Connect with us

Hi, what are you looking for?

Nasional

Stigma Negatif Penderita Covid-19 Mulai Turun

dr Lula Kamal, MSc.(Foto: Satgas Penanganan Covid-19)

Jakarta – Mantan Ketua Bidang Komunikasi Publik Satgas Penanganan Covid-19, dr Lula Kamal MSc, mengungkapkan, awal Covid-19 stigma negatif terhadap dokter dan tenaga kesehatan (makes) di masyarakat sangat besar. Banyak masyarakat yang tidak bersedia menerima dokter, nakes maupun penderita Covid-19. Mereka seolah dikucilkan.

Bahkan, sampai ada dokter yang menangis, begitu ditunjuk menjadi Satgas penanganan Covid-19. Dampak dari stigma negatif Covid-19. Namun, sekarang stigma negatif itu sudah berangsur turun seiring meningkatnya literasi masyarakat terkait Covid-19.

Baca Juga ----------------------------

Menurut dr Lula, awal Covid-19 di Indonesia memang banyak dokter dan nakes yang terpapar Covid-19. Karena, ketika itu kurang persiapan. Meski, Covid-19 di Indonesia muncul belakangan, kita tidak mempersiapkan dengan baik. Seharusnya, saat itu kita belajar dari kejadian di negara-negara lain. Sebab, ketika itu kita punya waktu yang cukup panjang.

“Hal serupa juga terjadi di daerah lain di Indonesia. Semuanya seolah kaget dan kurang persiapan. Padahal, saat itu ada waktu untuk persiapan pencegahan,” jelas Lula dalam Diskusi Publik Dan Peliputan Media secara virtual dengan tema Stigmatisasi Terhadap Penderita Covid-19 dan Tenaga Medis, Bagaimana Mengatasinya, Jumat (23/10).

Dipaparkan dokter yang juga artis kelahiran Jakarta 10 April 1970 ini, banyak dokter dan nakes yang terpapar Covid bukan karena saat menangani pasien. Tetapi, bisa saat mereka berada di ruang istirahat usai menangani pasien. Mereka berkumpul dengan teman-teman dan melepas masker. Mereka lupa kalau ada satu orang pun yang postip akan bisa menularkan.

Juga bisa terpapar di ruang ganti dokter atau nakes. Ruang ganti ini biasanya sempit. Tak berjendela dan ber-AC sangat dingin. Mereka melepas alat pelindung diri (APD) dan masker. Mereka lupa bahwa airbone bisa menularkan virus. “Satu yang positip, jelas akan bisa menular ke yang lain. Ada teman yang sudah sangat hati-hati. Sekian jam tidak melepas APD saat menangani pasien. Namun, begitu di ruang ganti dia melepas APD dan masker. Dia lupa di tempat itu bisa terpapar. Lewat airbone,” papar Lula Kamal. (ekn)        

Click to comment

Leave a Reply

Baca Juga

Malang Raya

Malang Post – Percepatan vaksinasi di Kota Malang terus dilakukan. Sabtu (10/7/2021) pagi, vaksinasi menyasar 300 warga Purwantoro, Blimbing. Bertempat di Puskesmas Cisadea, Jln....

headline

AMEG – Beredar sebuah pesan berantai, mengabarkan kegiatan vaksinasi mandiri di kantor Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) Jawa Timur, Surabaya, mulai Kamis (8/4),...

Malang Raya

Malang – Vaksinasi Covid-19 yang menyasar 50  Ketua RT dan RW di Kel. Purwantoro dan Kel. Blimbing Kota Malang berlangsung Jumat (26/3) pagi. Para...

Kesehatan

Malang – Ketersediaan vaksin, sangat vital dalam menjaga kelancaran program vaksinasi Covid-19. Untuk segera terlepas dari pandemi. Di tengah kondisi perebutan stok vaksin Covid-19,...

Nasional

Solo – Seluruh peserta Piala Menpora 2021 Grup A di Solo, telah difasilitasi oleh Pemkot Solo, untuk melakukan vaksinasi di Pendapa Gede, Balaikota, Selasa...

Malang Raya

Malang – Sebanyak 92 personel Kodim 0833/Kota Malang menjalani vaksinasi Covid-19 dosis ke dua, Selasa (16/3). Penyuntikan vaksin Sinovac ini dilaksanakan di Dinkesyah 05.04.03...

headline

Malang – Hingga Senin (15/3), 25 ribu warga Kota Malang, telah disuntik vaksin Covid-19 produk Sinovac dari China. Data Dinas Kesehatan Kota Malang menyebutkan,...

Kesehatan

Jakarta – Juru Bicara Vaksinasi dari Kementerian Kesehatan, Siti Nadia Tarmizi menegaskan, vaksinasi Covid-19 sejauh ini, hanya memberikan proteksi antibodi, sebesar 65 persen. Artinya,...