanakan tugas dan tanggungjawab sebagai dosen seperti memberi kuliah, membimbing praktikum, membimbing penulisan tugas akhir, menguji dan tugas yang lain.


Meskipun tugas sebagai dosen dilakukan secara daring tetap saja membutuhkan waktu khusus.  Sedangkan tugas di Lab PCR sejak masih mendesign dan melengkapi alat terbilang cukup sibuk. Karena kesibukan inilah tak jarang membuat dr. Andrew dikejar-kejar mahasiswa bimbingan tugas akhir lantaran harus memberikan revisi tugas.  “Selama ini pekerjaan perkuliahan baru bisa saya kerjakan malam,” ujarnya.


Selain itu,  tantangan lainnya adalah membagi waktu untuk keluarga. Ia harus merelakan waktu bersama anak-anak karena berangkat saat mereka masih tidur dan pulang sudah menjelang malam. “Untuk itu harus mampu membagi waktu supaya semua pekerjaan beres serta tetap mempunyai waktu berkualitas dengan anak-anak,” kata dia.


Menurutnya, keseimbangan antara keluarga dan pekerjaan menjadi motivasi tersendiri dalam menjalankan tugasnya. Meskipun sang istri pada awalnya kurang berkenan apabila dr. Andrew bekerja di Lab PCR, apalagi ikut langsung menangani sample, takut tertular dan membawa virusnya ke rumah.
“Saya sampaikan kalau sudah ditugaskan pimpinan dan menjadi kewajiban saya untuk mengerjakan. Saat bekerja memakai APD dan memproses samplenya di dalam Biosafety Cabinet, sehingga selama saya bekerja sesuai prosedur akan relatif aman,” tutup dr. Andrew.


Meski begitu rasa khawatir tertular pasti ada dalam benak dr. Andrew. Apalagi setiap hari selalu kontak dengan sample pasien. Walaupun sample-sample tersebut berada di dalam tabung dan selama bekerja menggunakan APD,  tetapi jika kurang hati-hati masih mungkin terjadi kecelakaan seperti sample tumpah yang berisiko mengkontaminasi dan jika sample tersebut dari pasien positif Covid-19 dapat menyebabkan tertular. (lin/van)

Editor : Vandri Battu
Penulis : Linda Elpariyani