Arema Sport

Malang Post

Arema Sport

Berita terbaru dan terlengkap  tentang Arema - Aremania

Pincang, Tapi Siap Cakar Sapi Ngamuk


MALANG – Tanpa Cristian Gonzales dan Dendi Santoso, Arema Cronus masih yakin bisa menang di Pulau Garam, Jumat (6/5) malam ini. Padahal, pincangnya Arema, membuat kubu Madura United senang bukan kepalang. Milomir Seslija menyiapkan penggawa baru, agar Singo Edan (julukan Arema, Red) sukses mencakar Laskar Sapeh Ngamok (julukan Madura United, Red) di kandang mereka.
Ini bukan laga yang mudah bagi Arema Cronus melawan tuan rumah Madura United, di Stadion Gelora Bangkalan. Pasalnya, Arema  melawat ke Madura dengan kondisi pincang tanpa tiga pemain andalannya, Cristian Gonzales, Dendi Santoso dan Syaiful Indra Cahya. Namun, tiga angka tetap dibutuhkan untuk mempertahankan klub Singo Edan ini di singgasana klasemen Torabika Soccer Championship, Presented by IM3 Ooredoo (TSC 2016).

Sang pelatih, Milomir Seslija pun tetap menginginkan kemenangan, untuk memperbesar peluang Arema tetap di pucuk pimpinan klasemen, di pekan kedua TSC 2016.
"Saya tetap optimis dan menargetkan kemenangan melawan Madura United. Supaya kami tetap di atas dalam kompetisi ini," ujarnya.
Dia menyadari, pasukannya dalam kondisi timpang di pekan ini. Sebab, tiga nama yang baru cedera akhir pekan lalu, merupakan pemain yang sejatinya adalah harapan dia untuk mengisi line up utama. Bahkan untuk Dendi dan Gonzales, semenjak ditangani pelatih asal Bosnia itu, seolah tidak tergantikan. Kecuali dengan cedera atau alasan strategi, keduanya hampir pasti bermain memperkuat Arema.
Gonzales misalnya. Selama Milo menjadi arsiteknya, turun sebanyak 18 laga dan pemain naturalisasi asal Uruguay ini telah mencetak 12 gol. Catatan itu pun menunjukkan begitu besar kontribusi sang pemain, dalam hal penyelesaian akhir yang berbuah gol di klub berjuluk Ongis Nade itu.
Sedangkan Dendi, sekalipun jumlah golnya lebih sedikit dan baru dua, performanya tengah menanjak. Berkat aksinya di sisi kanan atau terkadang berpindah ke kiri, kerap menyulitkan tim lawan. Kecepatan jebolan Akademi Arema ini seringkali berbuah peluang manis kepada rekannya seperti Gonzales, Esteban Vizcarra atau Srdjan Lopicic. Dan Dendi, juga masih belum tergantikan hingga Minggu (1/5) lalu, sebelum dia mengalami cedera.
Namun, sang pelatih meyakinkan jika kondisi itu tidak berpengaruh pada timnya. Dia mengakui masih memiliki deretan pemain cadangan yang siap mengejutkan ketika mendapatkan kepercayaan untuk turun.
“Kehilangan Dendi dan Gonzales memang kerugian bagi Arema. Tetapi klub ini masih ada reserve yang tidak kalah,” tegasnya.
Milo tampaknya akan memaksimalkan tenaga Gustavo Giron dalam laga malam ini. Pemain yang dibeli karena memiliki kemampuan bermain di beberapa posisi, termasuk sebagai pengganti Gonzales ketika dia absen.
“Giron ini penyerang yang bagus. Ketika saya merekomendasikan kontrak, saya melihat dia tidak hanya bisa menjadi striker, tetapi juga playmaker. Sekarang Gonzales absen, dia akan jadi target man,” beber dia.
Giron pun dipastikan akan memanfaatkan momen saat ini. Bisa jadi, melawan Madura United adalah panggung bagi pemain berdarah Kolombia ini, untuk semakin memikat sang pelatih. Bukan hanya karena melihat permainan dari rekaman di Youtube saja.
Selain itu, Arema juga masih memiliki opsi Sunarto. Penyerang yang kerap menjadi pemecah kebuntuan tim, yang mulai menunjukkan tajinya dalam beberapa laga terakhir, ketika mendapatkan kepercayaan Milo.
Sunarto sudah dua kali mencetak gol dan memastikan kemenangan Arema di laga krusial. Ketika  melawan Persija Jakarta di laga ketiga penyisihan Piala Bhayangkara, pemain ini mencetak gol, hanya semenit setelah dia masuk ke lapangan. Ketika final, dia pun menyumbang gol, memastikan Arema pulang dengan rengkuhan hadiah utama sebesar Rp 2,5 miliar.
“Tim ini memiliki pemain yang hampir setara. Saya percaya pada kemampuan mereka,” tambahnya.
Milo menjanjikan permainan yang mengejutkan dan berbeda ketimbang dengan laga melawan Persiba Balikpapan, akhir pekan lalu. Di samping nama pemain yang akan menghiasi line up mengalami perubahan, dia juga menginginkan anak asuhnya bermain cepat. Selain Sunarto dan Giron, untuk posisi bek kanan, pelatih dengan dua anak ini terlihat akan memercayakan pos yang ditinggalkan Syaiful kepada Beny Wahyudi.
Secara keseluruhan, Milo juga menyiapkan nama seperti Antoni Nugroho dan Arif Suyono untuk mendobrak pertahanan lawan, jika strategi awal mentok di tangan Fabiano Beltrame dkk.
Sementara itu di kubu lawan, motivasi juga tengah membumbung tinggi. Pasca mempermalukan PS TNI di kandangnya, di Stadion Siliwangi Bandung, Madura United masih menargetkan kemenangan.”Kami harus memanfaatkan bermain di kandang sendiri. Pasti lebih menguntungkan bagi tim ini,” beber Pelatih Madura United, Gomez de Oliviera.
Menurut dia, anak asuhnya diminta untuk tampil lepas ketika berhadapan dengan Arema. Pasalnya, dua tim ini juga sudah pernah bertemu dua kali. “Progres pertemuan sebelumnya bagus. Apalagi sekarang Arema sedang tidak ada Gonzales dan Dendi,” tambahnya.
Akan tetapi, dia masih mewaspadai kelihaian Milo dalam meracik strategi. Sehingga, dia masih berharap jika pemainnya tampil waspada dan tidak kecolongan untuk meraih kemenangan.(ley/ary)

Arema Lakoni Perjalanan Rahasia


MALANG - Arema Cronus melakoni hal yang tidak biasa ketika melakukan away ke kandang Madura United, di pekan kedua TSC 2016 ini. Lawatan kali ini Arema membawa skuad yang minim, hanya 18 pemain saja. Selain itu, penggawa Arema kompak tutup mulut mengungkapkan keberadaan tim ini kepada pihak luar.
Arema benar-benar merahasiakan semuanya. Mulai keberangkatan tim hingga lokasi menginapnya. Hingga Kamis (5/5) kemarin, baik manajemen sampai pemain, tak mau buka mulut soal dua hal itu.
Seperti Asisten Pelatih Arema, I Made Pasek Wijaya misalnya. Pria asal Karangasem yang biasa memberitahukan kapan keberangkatan timnya, kali ini juga tidak mengetahui dimana Arema menginap. “Saya tidak tahu, sebab saya tidak ikut kali ini,” ujarnya.

Menurutnya, dia tidak mendapatkan informasi penginapan timnya. Dan di Malang, dia diminta untuk fokus memimpin penggawa Arema tersisa, yang tidak diboyong ke Madura. Mulai dari dua pemain yang tengah pemulihan cedera, yakni Syaiful Indra dan Ahmad Bustomi, ditambah pemain seperti Achmad Kurniawan, Utam Rusdiana, Dio Permana, hingga Oky Derry Andrian.
“Saya harus memimpin pemain yang di Malang latihan. Tadi pagi (kemarin, Red) dan besok pagi (hari ini),” beber dia kepada Malang Post.
Sehari sebelumnya, Rabu (4/5) sore, Arema juga belum membeberkan kapan tim ini berangkat. Penggawa Arema malah masih melakukan latihan di Stadion Kanjuruhan Kepanjen. Belum dipastikan, tim ini akan berangkat malam, dinihari atau Kamis pagi kemarin.
Usut punya usut, keputusan merahasiakan keberangkatan hingga tim ini menginap, karena manajemen Arema ingin mengamankan pemainnya. Dengan target kemenangan, pemain diminimalisir dari tekanan suporter rival, yakni Bonek. Sebab, lokasi pertandingan Arema di Bangkalan, sangat dekat dengan Kota Surabaya, basis dari Bonekmania.
Seperti diketahui, hubungan Bonekmania dengan Arema serta Aremania,  hingga saat ini masih belum harmonis. Merahasiakan keberangkatan dan hotel merupakan cara manajemen untuk membuat Hamka Hamzah dkk nyaman dan bisa fokus pada laga itu.
"Yang penting tim bisa maksimal di pertandingan nanti. Kami sengaja tidak beritahu kepada media ataupun semua pihak luar kapan tim berangkat dan menginap," kata Media Officer Arema, Sudarmaji.
Padahal, kebiasaan Arema berangkat tur adalah dua hari jelang pertandingan. Itu artinya seharusnya penggawa Arema berangkat Rabu lalu. Namun, hingga Rabu sore tim masih berada di Malang dan menggelar latihan di Stadion Kanjuruhan.
Bahkan, jadwal sesi uji lapangan Arema, Kamis (5/6) kemarin, pukul 18.00 WIB juga tidak diambil oleh anak asuh Milomir Seslija itu. Dengan alasan teknis, Arema batal menggelar uji lapangan.
Sedangkan dari status BBM salah satu asisten pelatih, Kuncoro, Kamis (5/5) kemarin siang sekitar pukul 13.00 WIB,  seakan menunjukkan jika dia baru masuk Madura. “Malang-Sby-Meduro.. Patas,” tulisnya.
Sementara itu, Pelatih Madura United, Gomez de Oliviera mengharapkan jika pengamanan untuk tim bisa maksimal. Termasuk dalam laga malam hari ini. “Saya ingin panitia memastikan semua berjalan lancar. Wasit juga bisa melindungi pemain,” bebernya.
Sedangkan pemain Arema yang diusung dalam laga ini adalah Kurnia Meiga, I Made Wardana, Hamka Hamzah, Goran Gancev, Ryuji Utomo, Beny Wahyudi, Ahmad Alfarizi, Junda Irawan. Ditambah Juan Revi, Raphael Maitimo, Ferry Aman Saragih, Hendro Siswanto, Srdan Lopicic, Esteban Vizcarra, Arif Suyono serta Sunarto, Antoni Putro, dan Gustavo Giron.(ley/ary)

Luar Stadion Lebih Panas!


MALANG – Laga panas bakal dilakoni Arema Cronus saat berhadapan dengan Madura United di Indonesia Soccer Championship (TSC) A 2016 yang berlangsung di Stadion Gelora Bangkalan, Jumat (6/5) malam ini. Tensi panas tidak hanya terjadi di lapangan saja, namun justru di luar lapangan yang lebih menegangkan.

Pasalnya, Singo Edan bertanding di kandang tim berjuluk Sape Kerap ini berada di dekat dan melintasi Kota Surabaya yang merupakan markas Bonek. Gesekan pun rawan terjadi antar suporter.
Guna mengatisipasi terulangnya ‘Tragedi Sragen’ itu, Aremania secara bijak memilih untuk tidak melakukan tur secara resmi ke Pulau Garam itu. Namun demikian, dukungan secara pribadi, dipastikan ada Aremania yang datang ke Stadion Gelora Bangkalan.
Manajemen Arema melalui Media Officer Sudarmaji sendiri mengatakan, dalam regulasi TSC 2016 tidak ada larangan supporter tamu datang ke stadion tuan rumah.
“Yang ada justru tuan rumah harus memastikan kuota sebesar lima persen untuk tim tamu yang ingin melihat langsung,” terang Sudarmaji kepada Malang Post, kemarin.
Tetapi, mantan wartawan ini juga percaya jika Hamka Hamzah dkk tidak akan kekurangan dukungan. Menurutnya, pasti ada saja Aremania yang datang ke Stadion Gelora Bangkalan, untuk menyaksikan tim pujaannya berlaga.
Sementara itu beberapa kelompok Aremania yang kerap mengadakan tur ke beberapa kota setiap laga tandang Arema sudah menyatakan, untuk laga melawan Madura United open tour tidak akan terjadi. Alasan rute yang harus melewati ‘zona merah’ membuat pendukung setia Singo Edan ini diminta untuk menyaksikan laga dari rumah saja.
Akan tetapi, beberapa pihak meyakini jika Aremania tetap akan memberikan dukungan, meskipun tidak sebesar biasanya. Itu pun tidak menggunakan atribut Singo Edan.
“Aremania itu tidak kemana-mana, tetapi ada dimana-mana. Jadi, penggawa Arema tidak perlu khawatir berjuang sendiri,” ujar Ambon Sapulette, Aremania Pakisaji.
Menurut dia, saran dari kepolisian dan pihak keamanan, telah meminta agar Aremania bijak untuk laga pekan kedua ini. Bukan berarti tidak berani bersinggungan, namun lebih pada sikap Aremania untuk menjaga kekondusifan.
“Sudah jelas jika berangkat kami harus melalui Surabaya, basis dari Bonek. Yang selama ini telah memiliki sejarah tidak baik. Itu pertimbangan utamanya,” beber dia kepada Malang Post.
Selain itu, dalam dua hari terakhir ini juga sudah beredar broadcast akan adanya sweeping dari Bonek kepada Aremania di kawasan Kedung Cowek. Dalam broadcast tersebut, Hasan sebagai Ketua Bonek 1927 mengakui tidak bisa mengendalikan pok-pok bonek lainnya yang akan melakukan penghadangan atau sweeping terhadap Aremania. Beberapa titik yang akan dipantau oleh Bonek seperti di Purwodadi, Gempol dan sepanjang rute yang akan dilalui, jika Aremania akan melakukan perjalanan.
“Walaupun setelah laga melawan Persiba memang sudah pasti tidak membuka tour, broadcast ini juga bisa menambah kewaspadaan kami. Makanya, lebih baik jika Arema menyaksikan laga dari layar televise,” ujar Achmad Ghozali, Aremania Klayatan.
Akan tetapi, dia meyakini masih akan ada Aremania yang mendukung di stadion. Sama seperti semboyan Aremania yang tidak kemana-mana tetapi ada dimana-mana, pendukung Arema diprediksi akan ada yang datang. “Entah mereka dari kawasan Madura atau beberapa tempat lain,” tambahnya.(ley/jon)

Flare di Kanjuruhan, Terancam Tanpa Penonton


MALANG – Di tengah lawatan Arema Cronus ke Pulau Madura, manajemen dan panpel Arema Cronus dalam kondisi was-was. Pasalnya, Arema mendapatkan surat teguran dari PT Gelora Trisula Semesta (GTS), operator dari kompetisi TSC 2016.
Dalam surat tertanggal 3 Mei 2016 itu dilaporkan bahwa pengawas pertandingan Singo Edan kontra Persiba Balikpapan menemukan flare yang menyala di tribun penonton Stadion Kanjuruhan, Minggu 1 Mei 2016. 

Media Officer Arema Cronus, Sudarmaji, mengatakan, surat tersebut diterima akibat menyalanya  flare di dalam stadion.
"Operator melarang flare menyala di dalam stadion, baik sebelum, sesudah atau ketika pertandingan berlangsung. Semuanya kena sanksi,” kata Media Officer Arema, Sudarmaji.
Menurut dia, tercatat dua kali flare menyala di tribun penonton. Walaupun sangat singkat karena dapat segera diantisipasi oleh panitia pelaksana pertandingan, tetapi pengawas pertandingan telah mengetahui hal itu. Tak hanya flare, bom asap juga sempat mengepul di tribun tengah meskipun hanya sesaat dan asap tak tebal.
“Berkat kesigapan panitia, nyala flare dan bom asap bisa segera diantisipasi. Tetapi yang sebentar itu saja, ternyata sudah diketahui pengawas pertandingan hingga kami mendapat ‘surat cinta’ ini,” ungkap Sudarmaji.
Dalam surat tersebut bernomor 055/GTS-DISIPLIN/V/2016), GTS meminta manajemen untuk memberikan klarifikasi atas temuan itu, maksimal pada 5 Mei 2016 lewat email. Manajemen pun telah menyiapkan sejumlah klarifikasi dalam email tersebut dengan harapan temuan itu bisa menjadi teguran dan tak berbuah sanksi.
Menurut dia, manajemen sudah memberikan sosialiasasi baik melalui media maupun turun ke lapangan seperti dalam kegiatan Goes to School.
"Dalam klarifikasi kami sebutkan berbagai upaya preventif yang sudah kami lakukan di pertandingan itu. Harapannya itu akan berpengaruh pada operator dan kami tidak mendapat sanksi, melainkan teguran saja," tuturnya.
Jika mendapat sanksi, selain berupa denda, Arema bisa jadi akan mendapatkan hukuman bertanding tanpa penonton. Untuk itulah, Sudarmaji berharap di laga berikutnya, flare tidak lagi dibawa Aremania terlebih menyalan di dalam stadion. (ley/jon)

Gonzales dan Dendi Takut Operasi


MALANG – Dua pemain Arema Cronus yang tengah mengalami cedera, Dendi Santoso dan Cristian Gonzales sudah mendapatkan vonis terkait cederanya. Kabar gembiranya, karena mereka takut operasi, dokter memperbolehkan mereka mengambil opsi tak dioperasi. Hingga kemarin, kendati lukanya parah, keduanya masih berpikir untuk mengambil opsi operasi atau terapi alami.
“Dua pemain yang cedera, Dendi dan Gonzales, setelah observasi selama dua hari dari dokter ahli tulang, ternyata bisa mengambil pilihan tidak dioperasi. Dan sejauh ini, mereka masih terus berkonsultasi dengan beberapa dokter,” ujar Media Officer Arema, Sudarmaji.

Kedua pemain itu memang belum pernah menjalani operasi selama berkarier sebagai atlet sepak bola professional. Menurut dia, manajemen klub akan memfasilitasi, segala pilihan yang akan diambil oleh pemain. Yang tentunya, sejak hari pertama cedera lalu, tengah berkomunikasi dengan keluarga, untuk pilihan tindakan penyembuhan. Seperti Dendi, setelah Senin (2/5) malam berkonsultasi dengan dr. Mutamsir, Sp.OT, hampir pasti mengambil saran tidak melakukan operasi. Dokter ahli tulang tersebut merupakan saran dari dr. Nanang Tri Wahyudi, eks dokter tim Arema.
“Ketika konsultasi, masih terdapat peluang tanpa operasi dan bisa pulih dalam waktu yang cepat pula. Sepertinya Dendi akan mengambil pilihan itu,” beber dia.
Dia mengakui senang, dengan effort atau keinginan Dendi untuk segera pulih dan mengambil pilihan pengobatan. Setelah mendapatkan informasi harus istirahat sekitar dua bulan meskipun tanpa operasi, Dendi memilih alternatif tersebut.
“Tetapi, seandainya pemain ingin operasi, klub memastikan akan membiayainya. Kami menghormati apapun keputusan mereka,” ungkap dia kepada Malang Post.
Sejauh ini, manajemen Arema melihat perkembangan keduanya sangat bagus. Dari awalnya yang terlihat cedera parah dan sulit untuk sekadar bangun, di hari ketiga ini pemain sudah bisa berjalan, meskipun harus berhati-hati dan dengan papahan atau bantuan.
Sudarmaji juga mengakui, hal yang sama juga terjadi pada Gonzales. Dokter yang  memeriksa sang pemain, juga memiliki opsi tidak melakukan operasi pada tulang rusuknya yang retak. Sekalipun observasi terus dilakukan, dia melihat semangat El Loco.
“Pemain ini setelah diperiksa Senin malam, memilih tidak operasi. Tetapi, masih juga konsultasi dan mencari input, kemungkinan bila menjalani operasi,” tambahnya.
Sementara itu, Cristian Gonzales ketika didatangi Malang Post, Selasa (3/5) kemarin, mengakui senang jika tidak sampai menjalani operasi. Pasalnya, dia sudah merasa khawatir bila menjalani tindakan medis, yang belum pernah dijalaninya tersebut. “Saya senang jika tidak operasi. Takut juga, belum pernah sebelumnya,” bebernya.
Dia merasa kondisinya bagus dan ingin mengikuti saran dokter untuk pemulihan. Ketika tidak menjalani operasi, bomber naturalisasi ini besar kemungkinan harus absen sekitar satu bulan. Sebaliknya, jika harus menjalani operasi, bisa lebih cepat proses penyembuhan dan tinggal mengembalikan fisiknya sebelum turun ke lapangan hijau.
“Inginnya yang alami saja. Saya tentu berpikir untuk tidak operasi,” tambah dia.
Kebingungan Gonzales dan shock yang dialami sang istri, Eva Gonzales, sampai keluarga ini menunggu kedatangan Amanda Gonzales, putri sulung mereka yang berada di Bali. “Cristian dan saya bisa lebih tenang mengambil keputusan jika ada Amanda,” ujar Eva Gonzales.
Dia mengakui, masih sangat besar kemungkinan menjalani operasi. Hal itu setelah konsultasi pula, dengan beberapa dokter ahli di bidang tulang dan dokter bedah toraks. Termasuk dr. Sjarif yang merupakan dokter timnas Indonesia.
“Cedera Gonzales ini juga sudah didengar oleh banyak orang. Kami pun coba berkonsultasi dengan beberapa dokter, termasuk rekomendasi dr Sjarif yang merekomendasikan dokter Paul Tahalele,” beber dia.
Atensi yang didapatkan oleh suaminya itu, disyukuri dia. Sehingga, dia masih mempertimbangkan akan adanya operasi, sehingga Gonzales lebih aman dan bisa cepat pulih dan merumput kembali di lapangan hijau.
Sementara, Vivi Rezky Santoso pun mengakui, jika ada opsi tanpa operasi, disyukurinya. Dendi pun merasa senang, karena ketakutannya dengan meja operasi bisa hilang.
“Alhamdulillah. Dokter menyarankan tanpa operasi. Tetapi tetap istirahat total selama 1,5-2 bulan harus dijalani. Setelah itu baru pemulihan dengan aktivitas sepak bolanya,” beber dia.
Sebelumnya, Dendi sempat bertanya-tanya bagaimana rasanya menjalani operasi. Meskipun takut, Dendi mengakui akan menjalani operasi. “Tetapi yang takut juga, belum pernah soalnya. Apalagi saya yang menjagainya, juga lebih takut lagi,” ujar Vivi. (ley/ary)

JPAGE_CURRENT_OF_TOTAL