RESAH: dr Dian Agung Anggraeny, menunjukkan salah satu soal sadis dalam LKS yang sempat difoto, sebelum akhirnya ditarik oleh pihak sekolah. Dan Dra Hj Sri Arifah, menunjukkan buku LKS yang berisi materi sadis.

MALANG –  Buku Lembar Kerja Siswa (LKS) untuk sekolah dasar (SD), kembali dipermasalahkan oleh wali murid. Beberapa wali siswa kelas IV SD di Kabupaten Malang, protes dengan isi LKS bernama Brilliant tersebut. Pasalnya ada beberapa materi soal yang dianggap sangat sadis.
Dian Agung Anggraeny, salah satu wali murid yang resah dengan buku LKS terbitan PT Kepe Press Media Utama, Nganjuk. Dokter Desa/Kecamatan Sumberpucung ini mengaku ngeri saat membaca materi soal dalam buku Bahasa Indonesia, milik anaknya. Di mana dalam soal pilihan, banyak ditemukan prosa kata yang bertajuk kekerasan.
“Saya baru mengetahuinya semalam (Selasa malam, red), ketika anak mengerjakan PR. Anak saya bertanya harus menjawab apa dengan pertanyaan nomor 7 halaman 19. Setelah saya membacanya, ternyata pertanyaannya sangat mengerikan,” ungkap dr. Dian Agung.
Pada BAB II mengenai penelaahan anak terhadap peristiwa, di halaman 19 ada petunjuk untuk soal nomor 7 dan 8. Bentuk petunjuknya ‘Saya mengetahui berita dari televisi ada seorang wanita membunuh sahabat karibnya. Kepala wanita tersebut dipenggal dan disimpan dalam kaleng. Padahal dia tidak bersalah’.
Dari petunjuk tersebut, pada soal nomor 7, siswa diminta memberi tanggapan yang tepat atas peristiwa itu dengan pilihan jawaban a, b, c dan d. Sedangkan untuk soal nomor 8, siswa diminta pendapat untuk cerita itu.
“Selain soal nomor 7 dan 8, ada juga soal nomor 14 di halaman 20, juga sama sadisnya. Saya saja yang membaca ngeri, bagaimana pertanyaan yang kejam itu disampaikan kepada anak usia 9 – 10 tahun?. Dimana anak dituntut untuk perpikir sesuai imajinasi nalar dan logika, yang tak sepatutnya,” terangnya.
Jika LKS ini tetap dibiarkan, lanjut dia, psikologis anak secara tidak langsung akan tertanam dalam longterm memory tentang bagaimana cara membunuh, menghukum maupun cara membalas dendam ketika disakiti, dengan cara yang sadis. Karenanya, sebagai orangtua, Dian berharap buku LKS tersebut segera ditarik.
“Sebagai orangtua, saya sangat tidak setuju dan menyayangkan. Kenapa soal seperti ini, bisa lolos. Apakah tidak ada tim editornya. Karena jelas ke depan, pertanyaan sadis tersebut akan membentuk karakter anak yang negatif. Lalu bagaimana generasi kelanjutan nantinya,” urainya.
Hal yang sama juga disampaikan A Tohir, salah satu wali murid asal Kecamatan Gondanglegi. Ia juga menemukan pertanyaan yang sama dalam LKS anaknya. “Tidak hanya di Kecamatan Sumberpucung, di tempat sekolah anak saya di Gondanglegi juga sama. Termasuk informasinya juga anak kelas IV SD di Talangagung, Kepanjen, serta sekolah lainnya di Kabupaten Malang,” papar A Tohir, yang dibenarkan Huda, salah satu wali murid kelas IV di salah satu SD Ngebruk, Kecamatan Sumberpucung.
Terkait dengan temuan prosa kata yang sadis tersebut, wali murid sudah menyampaikan kepada Kepala Sekolah. Buku LKS tersebut, langsung ditarik masing-masing UPTD untuk diperiksa dan diteliti ulang.
Dra Hj Sri Arifah, pengamat Buku Bahasa Indonesia, yang merupakan mantan pengawas dan editor buku bahasa  TK – SD Kabupaten Malang, juga membenarkan. Ketika dikonfirmasi, ia mengatakan bahwa pertanyaan dalam buku Bahasa Indonesia tersebut sangat berat untuk anak SD.
“Peninjauan masalah untuk soalnya terlalu tinggi. Soal sadis seperti ini, tingkat SMP saja tidak boleh, apalagi anak SD. Karena jelas pertanyaan dan prosa katanya sangat menyimpang dari psikologi anak. Jiwa perkembangan dan perilaku anak, nantinya akan terbawa oleh pertanyaan itu,” tegas Sri Arifah.
Dia mengakatakan, bahwa pertanyaan yang disuguhkan dalam LKS tersebut sangat kelewat batas. Pembuat naskah dan editor sepertinya tidak teliti. “Buku LKS ini jelas tidak pantas. Saya harap, harus segera ditarik buku LKS tersebut,” ucapnya, sembari menunjukkan LKS kelas IV SD yang dimiliki oleh cucunya.
Kusmantoro Widodo, Ketua Komisi B DPRD Kabupaten Malang, ketika dikonfirmasi mengaku belum tahu persis soal isi LKS itu. Namun jika memang isinya sangat sadis, ia berpikir bahwa ada upaya perubahan pola pikir anak didik menuju kekerasan. Karenanya ia meminta supaya LKS yang sudah beredar tersebut ditarik dan dijauhkan dari siswa SD.
“Anak SD adalah awal pendidikan anak bangsa. Jangan sampai ada upaya perubahan pola pikir anak dengan kekerasan, melalui LKS. Kami minta supaya Dinas Pendidikan Kabupaten Malang, untuk segera tanggap dengan menarik semua LKS tersebut,” urai Widodo.
Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Malang, Ir Budi Iswoyo, mengaku baru mengetahui setelah dikonfirmasi. Namun demikian, dia langsung tanggap berkoordinasi dengan seluruh kepala UPTD untuk memeriksa dan membahas LKS Bahasa Indonesia tersebut. Jika memang pertanyaannya sadis, maka ia berjanji untuk segera menarik.
“Kami akan mengevaluasi, kalau memang LKS tersebut meresahkan dan isinya tidak cocok untuk anak SD. Evaluasi nanti, akan melibatkan pakar pendidikan. Sehingga ada solusi yang baik dan tidak merugikan pihak manapun,” tutur Budi.
Dia menegaskan, jika hasil evaluasi dinyatakan bahwa peristiwa pembunuhan tidak bisa dimasukkan dalam mata pelajaran, maka ia akan langsung memerintahkan untuk menarik semua LKS. “Dari mana LKS tersebut, akan kami evaluasi juga. Karena masalah buku LKS untuk siswa, memang kami serahkan ke masing-masing lembaga sekolah,” paparnya.(agp/han)

Please publish modules in offcanvas position.