Malang Post

Pendidikan


Abah Anton Janji Perbarui Rute Bus Sekolah

Share
Menyambut kegembiraan hari pertama sekolah, Wali Kota Malang, Mohamad Anton menjanjikan pembaruan rute bus sekolah untuk siswa baru. Hal itu diungkapkannya dalam kunjungan kegiatan Masa Orientasi Peserta Didik Baru (MOPDB) SMPN 3 Malang, kemarin (27/7).
Di hadapan seluruh siswa baru, pria yang akrab disapa Abah Anton itu meminta siswa untuk memanfaatkan kembali keberadaan bus sekolah. Bahkan, ia akan mengerahkan dua unit bus yang mangkrak karena tak terpakai.
”Itu ada bus sekolah yang bisa digunakan untuk pulang pergi. Nanti, anak-anak bisa naik bus kalau ke sekolah. Jadi tidak perlu setiap hari diantar,” paparnya kepada siswa baru.
Sebagai realisasi awal, Anton berencana memanggil seluruh kepala sekolah dan kepala dinas untuk memperbarui rute bus sekolah. Tentunya masing-masing sekolah harus mengikutkan siswa baru yang baru saja masuk.
”Nanti kan pihak sekolah mendata lagi alamat-alamat rumah siswa barunya. Data itu nanti dikumpulkan untuk membuat rute bus baru. Lagian juga masih ada dua unit bus yang tidak terpakai. Kan sayang,” tandasnya.
Hal itu diungkapkan Anton karena kekhawatiran siswa baru membawa sepeda motor tanpa Surat Izin Mengemudi (SIM). Karena menurutnya, seluruh siswa baru saat ini tentunya masih belum berumur cukup untuk bisa mendapatkan SIM.
”Daripada nanti maksa naik motor tapi belum ada SIM kan mending naik bus sekolah,” imbuhnya.
Anton juga sempat melontarkan pujian kepada siswa baru yang menyanyikan mars sekolah di akhir kunjungannya. Ia terpukau dengan kecepatan siswa menghafal lirik Mars dalam waktu relatif singkat.
”Masyarakat tidak perlu resah dengan pelaksanaan MOS. Dari sini saja sudah bisa dilihat begitu cerdasnya anak-anak bisa menghafalkan lirik mars padahal baru latihan hanya dalam waktu sebentar saja,” tegasnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan, Dra. Zubaidah, MM., yang ikut serta dalam kunjungan MOPDB di SMA Tugu menjamin pelaksanaan MOPDB kali ini akan berjalan tanpa kekerasan. Bahkan, ia telah mengajak forum OSIS kota Malang untuk ikut memantau.
”Jadi nanti setiap anggota forum OSIS akan melakukan pantauan ke sekolah lain. Kalau memang ada yang terbukti melakukan kekerasan akan diberi sanksi,” ucapnya.
Sanksi akan diberikan berdasarkan kesalahan dari sekolah. Sebelum sanksi dijatuhkan, pihaknya akan melakukan investigasi lebih dulu. (nas/ary)
comments

Wah, Siswa dan Guru Lupa Indonesia Raya

Share
MALANG –Internalisasi budi pekerti sesuai Peraturan Mendikbud Nomor 21 Tahun 2015 tentang Penumbuhan Budi Pekerti, langsung dipraktikkan siswa dan guru, Senin (28/7) kemarin. Namun pada hari pertama masuk sekolah itu, sejumlah sekolah masih belum menerapkan dua hal. Yang terlupa adalah menyanyikan lagu kebangsaan RI, Indonesia Raya dan satu lagu daerah.
Yakni terkait, penanaman nilai kebangsaan dan kebhinnekaan. Kegiatan Wajib yang dilaksanakan sesudah berdoa setiap memulai hari pembelajaran, guru dan peserta didik menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya.
Kemudian sebelum berdoa saat mengakhiri hari pembelajaran, guru dan peserta didik menyanyikan lagu daerah, lagu wajib nasional maupun lagu terkini yang bernuansa patriotik atau cinta tanah air.
Pagi kemarin, sepanjang ruas jalanan dipenuhi pengendara sepeda motor yang mengantarkan anaknya ke sekolah setelah lebih dari sebulan menjalani liburan. Mulai dari busana muslim, seragam putih merah hingga putih biru memenuhi sesaknya ruas jalan.
Titik Lusasi bersama putrinya tampak sumringah datang ke SD Negeri Kauman 1 sekitar pukul 6.30 WIB dari kediamannya di Tidar. Didepan gerbang, seorang guru piket mengenakan batik hitam kombinasi hijau menunggu dengan senyuman. Disampingnya, ada petugas keamanan yang juga ikut mendampingi para siswa kecil mengenakan busana muslim sebab bertepatan dengan momentum halal bihalal.
Titik tak berhenti di luar sekolah. Ia mengantarkan anaknya hingga di depan kelas dan kebetulan bertemu dengan guru pendamping kelas.
”Ya saya sempatkan ngobrol-ngobrol dengan guru. Kebetulan memang sebelumnya saya tau berita soal anjuran pak Anies Baswedan untuk berkomunikasi dengan guru di hari pertama masuk sekolah,” ungkap wanita yang juga menjadi karyawan di RS Saiful Anwar tersebut.
Wanita berjilbab ini mengaku tidak keberatan dengan kebijakan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) itu. Bahkan, secara tegas ia mendukung sebagai alasan untuk saling mengerti antara orang tua dan guru.
”Hal semacam itu memang harus dilakukan agar hubungan orangtua dan guru bisa terkontrol. Selama ini orang tua sering cuek. Jadi kalau ketemu bisa sama-sama saling tau,” ujarnya.
Mengantarkan anak di hari pertama sekolah juga menjadi hal rutin yang dilakukan Titik. ”Tanpa ada kebijakan pun, saya juga akan mengantarkan anak saya ke sekolah. Memang sudah terbiasa begitu,” tegasnya.
Sementara salah seorang guru SDN Kauman 1, Elvi Saidah menyatakan beberapa kebijakan yang dicanangkan oleh Mendikbud baru-baru ini sudah lama menjadi agenda rutin di sekolah. Setiap hari, ada guru piket yang menyapa siswa dan mengajaknya berjabat tangan.
Tak hanya itu. Hampir setiap hari Senin dan hari-hari besar nasional, siswa juga diajak untuk mengikuti upacara bendera. Setiap kali masuk, siswa sudah diajak untuk berdoa dan membaca asmaul husna.
”Bahkan siswa juga diberi waktu untuk membaca surat-surat pendek saat kali pertama masuk kelas,” terangnya.
Termasuk akad antara guru dan orang tua juga telah dilakukan di SDN Kauman 1 dalam bentuk yang lebih legal. Setiap awal semester, orang tua diwajibkan menulis surat pernyataan sebagai sebuah kontrak antara orang tua dan pihak sekolah.
”Biasanya yang mengurusi itu wali kelas dengan orang tua. Bahkan kalau ada agenda, sekolah juga melakukan pemberitahuan kepada orang tua,” tandasnya.
Kendati demikian, masih ada beberapa kebijakan tambahan Mendikbud yang menjadi PR besar SDN Kauman 1 seperti menyanyikan lagu Indonesia Raya di awal pembelajaran serta menyanyikan lagu-lagu daerah di akhir pembelajaran.
”Mungkin dua kebijakan itu ditambah dengan kebijakan membaca buku non pelajaran selama lima belas menit di awal pembelajaran. Untuk sekarang ini memang masih belum dilakukan,” imbuhnya.
Kebijakan penumbuhan budi pekerti itu juga mendapatkan dukungan dari Wali Kota Malang, Mohamad Anton. Terlebih untuk prosesi akad penyerahan siswa dari orangtua dan guru yang menurutnya sangat baik.
”Orang tua memang harus tahu kondisi sekolah. Kalau hari pertama ketemu guru kan jadi tau bagaimana kondisinya. Jadi memang bagus itu ada proses menyerahkan siswa ke guru,” paparnya.
Senada dengan Anton, Kepala Dinas Pendidikan Kota Malang, Dra. Zubaidah, MM., menyatakan pertemuan guru dan orangtua seyogyanya tidak hanya dilakukan di hari pertama saja, namun juga masa-masa seterusnya.
”Tujuannya ya itu untuk menjaga komunikasi antara orangtua dan guru. Tidak hanya MOS tapi juga harus ada waktu lain dimana orangtua dan guru saling bertemu untuk membicarakan masalah pendidikan anak,” tuturnya.
Kendati demikian, juga masih ada orang tua siswa yang hanya mengantarkan anaknya diluaran. Membiarkannya masuk sekolah kemudian pergi meneruskan aktivitas lainnya. Menanggapi hal itu, Zubaidah menilai kebijakan masih belum menyentuh para orangtua secara menyeluruh.
”Jadi wajar saja kalau ada yang belum melaksanakan sesuai perintah Mendikbud. Untuk itu saya berharap masyarakat segera tau dan melaksanakannya karena ini sangat penting untuk pendidikan siswa,” pungkasnya.
comments

Ujian Jalur Mandiri UM Digelar 3 Jam

Share
MALANG – Universitas Negeri Malang (UM) menggelar ujian jalur mandiri, kemarin (27/7/15). Tes digelar dengan berbasis komputer itu berlokasi di 17 ruangan yang tersebar di tujuh fakultas.
Sebagai konsekuensi penggunaan komputer, maka ujian harus diselenggarakan selama tiga sesi dalam sehari. Setiap sesi, setidaknya ada 500 peserta yang melaksanakan ujian. Panitia memberikan waktu pengerjaan selama 3 jam tanpa istirahat.
Muhammad Jauharul Fuady,  ST.  MT.  Koordinator teknis ujian jalur mandiri UM menyebutkan, durasi tiga jam itu digunakan untuk mengerjakan dua macam ujian. Pertama, Tes Kemampuan Dasar (TKD) yang meliputi materi psikotes serta bahasa indonesia dan inggris dalam 75 butir soal.
Setelah selesai, sistem akan secara otomatis menampilkan soal tes sesuai bidang keilmuan yakni saintek ataupun sosial humaniora yang berjumlah 60 butir soal.
“Kalau tes bidang keilmuan IPA ya ada matematika, fisika dan lain-lain. Masing-masing tes diberi waktu 90 menit sehingga jika ditotal jadi 3 jam. Dan itu tidak ada jedanya,” ungkap Jauharul.
Pria yang juga menjabat sebagai Ketua Pusat Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) UM itu menyatakan, alasan pelaksanaan tanpa jeda adalah agar mempercepat proses ujian dan memudahkan pengawas.
”Kalau harus ada istirahat, nanti ketika mau ngerjakan lagi harus aktivasi lagi, log in lagi satu-satu dan itu cukup memakan waktu. Untuk itu kami gabungkan saja agar waktunya lebih efisien,” tegasnya.
Sistem baru ini dinilai lebih efisien dan aman. Soal yang ditampilkan antara satu peserta dengan peserta lain akan secara otomatis teracak. Bahkan, lokasi ujian peserta soshum dan saintek juga diacak oleh panitia.
”Kalau disini peserta saintek, bisa jadi sebelahnya peserta soshum. Kalaupun sama-sama soshum, soalnya juga akan berbeda karena sistem kami menerapkan sistem pure random,” tuturnya.
Aplikasi ujian berbasis komputer ini memang dikembangkan sendiri oleh pihak UM. Bentuknya kurang lebih mirip dengan Ujian Nasional Computer Based Test (CBT) atau Ujian Kompetensi Guru (UKG).
Saat peserta mengerjakan soal, mereka tidak bisa membuka aplikasi lain seperti browser ataupun kalkulator. Peserta hanya perlu mengklik jawaban yang ia anggap benar dengan durasi pengerjaan otomatis dari komputer yang dipakai.
”Waktu pengerjaannya itu bukan berdasarkan jam dinding tapi jam dari aplikasi itu. Jadi ketika komputer mati, waktu otomatis terhenti. Peserta tetap bisa mengerjakan soal sesuai sisa waktu pengerjaan sebelumnya,” ujarnya.
Pertama masuk ruangan, peserta harus lebih dulu melakukan verifiksi data kepada pengawas. Setelah itu, teknisi akan melakukan aktivasi aplikasi dan masing-masing peserta harus log in menggunakan nomor peserta dan nomor identitas.
Dari bentuk soal, konten dan modelnya mirip ujian SBMPTN. Masing-masing soal berisi lima pilihan ganda. Jawaban salah akan dinilai minus 1 dan yang benar dinilai plus empat.
Di hari pertama, masalah teknis yang menghantui adalah seperti koneksi terputus karena kabel tergeser. ”Juga ada beberapa peserta yang masih gagap dengan pengerjaan ujian berbasis komputer. Mereka bingung, ini kok gini, caranya gininya. Tapi ya maklum karena memang sistemnya masih belum,” pungkas Jauharul. (nas/oci)
comments

Mahasiswa 8 Negara Berjualan di Sengkaling

Share
MALANG – 20 mahasiswa asing dari delapan negara yakni Russia, Polandia, Vietnam, China, Taiwan, Belanda, Mesir, dan Maroko sukses berjualan di Sengkaling Food Festival, Sabtu (25/7/15) malam. Sontak, kehadiran para bule ini menjadi magnet tersendiri bagi acara bertajuk Global Village Expo (GVE) tersebut.
Mahasiswa dari setiap negara diberi satu stand khusus untuk menampilkan berbagai makanan dan souvenir khas negara masing-masing. Mereka dilatih untuk bisa menghasilkan uang sebagai wujud pembelajaran kewirausahaan yang telah diajarkan selama satu bulan dibawah naungan Association Internationale des Etudiants en Sciences Economiques et Commerciales (AIESEC) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM).
”Acara ini merupakan salah satu kegiatan nasional bertema EntreVolution (Entrepreneurship Revolution, Red) dibawah naungan AIESEC Indonesia. Mereka telah belajar kewirausahaan di Malang. Nah malam ini adalah praktik dari apa yang telah didapatkan,” ungkap Dian Kresnawan, Ketua proyek EntreVolution 2015.
Tak hanya berjualan, para mahasiswa asing itu juga diwajibkan menampilkan festival budaya masing-masing.. Penampilan budaya itu seperti tari tradisional, tari modern hingga lagu-lagu populer di masing-masing negara.
”GVE merupakan festival budaya yang berbeda dengan festival budaya yang berbeda dengan festival budaya lain karena GVE merupakan festival budaya dengan berbagai negara asing, bukan hanya satu negara saja,” imbuhnya.
Dian menegaskan, selain memberikan hiburan asyik dari mahasiswa asing, agenda ini dilakukan untuk menjaga hubungan yang lebih baik antara Indonesia dengan negara lain.
”Kalau untuk pelaksanaan, GVE ini dilaksanakan sebanyak 2 kali di akhir Juli dan pertengahan Agustus. Kegiatan ini dibuka untuk umum sehingga semua masyarakat dapat berkunjung untuk mengetahui serta belajar menegenai budaya Negara lain,” tandasnya.
Dalam acara itu, hadir pula hadiri beberapa pejabat dari Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Kepala Dinas Koperasi Kota Malang, Ketua Paguyuban UKM Kota Malang, Ketua Komunitas PREMAN SUPER kota Malang dan masih banyak lagi. (nas/oci)
comments

MOS SMPN 3, Siswa Pakai Mahkota Raja

Share
MALANG – Menapaki masa baru di sekolah baru memang sangat ditunggu. Termasuk juga Masa Orientasi Peserta Didik Baru (MOPDB), tiket wajib bagi seluruh siswa untuk bisa menjadi bagian dari sekolah.
Pagi hari, dibeberapa sekolah tampak siswa baru lengkap dengan atribut khas MOPDB. Di SMP Negeri 3 Malang, siswa baru diwajibkan membawa mie instan, buku atau baju bekas di hari pertama. Bukan untuk mempersulit, namun semua bawaan itu untuk digunakan sebagai bahan bakti sosial selepas MOPDB.
”Tadi semua yang dibawa termasuk mie instan dikumpulkan dan ditaruh di ruang OSIS. Nanti selepas MOPDB akan disumbangkan oleh anak OSIS ke panti asuhan,” tandas Sekardini Dityasari, Ketua OSIS SMPN 3 Malang kepada Malang Post, kemarin.
Uniknya, seluruh siswa baru berpakaian seragam merah putih itu dilengkapi dengan mahkota bak ratu dan raja. Atribut itu ditambah dengan tas dan papan nama seukuran dada.
”Sekolah kami kan sudah dipercaya sebagai sekolah favorit. Maka yang bisa masuk tentunya adalah anak-anak favorit. Mahkota ini sebagai simbol raja yang agung dan megah. Sebagai raja, mereka harus punya cita-cita besar dan menjadi sosok pemimpin di masa mendatang,” tutur Rachman Helmi,  SPd, Ketua pelaksana MOPDB di SMPN 3 Malang.
Di SMK Negeri 4 Malang, para siswa yang mengenakan seragam olahraga dengan pita warna dikepala tampak membawa satu balon dengan warna serupa. Mereka masuk ke bangunan megah sekolah sembari menyerahkan balon kepada panitia yang saat itu mengenakan jas almamater dan seragam taruna.
Semua balon dikumpulkan jadi satu sesuai warna. Kebetulan, karena sekolah memiliki enam jurusan, maka ada enam gerombolan balon dengan warna berbeda. Balon warna merah untuk jurusan animasi, kuning untuk jurusan persiapan grafika, hijau untuk jurusan  Teknik Komputer Jaringan (TKJ), putih untuk Rekayasa Perangkat Lunak (RPL), biru untuk jurusan produksi grafika dan orange untuk jurusan multimedia.
”Semua balon ini dikumpulkan dan diberi papan nama sesuai jurusan masing-masing. Nanti setelah apel, balon-balon ini akan dilepas oleh kepala sekolah sebagai pembukaan MOPDB disaksikan langsung oleh siswa baru,” ungkap Hetti Rufaidah, salah satu panitia MOPDB SMKN 4 Malang.
Selepas pembukaan, sejumlah 992 siswa bobol menuju lapangan shampo tak jauh dari sekolah. Mereka telah ditunggu oleh aparat kepolisian untuk menjalani agenda Peraturan Baris berbaris (PBB). (nas/oci)
comments

JPAGE_CURRENT_OF_TOTAL