Pendidikan

Malang Post

Pendidikan

Kabar terbaru tentang Pendidikan di Malang Raya

SD Plus Al-Kautsar Hasilkan Lulusan Berkarakter

DOA BERSAMA : Siswa kelas VI SD Plus Al-Kautsar foto di depan Masjid Agung Jami Kota Malang usai kegiatan doa bersama menjelang Ujian Sekolah beberapa waktu lalu (SD PLUS AL-KAUTSAR FOR MP)

MALANG – Hari ini akan menjadi hari yang tidak terlupakan bagi siswa kelas VI. Karena, hari ini mereka akan dilepas secara resmi di di Santika Hotel. Siswa lulusan SD Plus Al-Kautsar siap melanjutkan ke pendidikan yang lebih tinggi di jenjang sekolah lanjutan tingkat pertama.
 Kesiapan mereka tentu diimbangi dengan kualitas diri dan kompetensi unggul yang siap bersaing dengan siswa dari sekolah dasar lainnya. Apalagi sejak menginjak kelas VI para siswa SD Plus Al-Kautsar mendapat bimbingan yang lebih inten sebagai persiapan menjelas Ujian Sekolah. Berbagai upaya persiapan dilakukan guru untuk meminimalisir siswa dengan kompetensi yang masih tertinggal.
“Jika upaya ini berhasil maka hasilnya akan mengangkat yang bagus menjadi lebih bagus dan yang kurang bagus menjadi bagus,” ungkap Kepala SD Plus Al-Kautsar, Dhiah Saptorini, SE. M. Pd saat ditemui Malang Post.
Diakui Rini,  tidak ada strategi khusus yang dilakukan untuk meningkatkan kompetensi maupun hasil US siswa kelas VI tahun ini. Apa yang dilakukan tidak jauh berbeda dengan tahun sebelumnya. Namun pada tahun ini guru hanya lebih meningkatkan intensitas komunikasi dengan orangtua. Agar mereka juga ikut terlibat  dalam upaya memaksimalkan hasil US siswa kelas VI.
“Bagaimanapun orang tua tetap kami libatkan. Seperti yang sering kami sampaikan, bahwa pendidikan itu tidak bisa sukses kalau tidak ada kerjasama sekolah dengan orang tua,” imbuhnya.
Di sisi lain, lanjut Rini, hasil US secara otomatis akan berpengaruh pada pandangan sekolah lanjutan terhadap lulusan SD Plus Al-Kautsar. Selama ini respon SMP maupun MTs selalu bagus dalam menerima lulusan Al-Kautsar sebagai siswa baru.
Hal ini tentu karena sebuah kepercayaan akan output yang dihasilkan sekolah di Jalan Simpang Adi Sucipto ini.  Dan kepercayaan tersebut selama ini telah terbayar. Lulusan SD Plus Al-Kautsar selalu tampil dan menunjukkan diri sebagai siswa yang aktif baik dalam organisasi OSIS ataupun di berbagai kegiatan pengembangan diri. Seringkali juga lulusan SD Plus Al-Kautsar meraih berbagai prestasi di sekolah lanjutan mereka.
“Memang demikian yang kami harapkan. Di sekolah lanjutan anak-anak organisasinya bagus dan berprestasi yang juga lebih bagus. Karena memang seperti itu yang diajarkan pada mereka saat masih disini. Siswa yang aktif dalam organisasi Dewan Anak yang ada di Al-Kautsar, juga aktif di OSIS ketika sudah di SMP,” tuturnya.
Menurut Rini, lulusan yang kompetitif dilihat tidak hanya dari prestasi namun juga keterlibatan dan keaktifan dalam organisasi. Dan yag terpenting pendidikan karakter yang selama enam tahun ditanamkan dalam diri siswa terus mengimbangi prestasi mereka sebagai pelajar yang utuh. Berkualitas dalam akademik juga tampil memukau dengan kepribadian yang luhur. “Inilah salah satu andalan kita, yang menjadi tolak ukur kesuskesan guru di tingkat dasar. Karena pendidikan SD itu sangat menentukan. Selama enam tahun mereka dibina dengan pendidikan karakter,” pungkasnya. (imm/sir/aim)

Keren! Malang Juara Umum Guru Berprestasi


MALANG - Senyum lebar Kota Malang kembali terlukis berkat prestasi tenaga pendidiknya. Terhitung ada lima tenaga pendidik dari guru, kepala sekolah dan pengawas yang berhasil meraih juara umum dalam ajang kompetisi guru prestasi tingkat Jawa Timur.
Otomatis Kota Malang mewakili Jawa Timur akan melenggang maju dalam kompetisi guru prestasi tingkat nasional. Adapun para pendidik tersebut adalah Dewi Endah Sari, S.Pd. M.Pd, juara pertama untuk jenjang guru. Di tingkat kepala SMP, juara diraih oleh Anny Yulistyowati, S.Pd. M.Pd dari SMPN 22 Kota Malang. Sedangkan di tingkat SMK, diraih oleh Kepala SMKN 13, Dra. Husnul Chotimah, M.Pd, juara untuk jenjang pengawas didapatkan oleh pengawas jenjang SD, Dr. Ida Yuastutik, M.Pd dan untuk SDLB diraih oleh SDLB Negeri Kedung Kandang, Sunar Sulistyowati, S.Pd.
Kasie Fungsional Dinas Pendidikan Jianto mengatakan, Dindik telah mempersiapkan para guru semenjak dalam perlombaan internal dalam kota. “Setelah itu kami bina untuk maju provinsi, nanti setelah ini juga ada pembinaan dan sharing dari alumni guru prestasi, agar siap maju tingkat nasional,” jelasnya.
Jianto menyebutkan, para guru akan dipantau sebelum melenggang ke ajang nasional. “Tugas mereka ini berat sekali, selain mempersiapkan untuk ajang nasional juga tetap harus menjalankan tugas harian,” tuturnya.
Melalui prestasi mereka, lanjut Jianto, sekaligus membuktikan bahwa para tenaga pendidik dari sekolah pinggiran pun dapat berprestasi. Tidak kalah dengan kepiawaian guru yang mendidik di daerah tengah kota.
“Prestasi ini juga dapat menjadi acuan untuk peserta PPDB, jangan remehkan sekolah pinggiran,” tegasnya. Ia menambahkan, para guru akan mendampatkan pembelajaran dari senior mereka, sekaligus wujud dari pendampingan berjenjang.
Anny Yulistyowati, S.Pd. M.Pd membeberkan, selama proses pelaksanaan lomba guru prestasi, mereka sempat didera rasa lelah luar biasa. Seketika sampai di tempat pelaksanaan lomba, yakni di Hotel Avi Surabaya, mereka langsung menghadapi rentetan test, mulai dari pengecekan portofolio, test psikologi, wawancara hingga mengungkap test portofolio.
“Bahkan, test psikologi dilakukan saat kami sedang lelah,” ujarnya. Wanita yang mengembangkan metode pemberantasan narkoba itu menyatakan, setelah ini para kartini pejuang guru prestasi akan meningkatkan kembali kinerja mereka. Para pendidik juga juga mengolah dan mengembangkan karya-karya yang telah mereka ciptakan agar dapat menjadi juara di jenjang nasional, yang berlangsung 12 hingga 19 Agustus nanti. (nia/han)

Perkuat Kemandirian Dengan Mental Wirausaha


MALANG – Akademi Farmasi Putra Indonesia Malang (AKFAR PIM) mengadakan acara Dies Natalis Ke XIX, Kamis (23/6/16). Acara ini bertemakan Menuju Kedewasaan  dan Kemandirian yang ditujukan untuk mahasiswa. Bertempat di aula Kampus AKFAR PIM, para mahasiswa antusias mengikuti acara.
Acara ini sebagai unjuk kreativitas mahasiswa terkait ide mereka untuk belajar dan dinilai menjadi wirausaha. Lomba menciptakan produk wirausaha pun menjadi ajang kompetisi bagi mahasiswa PIM dalam acara ini.
“Tema ini sengaja diberikan agar mahasiswa bisa mandiri dan dewasa, mandiri dengan mental wirausaha dan dewasa, karena umur lembaga kita juga sudah 19 tahun, usia dewasa,” jelas Ernanin Dyah, S.Si,. M.P, Direktur AKFAR PIM.
Ernanin juga menambahkan, selain sebagai ajang berkompetisi dan ajang kreativitas mahasiswa, acara ini juga dijadikan sebagai ajang silahturahmi bagi warga AKFAR PIM, terutama bagi mahasiswa lintas jurusan.
“Karena kompetisi, akan ada apresiasi, yaitu juara 1,2,dan 3. dengan total hadiah jutaan rupiah,” ungkapnya.
Dies Natalis ini bukan hanya sekadar acara peringatan atau ceremonial, namun juga sebagai ajang mempererat persaudaraan dan silahturahmi, agar bisa saling mengenal satu sama lain, dari lintas angkatan yang ada.
“Kebersamaan juga perlu dipupuk, agar mereka bisa saling belajar dan saling berbagi satu sama lain,” tambahnya.
Dengan adanya kebersamaan, ia meyakini mampu menjadikan mahasiswa AKFAR PIM sebagai mahasiswa yang lebih dewasa sesuai dengan usia kampus yang dipimpinnya ini.
“Karena kalau di Indonesia kan usia 19 itu sudah dewasa,” kata Ernanin sambil tersenyum.
Ia juga berharap dalam usia AKFAR PIM yang ke- 19 ini bisa menjadikan lebih baik lagi, bisa meningkatkan prestasi.
“Dari prestasi yang sudah diraih AKFAR PIM, 10 besar AKU Kopertis VII Kategori akademi, semoga tahun depan bisa menjadi 5 besar,” harapnya.
Ia juga berpesan kepada mahasiswa, untuk berpegang teguh pada tagline AKFAR PIM, yaitu untuk mempercayakan masa depannya di instansi ini.
“Dengan jargon yang kami punyai, The Number One For Your Future tujuannya adalah untuk memotivasi mahasiswa agar yakin, bahwa kami akan mengawal mereka hingga sukses,” tutupnya. (mgb/adv/oci)

Dosen Indonesia Masih Tertidur


MALANG - “Indonesia masih tertidur!” begitu ungkap Dirjen Menristek-Dikti, Prof. dr. Ali Ghufron Mukti, M.Sc., Ph.D saat mengisi kuliah tamu di Universitas Wisnuwardhana, kemarin. Ia mengatakan demikian mengingat masih rendahnya jumlah guru besar yang ada di Indonesia. Sedangkan pergerakan untuk penambahan guru besar cenderung lamban. Oleh karena itu, ia mengumpamakan saat Indonesia saat ini masih tidur.
Ghufron mengatakan, idealnya dalam sebuah negara memiliki minimal satu professor dalam satu program studi. Ia menambahkan, saat ini Indonesia masih memiliki kurang lebih 5 ribu guru besar. Angka yang masih sedikit jika dibandingkan dengan negara-negara tetangga, seperti Malaysia yang memiliki lebih dari 25 ribu guru besar.
Ghufron mengatakan, angka tersebut masih sangat kurang. Padahal, idealnya dalam sebuah negara, satu prodi seharusnya diampu oleh minimal satu professor. Sehingga, kebutuhan dosen guru besar di Indonesia saat ini masih memenuhi seperempat nya saja.
“Ini menjadi tugas semua Perguruan Tinggi (PT) termasuk Wisnuwardhana juga, giat menambah jumlah guru besar karena akan mendongkrak akreditasi institusi,” jelasnya. Selain itu, Ghufron juga menyosialisasikan bahwa tidak seperti lima atau enam tahun lalu, pengajuan menjadi guru besar saat ini masuk dalam masa mudah. “Dosen yang mau mengajukan guru besar sekarang pengajuan hanya dua bulan saja,” jelasnya.
Ia berharap, dengan kemudahan pengajuan bisa membangunkan semangat para dosen untuk bangkit dan mengejar target menjadi guru besar. Namun, meski demikian, dari segi pencapaian kualitas Dikti tetap memberi persyaratan yang sama seperti tahun-tahun sebelumnya, yakni masing-masing dosen wajib membuat jurnal penelitian bersakal internasional.
“Sekarang sedang musim mudah, maka lakukan!” serunya. Ghufron mengimbau agar dosen dengan jabatan lector kepala dapat mengajukan diri menjadi professor dengan birokrasi hanya dua bulan saja. Disinggung soal target, Ghufron mengatakan tidak memiliki target spesifik.
“Lebih pada rasa kewajiban melanjutkan menjadi guru besar pada masing-masing individu, sekarang dosen Indonesia masih tidur, harus dibangunkan dengan mendorong melalui tunjangan guru besar yang tinggi, ada semacam reward dan pengembalian dari Kemenristek-Dikti,” tukasnya.
Sementara itu, sebagai Rektor Unidha, Prof. Dr. H. Suko Wiyono, S.H., M.H mengatakan, jika perguruan tinggi diuntungkan dengan kebijakan tersebut. Oleh karena itu, ia mengimbau kepada doktor yang sudah mengajar minimal tiga tahun untuk segera mendaftar ke jenjang professor.
“Unidha kalau untuk lector kepala cukup banyak, tetapi belum minimal tiga tahun, yang doktor harus ngajar minimal tiga tahun dulu baru bisa melanjutkan ke program professor,” jelasnya. (nia/oci)

Lahirkan Lulusan yang Cerdas Mental


GEMBIRA: Siswa-siswi kelas VI SDK Santa Maria 1 saat foto bersama usai kegiatan gladi bersih, Kamis lalu // FOTO : IMAM/MALANG POST

MALANG - Sabtu (25/6) hari ini kelulusan siswa SD kelas VI diumumkan.  Kepada mereka diharapkan nilai-nilai terbaik ujian sekolah bisa didapatkan. Termasuk siswa kelas VI SDK Santa Maria 1,yang hari ini juga dilepas dan diserahkan kembali kepada orangtua masing-masing, setelah sukses menempuh masa pendidikan dasar selama enam tahun. Tidak hanya berupa nilai yang bagus, lebih dari itu mereka diharapkan menjadi lulusan yang memiliki kecerdasan mental.
Bagi Keradus Sumaryo selaku guru kelas VI, hal ini lebih utama dibandingkan kecerdasan akademik semata. “Meskipun tentu antara keduanya (mental dan akademik) harus selaras dan seimbang. Namun ada yang terpenting yaitu kecerdasan mental,” ujarnya.
Menurut  Maryo, sapaan akrabnya, dengan cerdas mental siswa menjadi individu yang berperan aktif di lingkunganya. Dapat membangun kerjasama, bertanggungjawab dan dapat mencerminkan nilai-nilai luhur dalam kehidupannya. Sebaliknya jika hanya mengandalkan kecerasan otak, dikhawatirkan lulusan hanya menjadi pintar namun tidak memberikan manfaat bagi sekitarnya. “Bahkan bisa saja merugikan. Karena saat ini kita semua tahu tidak sedkit orang pandai tapi justru berbuat hal yang merugikan bagi masyarakat,” katanya.
Hal senada dikatakan Kepala SDK Santa Maria 1, Sr. M. Aquila, SPM, S.Pd bahwa lembaga yang dipimpinnya tidak hanya mementingkan urusan akademik, tapi juga non akademik. Dalam hal ini adalah membangun potensi diri peserta didik di bidang olahraga dan seni kreatifitas melalui program-program pengembangan minat dan bakat. Program ini dinamakan program ekstra yang teridri dari sepuluh cabang bina kreatifitas. Diantaranya komputer, kesenian dan berbagai jenis olahraga.
Menurut  Aquila bina kreatifitas sangat penting dilakukan mengingat saat ini kemajuan ilmu dan teknologi berkembang pesat dan tidak hanya mengandalkan kemampuan berpikir namun juga kreatiftas seseorang. “Maka siswa tidak hanya bersaing dalam akademik saja, jika bidang ini tidak bisa mereka punya sisi lain yang bisa diandalkan dan dikembangkan,” katanya.
Sedangkan di sisi akademik, wanita asal Solo ini menambahkan di SDK Santa Maria 1 juga sangat diperhatkan. Bahkan setiap seminggu dua kali, diberikan tambahan jam ekstra untuk memperkuat kemampuan akademik siswa. meskipun tidak wajib bagi siswa kelas 1 sampai kelas 5, namun menjadi program wajin untuk kelas 6. Dan terbukti ini sangat efektif menunjang kemampuan belajar siswa. “Ya ini sebagai salah satu upaya kami memberikan palayanan akademik bagi anak-anak. Melalui program tambahan jam pelajaran ini, mereka bisa memanfaatkan untuk bisa lebih memahami pelajaran yang disampaikan guru. Sebab kemampuan masing-masing anak itu berbeda,” terangnya.
Kepada orangtua Aquila berharap agar juga bersedia terlibat dalam proses pendidikan putra-putrinya. Jam belajar anak di sekolah yang tidak seberapa jika dibandingkan waktu mereka di luar sekolah tidak dapat menjamin kesuksesan anak dalam belajar. Oleh karenanya peran orangtua sangat penting dalam mengawasi dan membimbing mereka di rumah. “setidaknya orangtua mengetahui apa saja kegiatan anak sehari-hari di luar sekolah. Dan komonikasi dengan guru itu sangat penting demi kelancaran dan kesuksesan pendidikan putra-putri mereka,” pungkasnya. (imm/sir/)

JPAGE_CURRENT_OF_TOTAL