MalangPost - 20 Tahun Rusak Biota Laut, Kini Jadi Pejuang Terumbu Karang

Kamis, 09 Juli 2020

  Mengikuti :

20 Tahun Rusak Biota Laut, Kini Jadi Pejuang Terumbu Karang

Jumat, 05 Jun 2020, Dibaca : 3192 Kali

MALANG - Kehancuran ekosistem biota laut mempengaruhi kehidupan masyarakat nelayan Kondang Merak, Sumbermanjing Wetan, Kabupaten Malang. Eksploitasi dan perusakan terjadi selama 20 tahun. Akibatnya, nelayan Kondang Merak terdesak karena hasil tangkapan semakin sedikit. Sehingga tercetus ide untuk melakukan penyelamatan terumbu karang.

   Baca juga : Jaga Alam, Cak Kandar Dampingi 397 Pokmaswas Pesisir


Transformasi masyarakat nelayan Kondang Merak yang dulunya perusak terumbu karang dan kehidupan laut, dimulai dari kondisi ini. Aral Subagyo, Wakil Ketua Sahabat Alam (Salam) Indonesia, sekaligus nelayan lokal menegaskan, dia hanyalah satu dari sekian warga nelayan yang mulai memahami pentingnya keseimbangan alam laut untuk menjaga kelangsungan mata pencaharian nelayan.
“Tahun 1999, saya datang ke Kondang Merak dari Lumajang, saat saya masih SMP, ikut orangtua. Dulu, Kondang Merak masih perawan dan potensinya sangat besar. Kami pun datang dan mulai memancing ikan, tapi dengan cara yang merusak,” ujar Bagyo, sapaan akrabnya kepada Malang Post.


Pria 35 tahun itu menerangkan, metode berburu tanpa mempedulikan keseimbangan laut, berjalan selama 20 tahun. Dulu, masyarakat nelayan Kondang Merak, memakai bom dan potas secara masif untuk berburu ikan. Akibatnya, terumbu karang rusak. Awalnya, tak ada warga nelayan yang merasa cara ini salah.
Karena, hasil tangkapan meroket dan menjadi pundi penghasilan yang bisa mencukupi kebutuhan para nelayan. “Kami juga berburu penyu, lumba-lumba dan hiu karena harga jual yang mahal. Karapas (kikil) penyu harganya Rp 80 ribu per kilogram, kami buru penyu dengan berat 100 kilogram. Satu kali berburu, bisa dapat sampai 6 penyu,” tandasnya.


Kulit lumba-lumba berharga Rp 50 ribu per kilogram. Sementara, hiu seberat 1,8 ton bisa dihargai sampai Rp 28 juta. Karena cara berburu yang brutal, Bagyo sempat masuk dalam daftar pencarian orang (DPO) dan di-blacklist oleh pemerintah untuk berburu ikan. Perubahan 180 derajat warga nelayan Kondang Merak dan Bagyo, terjadi pada tahun 2010.
“Tahun 2010, mas Andik Syaifudin (Ketua Salam) datang ke kampung nelayan kami. Saat kami menyembelih penyu dan lumba-lumba. Mas Andik sering mengingatkan kami agar tidak merusak, tapi kami tidak peduli. Dia sering sekali datang, dan saya merasa risih sekali dulu,” kenang Bagyo.


Selama dua tahun, warga nelayan Kondang Merak, ‘diganggu’ oleh Andik yang terus mengingatkan agar tidak merusak ekosistem laut. Setelah sempat memusuhi Andik, Bagyo menjadi nelayan pertama yang mulai membuka hati untuk berubah. Perubahan ini, diawali dari semakin sulitnya nelayan berburu ikan.
“Kami mengalami kesulitan mencari ikan, satu kali layar kadang hanya cukup untuk operasional, kadang minus,” tambahnya.


Bapak dua anak itu mulai berpikir bahwa dia ingin berubah dari nelayan perusak, menjadi nelayan yang bermimpi membangun dan memajukan Kondang Merak. Namun, Bagyo mengakui bahwa saat itu dia tidak tahu cara mewujudkan mimpinya. Sejak muda, dia hanya mempelajari cara destruktif dalam menangkap ikan. Akhirnya, Andik mendatangi Bagyo pada tahun 2012, untuk mengobrol. Bagyo pun curhat, tentang kesulitan nelayan berburu ikan.
“Saat itu, saya ngobrol dengan Mas Andik secara mendalam, dan menyatakan mimpi saya untuk membangun Kondang Merak. Mas Andik, akhirnya membagikan cara untuk menjadi nelayan yang ramah lingkungan. Dari situ, Komunitas Sahabat Alam Indonesia berdiri,” terang Bagyo.


Pada Maret 2012, warga nelayan Kondang Merak mulai bertransformasi menjadi pejuang lingkungan. Langkah awalnya adalah pencangkokan terumbu karang yang rusak akibat perburuan destruktif selama 20 tahun terakhir. Selama 5 tahun pertama, para nelayan Kondang Merak aktif dalam mentransplantasi terumbu karang.
“Pemulihan mulai terlihat sejak beberapa tahun terakhir. Titik-titik yang rusak dan sepi ikan, kini mulai hidup dan pulih. Kami mulai bisa mengandalkan titik tersebut untuk menangkap ikan. Kebiasaan berburu dengan cara bom atau potas ditinggalkan,” paparnya bahagia. Warga nelayan Kondang Merak, sekarang menjadi nelayan spesialis ikan karang yang bernilai ekonomi tinggi seperti kerapu dan kakap.


Perubahan dan transformasi nelayan Kondang Merak juga memancing kedatangan akademisi dari berbagai kampus di Malang dan Indonesia untuk penelitian sekaligus pengabdian. Bagyo menyebut, salah satu hal paling berguna yang diterima oleh nelayan dari jejaring akademisi dan pegiat Iptek, adalah aplikasi untuk memprediksi gelombang.
“Dengan aplikasi ini, kami bisa memprediksi dengan tepat, kapan gelombang tinggi, kapan gelombang surut, kapan waktu yang tepat memancing. Kami juga berhasil menghindari banjir yang terjadi saat lebaran lalu dengan aplikasi ini,” ujar Bagyo.

 

Dalam momentum peringatan Hari Lingkungan Hidup, Bagyo membagi pesan bagi seluruh nelayan Kondang Merak, maupun para aktivis lingkungan di seluruh Indonesia.
“Jangan lelah, tetap semangat, karena apa yang kita lakukan sekarang, adalah untuk anak cucu kita nanti. Semangat, karena apa yang kita lakukan dan perjuangkan sekarang, pasti ada hikmah dan perlindungan dari Allah SWT,” tutupnya.(fin/aim)

Editor : Muhaimin
Penulis : Fino Yudistira