Olahraga

Malang Post

Olahraga

Berita-berita Olahraga terkini

Robert Akan Tangani PSM

(foto: Dicky bisinglasi/malang post)


BOGOR–Mantan pelatih Arema Robert Rene Alberts betul-betul sedang mempertimbangkan menangani PSM lagi. Terbukti, dia hadir di Stadion Pakansari, Bogor, Minggu, 29 Mei. Hanya saja, Robert tak menemui seorang pun perwakilan manajemen PSM.
Direktur Klub PSM, Sumirlan yang juga hadir menyaksikan laga PSM dijamu PS TNI itu justru mengetahui kedatangan Robert dari Rully Nere, legenda sepak bola Indonesia.
Rully yang sedang bertugas sebagai pengawas pertandingan utusan PT Gelora Trisula Semesta (GTS) mengaku bertemu Robert.
“Dia hadir di stadion bersama Pak Eddy Syah,” ucap Rully kepada Sumirlan. Eddy adalah agen yang selama ini mengurus keperluan Robert bila sedang di Indonesia.
Sumirlan pun langsung menghubungi Eddy. Jawabannya, pelatih berkebangsaan Belanda itu memang hadir. “Iya benar Robert ikut menyaksikan laga di tribun bagian timur stadion,” sebut Eddy.
CEO PSM, Munafri Arifuddin yang berada di Milan, Italia usai menyaksikan laga final Liga Champions, dini hari kemarin, mengaku senang mendengar kabar tersebut. “Ini bagus. Memang para calon pelatih antusias ingin melatih PSM,” ucapnya.
Kendati demikian, Appi sapaannya, menegaskan bahwa belum ada pelatih yang deal. “Negosiasi masih berkisar 50 persen,” akunya melalui pesan media sosial.
Kemarin, Sumirlan juga sempat bertemu seorang pria bule di tribun VIP Utama. Dia adalah Hans Peter Schaller. Dia adalah eks pelatih PSM dan pernah juga menjadi asisten Alfred Riedl di PSM. Peter langsung duduk di dekat Sumirlan.
Usai pertandingan, Peter masuk ruang ganti. Dia menyalami para pemain. Peter mengaku juga tertarik kembali ke PSM. (*/jpg/jon)

Real Susah Dikejar

PESTA: Pemain Real Madrid berpesta setelah menjuari Liga Champions setelah mengalahkan Atletico Madrid melalui drama pinalti, di San Siro Italia, kemarin.


MILAN – Tiga kali ke final Liga Champions dan tiga-tiganya gagal. Rasanya tak ada yang lebih drama dari nasib Atletico Madrid di ajang kompetisi sepak bola tertinggi Eropa itu.  Sampai-sampai mantan Presiden Atletico Madrid Vicente Calderon pun menjuluki klubnya sendiri el pupas atau yang terkutuk. Calderon gregetan usai kalah dari Bayern Muenchen di final Liga Champions 1973-1974 lalu.
Musim ini asa Los Rojiblancos, julukan Atletico, meraih Si Kuping Besar kembali kandas. Dan untuk sekali lagi, sang tetangga, Real Madrid menjadi pemotong mimpi jutaan fans Atletico.
Kemarin (29/5) di San Siro, Real memastikan trofi Liga Champions untuk kesebelas kalinya. Setelah bermain imbang 1-1 di waktu normal dan perpanjangan waktu, Los Merengues, julukan Real, akhirnya menang 5-3 dalam adu penalti.
Real membuka keunggulan lewat tendangan sang kapten, Sergio Ramos di menit ke-15. Atletico lantas membalas lewat gol Yannick Carrasco (79'). Karena skor 1-1 bertahan hingga extra time maka penalti pun dilakukan.
Lima algojo Real semuanya sukses menyarangkan bola ke gawang Atletico yang dijaga Jan Oblak. Deretan penendang Real adalah Lucas Vazquez, Marcelo, Gareth Bale, Sergio Ramos, dan Cristiano Ronaldo.
Sementara di kubu Atletico, Antoine Griezmann, Gabi, dan Saul Niguez sukses mengeksekusi penalti. Penendang keempat Juanfran sepakannya mengenai tiang kanan gawang kiper Real Keylor Navas.
Dengan koleksi sebelas trofi Liga Champions ini pesaing-pesaing Real akan semakin kesulitan mengejarnya. Paling dekat adalah AC Milan dengan tujuh gelar. Jangankan mendekati, bermain di kancah Eropa saja Milan kesulitan. Musim depan untuk yang ketiga kalinya secara beruntun Milan absen di level Eropa.
Nah, Real sebenarnya dalam partai Liga Champions kemarin tampil biasa saja. Bahkan bintang utama Real, Cristiano Ronaldo tak banyak memberikan teror ke gawang Atletico.     
Ronaldo yang sering pamer akselerasi kecepatannya serta mengelabui bek lawan kemarin hal itu tak tampak. Ronaldo yang belum 100 persen fit dari cedera paha kanannya itu kalah pamor dari Gareth Bale. Bale sering bermanuver ke jantung pertahanan Atletico dan adu cepat dengan para pemain Atletico.
Dari statistik UEFA, shot on target Ronaldo hanya tiga sepanjang laga kemarin.Kompatriotnya Karim Benzema dua kali dan Gareth Bale sekali. Di kubu Atletico, Griezmann terbanyak shot on target dengan dua kali.
Seusai laga dalam situs UEFA entrenador Real Zinedine Zidane mengatakan hasil ini dicapai dengan pertarungan fisik dan mental yang luar biasa. Atletico memberikan tekanan dengan sangat besar kepada Sergio Ramos dkk kemarin.
“Saya luar biasa gembira karena saya sudah menjadi bagian dari histori klub ini. Setelah merasakan juara sebagai pemain dan asisten pelatih, kini saya mencapainya sebagai pelatih,” ucap Zidane.
 Seperti pernyataan Zidane itu hasil final Liga Champions tak hanya ditentukan seberapa bagus tim tersebut. Namun faktor histori, tradisi, mental, juga keberuntungan punya porsi masing-masing. Lihat saja Ronaldo yang bermain di bawah standarnya bisa meraih juara Liga Champions ketiga kalinya. Satu bersama Manchester United dan dua bersama Real.
“Cristiano (Ronaldo) tidak cedera. Dia berjuang di lapangan bersama semua pemain kami,” bela Zidane soal performa Roanldo yang buruk kemarin. “Dia berlari, bertarung, dan membantu rekan setimnya,” tambah bapak empat anak itu.
Mengenai hasil laga yang harus dilalui dengan penalti, Zidane mengatakan anak asuhnya tetap diminta kalem. Sebab menendang penalti bukan soal semata akurasi dan arah sepakan, namun juga mental yang berbicara.
“Carlo Ancelotti berkata kepada saya seandainya menang Liga Champions sebagai pelatih berbeda dibandingkan saat jadi pemain. Dan itu benar adanya,” kata Zidane membenarkan masukan gurunya itu.
Bek Real Pepe kepada Marca mengatakan Zidane sebenarnya hanya meneruskan taktik yang sudah diwariskan dari Ancelotti lalu. Bedanya Zidane punya kemampuan memotivasi yang luar biasa.
“Zidane memberikan kami rasa kepercayaan diri yang sedemikian tinggi dengan berbagai kata-katanya di ruang ganti. Dan ini tak pernah terjadi di era (Rafael) Benitez,” kata pemain asal Portugal itu.
Bintang Real Ronaldo seperti diberitakan The Guardian menuturkan untuk algojo penalti kemarin pemain 31 tahun itu memang mengajukan diri. Ronaldo ingin menjadi bagian dari ingatan kolektif dunia tentang bagaimana timnya menang Liga Champions kali ini.
“Pada extra time banyak yang tumbang karena mengalami kram. Akan tetapi sekali lagi Real menunjukkan seandainya kami bisa dan layak untuk gelar kesebelas kalinya,” tutur bapak satu anak itu.
Ronaldo sebetulnya punya memori pahit saat bersama Manchester United di final Liga Champions 2007-2008 lalu. Setelah bermain 1-1 versus Chelsea hingga usai perpanjangan waktu maka adu penalti pun dilakukan.
Sebagai eksekutor ketiga, penalti Ronaldo gagal. Untungnya aib Ronaldo itu tertutup. Sebab United tetap memenangi final Liga Champions tersebut berkat kemenangan 6-5.
Sementara itu, penyerang Atletico Antoine Griezmann terlihat sangat terpukul usai kekalahan timnya. Griezmann tak bisa menutupi rasa kecewanya. Apalagi Griezmann punya kesempatan emas mencetak gol di emnit ke-48. Sayang penaltinya membentur tiang gawang bagian atas.
“Kami akan kembali dan menghapus kekalahan kami di final selanjutnya,” kata pemain 24 tahun itu menghibur diri. (dra/jpg/jon)

Gelar dari Bersikap Positif


Zinedine Zidane


MILAN – Zinedine Zidane tampak sangat tenang saat memasuki ruang konferensi pers di San Siro, Milan. Tak terlihat kegembiraan berlebihan. Hanya tersimpul seulas senyum tipis di bibir yang menunjukkan bahwa dia baru saja membawa tim yang baru ditangani di tengah-tengah musim menjadi juara Eropa untuk kali ke-11.
”Saya hanya sangat, sangat, sangat bahagia. Saya sangat gembira,” ucapnya repetitif dengan nada dan ekspresi datar.
Padahal, Zidane baru saja memenangkan segalanya. Sejarahnya bersama Real Madrid dan Liga Champions sangatlah lengkap. Sebagai pemain, dia membawa Real juara pada 2002. Lalu, ketika meraih la decima dua tahun silam, dia berstatus asisten pelatih Carlo Ancelotti. Kini dia adalah entrenador Real.
Menurut pria yang sukses memenangi Piala Dunia 1998 dan Piala Eropa 2000 bersama Prancis itu, gelar tersebut teraih berkat sikap positif. ”Fakta bahwa aku melakukannya sebagai pelatih juga karena sikap itu. Kami hanya bersikap positif sepanjang waktu,” ungkap pelatih yang menggantikan Rafael Benitez tersebut.
Zidane lalu mengenang saat diminta Presiden Real Florentino Perez menangani Sergio Ramos dkk Januari lalu. Saat itu dia tidak berpikir apa-apa. Tidak terbebani, tidak takut. Sebaliknya, dia sangat percaya bahwa dengan skuad yang dimiliki Real saat ini, dirinya bisa memenangkan hal besar.
Sebelum final, Zidane juga sempat berbincang dengan Ancelotti. ”Dia bilang kepada saya, kalau saya memenangi Liga Champions sebagai pelatih, rasanya akan berbeda dibanding memenangkan trofi itu sebagai pemain,” kata Zidane menyitir ucapan mantan bosnya tersebut.
Lalu, apa benar yang dikatakan Ancelotti itu? ”Ini perasaan yang spesial. Saya memenangkannya sebagai pemain, sebagai asisten pelatih, dan pelatih kepala. Ini tidak ada tandingannya,” tegas dia.
Pembawaan Zidane memang sangat kalem. Meskipun kadang-kadang (setidaknya saat masih aktif bermain) dia bisa meledak juga. Tapi, kini sisa-sisa ledakan itu sama sekali tidak ada. Dia sudah berubah menjadi pribadi yang sangat dewasa dan mampu mengendalikan amarah. Sebagai pelatih, dia merasa punya tanggung jawab untuk menularkan sikap positif kepada anak buahnya.
Menurut Zidane, secara mental dan fisik, pasukannya sebenarnya sudah terkuras. Sebelum perpanjangan waktu dimulai, beberapa pemain mengalami kram. Mereka juga nervous. Zidane bahkan mendapat pertanyaan apakah Ronaldo cedera.         
”Tidak, tidak. Dia tidak cedera. Kram mungkin wajar melihat tensi pertandingan. Tapi, para pemain berhasil menjaga sikap positif yang saya minta dari awal. Mereka sangat sabar,” jelasnya.
Zidane juga secara khusus memuji Ronaldo. ”Saya sangat bangga kepadanya. Dia berjuang, dia berlari sama banyaknya dengan yang lain dan selalu membantu teman-temannya,” puji pelatih 43 tahun itu. (na/c9/ttg)

Dengan Rendah Hati, Zidane Puji Sosok Ini

KELUARGA: Entrenador Real Madrid, Zinedine Zidane bersama istrinya, Veronique, kedua putranya, Theo dan Elyaz dan Si Kuping Besar


MILAN - Zinedine Zidane, pria Prancis keturunan Aljazair berusia 43 tahun itu melengkapi prestasi kariernya dengan mengangkat trofi Liga Champions, sebagai pelatih!
Sebagai pemain, Zidane sudah pernah menjadi juara Piala Dunia bersama Prancis. Juara Piala Eropa? Juga sudah. Di level klub, gelimang gelar bersama Bordeaux, Juventus, Real Madrid plus penghargaan individu seperti Ballon d'Or, juga pernah dia raih.
Nah, sebagai pelatih, setelah hanya menjadi asisten Carlo Ancelotti saat membawa Real Madrid juara Liga Champions dua tahun lalu, kini Zidane juga sudah menjadi juara berstatus sebagai pelatih. Yang belum? Membawa timnya juara kompetisi lokal (La Liga).
"Partai final melawan Atletico adalah akhir yang benar-benar sulit. Pertandingan yang sangat panjang, begitu banyak tekanan," ujar Zidane, di laman Marca.
Pria pelontos nan akrab disapa Zizou ini mengaku, sudah mengimpikan titel juara Liga Champions ini sejak Presiden Real Madrid, Florentino Perez memberikan kepercayaan kepadanya menggantikan Rafael Benitez. "Tim ini memiliki pemain hebat, dan itu memungkinkan saya mengangkat trofi Liga Champions," ucap Zidane.
Saat ditanya wartawan, siapa sosok yang paling pantas mendapatkan pujian darinya, Zidane malah mengejutkan awak media. Dengan kerendahan hatinya, dia memuji pelatih Atletico Madrid.
"Saya harus memuji Diego Simeone. Dia pelatih yang sangat hebat, meskipun belum beruntung. Lihat apa yang sudah dia lakukan dengan Atletico. Pelatih yang hebat! Dan dia terus menunjukkan itu. Tapi, kami juga telah melakukan dengan baik. Ya, kemenangan yang istimewa buat saya. Menang di Liga Champions sebagai pemain, asisten dan pelatih," tutur Zidane. (adk/jpnn)

Lagi Sedih, Diego Simeone Bikin Statement Mengejutkan



MILAN - Hati siapa yang tak kecewa, sakit. Dua kali tembus final Liga Champions, dua kali gagal mengangkat trofi Si Kuping Besar. Dari lawan yang sama lagi!
Juru taktik Atletico Madrid, Diego Simeone, terpukul. Usai kalah di Final Milano 2016, Simeone malah bikin pernyataan mengejutkan. Dia mengaku butuh waktu untuk memikirkan masa depannya di Atletico.
"Saya butuh waktu untuk memikirkan masa depan di sini. Meski saya sangat mencintai klub ini," kata Simeone di laman Marca.
Pria Argentina ini mengungkap, dia benar-benar menyukai para pemain dan tim secara keseluruhan. Namun logika dari seorang Simeone, kalah di dua final sudah cukup membuat dia berpikir ada yang salah pada dirinya.
"Ini tidak benar jika saya tidak berhenti. Saya mengatakan kepada pemain, jangan menangis karena takdir adalah takdir, dan itu tidak di pihak kita," tandas Simeone. (adk/jpnn/jon)

JPAGE_CURRENT_OF_TOTAL