Please Enable JavaScript!
Mohon Aktifkan Javascript![ Enable JavaScript ]
Malang Post | Pendidikan

Malang Post

Pendidikan


Tak Pede, Nilai 96,66 Pilih Daftar Hari Terakhir

Share
MALANG – Pendaftaran Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) online hari pertama, langsung diserbu pendaftar, kemarin. Sayangnya, tak semua pendaftar langsung mengembalikan formulir pendaftaran pada hari yang sama. Kebanyakan memilih menunggu untuk memantau pergerakan nilai di sekolah idamannya.
Contohnya Vergilia Agam Saputri. Siswi jebolan SMPN 18 Malang itu justru tak tampak sibuk layaknya peserta lain. Bersama sang Ibu, Siti Aminah, Vergilia hanya memandangi laptop dengan tampilan statistik perkembangan pendaftar di website resmi PPDB kota Malang.
Padahal, Vergilia telah mengambil formulir sejak pagi hari. Namun, ia memilih menerapkan strategi wait and see sejak awal.
“Kita mau mantau dulu perkembangan nilai di SMA 4 dan SMA 1 dulu. Karena juga masih bingung mau daftar di SMA 4 atau SMA 1. Kalau saya sendiri lebih condong ke SMA 1. Tapi masih belum mau mengambil keputusan,” ungkap Siti Aminah kepada Malang Post, kemarin (4/7) siang.
Aminah sendiri mengaku lebih menyukai komposisi sekolah dalam rayon I yakni SMAN 1, SMAN 8 dan SMA 9. Menurutnya, jika anaknya tidak bisa lolos di SMAN 1 Malang, masih ada SMAN 8 yang masih masuk dalam kategori sekolah favorit.
”Kalau tidak diterima di SMA 1 bisa turun ke SMA 8. Masih aman lah. Kalau di di rayon dua, tidak lolos di SMA 4 bisa turun di SMA 5 yang cenderung setara kualitasnya. Kalau SMA 3 itu jatuhnya langsung ke SMA 6 yang sangat jauh dari rumah. Rumah saya di daerah Suhat sana,” urai Aminah.
Ia sendiri berencana akan mendaftar pada hari terakhir yakni Selasa (7/7) siang setelah melakukan pantauan nilai para pendaftar. Dari situ, Aminah akan melihat peluang lolos atau tidaknya disesuaikan dengan nilai Vergilia.
”Nilai anak saya kan 88,85. Jika dilihat dari rentang nilai tahun lalu masih bisa masuk di SMA 1. Tapi kan kita juga nggak tahu untuk tahun ini seperti apa. Jadi ya sabar saja lah,” tandasnya.
Hal yang sama juga dilakukan oleh Riza Alia, siswa lulusan SMPN 3 Malang yang meraih nilai rata-rata 89. Bersama sang ayah, Rudianto, Riza tampak memantau perkembangan nilai di SMAN 3 Malang di siang hari.
Aksi wait and see itu dilakukan karena adanya perbedaan keinginan dari Riza dan sang ayah. Kepada Malang Post, Rudi mengaku ingin anaknya bisa masuk di SMAN 3 Malang. Namun, sang anak sendiri sepertinya lebih mantap untuk mendaftar di SMAN 1 Malang.
”Kalau saya ingin ngambil di SMA 3. Tapi anak saya ini katanya lebih mantap ke SMA 1. Karena itu rencananya kami akan terus memantau sampai hari terakhir. Kalaupun di SMA 3 tidak memungkinkan ya nanti pindah ke rayon 1 saja,” tutur pria yang tinggal di wilayah Sawojajar itu.
Hal serupa juga terjadi di SMP Negeri favorit yakni SMPN 3 Malang. Bahkan, sekitar pukul 13.00 WIB, sudah tak tampak lagi aktivitas pendaftaran. Yang ada hanyalah beberapa orang tua yang melihat tayangan perkembangan nilai di sebuah ruang kelas dengan dipantau seorang operator.
Nunuk Yuli, salah seorang wali murid tampak fokus melihat perkembangan nilai dan aktif bertanya soal jumlah pendaftar dan variasi nilai yang sudah masuk. Padahal, anak Nunuk memiliki nilai yang lumayan bagus yakni mencapai 96,66.
”Ya walaupun lumayan bagus, tapi saya tidak mau gegabah. Saya memang bertekad akan mengumpulkan formulir di hari terakhir. Lihat-lihat dulu nilai yang masuk seperti apa,” terangnya.
Aksi semacam itu menurut Wahyu Widiastuti, Ketua Panitia PPDB SMAN 3 Malang merupakan hal yang wajar. Kebanyakan pendaftar memang akan membuat keputusan di hari terakhir setelah melihat adanya peluang bisa lolos di sekolah yang dituju.
”Dari tahun-tahun sebelumnya hari pertama memang cenderung sepi. Pagi tadi lumayan ramai ngambil formulir. Tapi sejauh ini yang mengembalikan baru 94 orang saja,” tandas wanita yang juga menjabat sebagai waka kesiswaan SMAN 3 Malang.
Selama pelaksanaan komputerisasi data hari pertama, panitia PPDB di SMAN 3 Malang masih belum mengalami kendala yang berarti terlebih kaitannya dengan jaringan. Pasalnya, pihak sekolah memang telah mengantisipasi hal tersebut dengan menambah bandwidth khusus jaringan internet yang digunakan panitia.
”Penambahannya berapa itu urusan sarpras. Yang pasti penambahan bandwidth itu telah dilakukan beberapa minggu sebelum pelaksanaan agar jaringan lancar dan tidak lemot,” tegasnya.
Komputerisasi data pendaftar diberi waktu hingga pukul 15.00 WIB. Namun pendaftar telah di stop pada pukul 14.00 WIB.
”Kalau pengumpulan berkas sampai jam 2 siang, kalau entry datanya kita dikasih waktu oleh Dinas pendidikan sampai jam 3 siang,” paparnya.
Sistem entry data itu menurut Wahyu dilakukan dengan pengawasan dari pendaftar. Jadi pihak sekolah menyediakan komputer khusus agar siswa bisa memantau proses entry data untuk menghindari kesalahan.
”Jadi ada dua komputer, yang satu di operator yang entry data, yang satu di komputer yang menghadap ke siswa. Data yang dimasukkan bisa langsung dilihat siswa saat itu juga. Kalau ada salah mereka bisa langsung ngoreksi,” urainya.
Soal komposisi sekolah dalam rayon, Wahyu mengaku itu merupakan kebijakan dari Dinas Pendidikan Kota Malang. Pihak sekolah hanya bertugas sebagai pelaksana saja.(nas/ary)
comments

Gelar Khataman Akbar Hingga Bedah Perpustakaan

Share
MALANG - Lantunan ayat suci menggema dari masjid Sabilillah, sore kemarin. Bacaan-bacaan indah itu meluncur dari bibir para siswa SD Islam Sabilillah yang terlihat duduk berkelompok di dalam masjid. Sedikitnya 400 siswa yang melakukan khataman akbar. Sejak pukul 14.00 WIB, para siswa kelas IV, V dan VI memulai pembacaan Alquran secara berkelompok. Tepat pelaksanaan salat Ashar, khataman pun selesai.
Khataman Akbar adalah salah satu rangkaian kegiatan Pesantren Ramadan Ceria di SD Islam Sabilillah Malang tahun ini. Acara digelar sejak (1-11/7/15) mendatang.
“Selain khataman akbar, setiap harinya anak-anak juga tadarus secara berkelompok dengan bimbingan guru,” ungkap Ketua Panitia Pesantren Ramadan Ceria SDIS Siti Mutmainnah S.Ag.kepada Malang Post.
Setiap harinya, bacaan Ayat Suci Alquran selalu dikumandangkan dari halaman SD Islam Sabilillah Malang. Beberapa siswa duduk di atas panggung kecil di depan gedung sekolah. Tadarus Alquran ini digelar setiap hari selama Ramadan, pembacanya adalah para siswa yang sudah masuk tingkatan Alquran. Di luar Ramadan, kegiatan baca Alquran rutin digelar di sekolah, melalui program Everyday With Alquran.
Keceriaan Ramadan tak hanya terlihat di masjid, tapi juga di dalam kelas. Setiap kelas ada proyek berbeda. Di kelas II, siswa diajak membuat parcel buah untuk orangtuanya. Mereka pun amat senang karena bisa membuat keterampilan yang menarik dan diberikan langsung kepada orang yang mereka kasihi. Ada juga program kolase untuk kelas III dan pembuatan proyek untuk kelas IV. Mereka membuat proyek madding 3D tentang Ramadan. Di kelas V, siswa diajak membuat miniature masjid dari kardus bekas.
Selain itu, ada juga cerita hikmah setiap pagi. Sebelum memulai belajar, para guru akan mendongeng dengan tema sahabat Nabi atau tokoh muslim lainnya.
“Kalau di kelas bawah guru yang bercerita, tapi di kelas atas siswa yang bergantian cerita. Ceritanya bisa tentang sahabat Nabi, hingga Abunawas,” kata dia.
Selain itu, ada juga gelaran bazaar amal siswa SDIS yang hasilnya akan digunakan untuk kegiatan bedah perpustakaan. Ada dua tempat yang akan dikunjungi dalam kegiatan ini.
Sementara itu, Ketua Majelis Orangtua Siswa (MOS) SDIS Dr Mulihati M.Pd. menuturkan, selama Ramadan ini para orangtua juga punya beberapa program. Diantaranya takjil gratis untuk menumbuhkan kepedulian terhadap sesama muslim, bazaar amal dan bedah perpustakaan. Pembagian takjil gratis dilakukan kemarin sore di depan sekolah. Ada sedikitnya 300 paket yang dibagikan oleh siswa bersama perwakilan orangtua.
“Kami juga mengagendakan ngaji bareng untuk memperbaiki bacaan Alquran, rencana akan digelar mulai tanggal 6 Juli bagi orangtua siswa,” pungkasnya. (oci/sir)
comments

Penggemar Games, Dipaksa Gugur

Share
MALANG – Belasan penggemar games, terancam tak bisa masuk ke SMK. Mereka dipaksa gugur dalam seleksi PPDB online SMK Negeri mulai hari ini hingga 7 Juli mendatang. Sebab, sesuai tes penglihatan, belasan siswa laki-laki terindikasi mengalami buta warna parsial.
Tes penglihatan tersebut dilakukan di SMKN 4 Malang. Padahal, dalam ketentuan, SMKN 4 Malang tidak bisa menerima calon siswa yang mengalami buta warna meskipun hanya parsial.
Kepada Malang Post, Maria Tri Rahayu, SE. petugas tes buta warna menyatakan, di hari pertama setidaknya ada 15 siswa yang dinyatakan mengalami buta warna. Jumlah tersebut masih berpotensi untuk terus bertambah. Ia mengindikasikan, penyebab buta warna itu didominasi oleh sebab hobi main game melalui gadget.
”Kebanyakan yang buta warna itu memang suka main game. Karena mungkin matanya terlalu sering digunakan untuk main game, jadi mereka sulit membedakan warna-warna tertentu. Meski sifatnya parsial, tetap sekolah tidak bisa menerima karena terlalu beresiko,” ungkap wanita yang akrab disapa Maria tersebut.
Berbeda dari SMK lainnya, SMKN 4 Malang memilih untuk melakukan tes buta warna sendiri. Siswa yang ingin memilih SMKN 4 Malang sebagai pilihan pertama diwajibkan mengikuti tes fisik dan tes buta warna. Khusus tes buta warna, siswa akan dites langsung oleh para petugas menggunakan belasan kartu yang berisi satuan warna.
Setiap siswa diminta menyebutkan angka dalam satuan warna serta menyebutkan nama warna pada titik yang ditunjuk petugas. Calon siswa yang menderita buta warna cenderung akan kesulitan menentukan warna yang dimaksud.
”Pola alur semacam ini (sambil menunjukkan kartu, Red) akan sulit dideteksi oleh orang yang buta warna. Mereka pasti tidak bisa membedakan ini warna apa. Juga tidak bisa menunjukkan alur warna karena mungkin yang dilihat sama saja,” urainya.
Meski begitu, beberapa siswa yang dinyatakan buta warna tetap bersikukuh untuk melakukan tes sendiri di klinik mata. Hasil tes tersebut digunakan untuk melihat akurasi dari tes yang diselenggarakan pihak sekolah.
Terkait masalah tersebut, Drs. Darmadi, Ketua Panitia PPDB di SMKN 4 Malang menyatakan, pendaftar yang terindikasi buta warna memang tidak bisa mendaftarkan diri di SMKN 4 Malang karena beberapa alasan. Pertama, semua jurusan yang ada di SMKN 4 Malang bersifat keteknikan yang membutuhkan ketelitian mata.
”Umpamanya jurusan teknik komputer dan jaringan. Kalau siswa buta warna, akan kesulitan membedakan warna kabel. Bahaya kan kalau kabel merah disambungkan dengan kabel warna biru. Nah ini yang kami khawatirkan,” tandasnya.
Selain berbahaya, dampak setelah lulus juga akan besar. Siswa akan kesulitan mencari pekerjaan karena buta warna. Kebanyakan industri akan memlih tenaga keteknikan yang bebas buta warna untuk menghindari resiko.
”Kalau industri tidak bisa menerima kan nanti dampaknya di sekolah. Lulusan SMKN 4 ternyata buta warna dan tidak laku didunia kerja kan repot,” imbuhnya.(nas/ary)
 
comments

Ribuan Formulir Disebar ke Sekolah

Share
MALANG POST - Sementara itu, pendaftaran PPDB secara online mulai dibuka hari ini (4/7) pada pukul 8.00 WIB serentak di seluruh SMP, SMA dan SMK Negeri di Kota Malang. Seluruh Kepala Sekolah dari 59 satuan pendidikan telah dikumpulkan kemarin (3/7) untuk pembekalan jelang pelaksanaan PPDB online. Hadir pula para operator dari masing-masing sekolah yang juga melakukan simulasi PPDB online.
”Semua kepala sekolah dan operator diberikan pengarahan tentang tata cara dan langsung simulasi di laptop masing-masing. Alhamdulillah tidak ada masalah di simulasi tadi,” terang Siti Ratnawati, kepala bidang Pendidikan Menengah (Dikmen) Dinas Pendidikan Kota Malang kepada Malang Post, kemarin (3/7) siang.
Wanita yang akrab disapa Ratna itu menyatakan tak ada yang berbeda dari pelaksanaan PPDB online tahun lalu. Perbedaan hanya terletak pada kuota siswa luar kota di jenjang SMK yang mencapai 25 persen.
”Kebanyakan siswa luar kota lebih memilih sekolah di SMK. Kalau siswa dalam kota lebih memilih di SMA. Dengan begitu kuota siswa luar kota jenjang SMK ditambah,” tegas Ratna.
Ratna juga mengaku telah menyebar ribuan formulir untuk seluruh sekolah peserta PPDB online. Formulir tersebut dibagikan sesuai pagu di masing-masing sekolah.
Persiapan PPDB online itu rupanya tampak di SMAN 8 Malang. Saat Malang Post berkunjung ke sekolah tersebut, area doorloop SMAN 6 Malang telah penuh dengan meja pendaftaran lengkap dengan kursi untuk para pendaftar. Ada pula plakcard berisi informasi alur registrasi dan syarat pendaftaran di atas meja.
Naning Wahyuni, SSi., panitia PPDB bagian informasi SMAN 8 Malang menyatakan selain persiapan sarana dan prasarana, panitia juga telah melakukan pemetaan job desc bagi masing-masing panitia. Bahkan, panitia telah membuat panduan khusus bagi internal panitia PPDB.
”Ini memang inisiatif panitia sendiri agar kerja panitia lebih terarah. Tercatat kami sudah melakukan dua kali rapat sebelum pelaksanaan PPDB online,” tuturnya.
Selain itu, pihak sekolah juga telah menerima formulir pendaftaran dari Dinas Pendidikan. ”Formulir sudah ada semua. Sudah siap tinggal melaksanakan saja,” tegasnya.
Untuk memudahkan proses komputerisasi data pendaftar, SMAN 8 Malang juga telah mengerahkan empat operator khusus. (nas/ary)
comments

SMKN 1 Malang Peringati Nuzulul Quran

Share
MALANG – SMKN 1 Malang menggelar acara  Nuzulul Quran ke 17 Ramadhan 1436 H di depan halaman sekolah, kemarin, (4/7/15) malam.
Kegiatan ini, mengusung tema ‘Sucikan hati dengan memperbanyak amalan ibadah di bulan yang penuh keberkahan’. Selain memperingati Nuzulul Quran juga memberikan santunan kepada anak yatim dari Panti Asuha Al Ikhlas, Janti.
Acara diisi dengan tausyiah oleh Bung Kaji Dion, dan dihadiri oleh semua guru, karyawan, dan siswa SMKN 1 Malang, dan 4 perwakilan dari BNN Kota Malang.
Peringatan Nuzulul Quran ini, diawali tadarusan dan hadrah El Fazza dari SMKN 1 Malang, kemudian dilanjutkan ceramah dari pemateri, Sholat magrib berjamaah dan dilanjutkan buka bersama.
H. Dion dalam sambutannya menerangkan, peringatan Nuzulul Quran mengingatkan peristiwa penting untuk mengetahui turunnya Alquran.
“Peristiwa penting ini merupakan wahyu Allah yang pertama kepada nabi Muhammad SAW,” ungkapnya.
Dijelaskannya, kejadian turunnya Alquran ini bertujuan untuk penuntun jalannya umat manusia menuju jalan Allah.
“Pada Zaman itu, nabi kita mempelajari sunah, menghayati, dan mengamalkan Alquran. Meskipun kemajuan teknologi sekarang sangat maju, tapi jangan lupa membaca Alquran,” tegasnya.
Dia menambahkan, antara Alquran dengan Nabi Muhammad SAW adalah sesuatu yang tidak bisa dipisahkan. Karena itu, Nuzulul Quran harusnya dimaknai sebagai upaya untuk kembali mempelajari Alquran dan semua sunah rasul.
Ia juga mewanti-wanti para siswa agar jangan sampai terlibat dengan barang haram seperti narkoba. Kalu bisa jangan pernah bermain dengan narkoba, karena sangat berbahaya untuk masa depan.
“Jika kalian mengenal barang ini maka yang rugi kita sendiri dan orang lain,” paparnya.
Setelah acara ceramah selesai, kemudian semua jamaah yang mengikuti kegiatan ini melaksanakan sholat Magrib secara berjamaah. Setelah itu, dilanjutkan dengan buka bersama anak yatim, guru, karyawan dan semua tamu.
Sementara itu, Kepala SMKN 1 Malang, Retno Utami, M.Pd., mengatakan, acara ini merupakan agenda tahunan rutin yang dilaksanakan setiap bulan Ramadan.
Menurutnya, kegiatan religi ini bertujuan untuk mempererat tali persaudaraan antara siswa dan tidak ada jurang pemisah, guru, karyawan dan semua orang dilingkungan sekitar.
“Oleh karena itu, kita harus saling peduli dengan sesama yang membutuhkan. Apalagi terhadap anak yatim piatu yang doanya sangat barokah,” kata Retno.
Perempuan asal Mojokerto ini menambahkan, selain itu, peringatan ini mengajarkan untuk gemar membaca Alquran, mempertebal iman dan takwa terhadap Allah SWT. (mg12/oci)
comments

JPAGE_CURRENT_OF_TOTAL