Malang Post

Arema Sport

Force Majeure, Bola Indonesia Mati

Share
MALANG POST  – Makin runyam saja situasi sepakbola Indonesia. Rapat Exco PSSI di Jakarta kemarin, menyebut kondisi sepakbola luar biasa, sehingga dinyatakan force majeure. Ribuan pemain sepakbola, dan manajemen dari seluruh Liga Indonesia, dipastikan  terpaksa harus menganggur tanpa batas waktu. Anggota Exco PSSI, Djamal Aziz yang dikonfirmasi Malang Post via telepon, membenarkan status force majeur sepakbola nasional.
“Benar. Kondisi luar biasa, Exco PSSI menyatakan situasi force majeure. Semua kegiatan sepakbola dihentikan. Kita tidak punya kemampuan untuk menyelenggarakan pertandingan, akibat penghentian dari Menpora,” kata Djamal usai rapat Exo PSSI di Jakarta, kemarin.
Menurut Exco PSSI asal Lawang, Kabupaten Malang itu, pembekuan PSSI, serta penolakan izin keramaian oleh pihak kepolisian untuk izin keramaian pertandingan, sudah berada di luar kewenangan PSSI. Sehingga, PSSI menyatakan situasi di luar otoritas federasi.
“Selain penghentian dari Menpora, PSSI memutuskan force majeure karena tidak diberikannya izin keramaian untuk pertandingan dari kepolisian. Itu di luar wilayah PSSI. Kasihan klub, manajemen, pemain bola dan suporter,” tandas pria berkacamata itu.
Menurutnya, manajemen klub menjadi pihak yang paling merugi karena penghentian Menpora dan tidak ada izin dari kepolisian. Sebab, manajemen harus membayar banyak kebutuhan walaupun kompetisi tidak berjalan, termasuk gaji pemain.
Karena Exco PSSI menyatakan situasi force majeure, Djamal menyebut bahwa Menpora tidak bisa memaksakan jalannya kompetisi. Sebab, selama ini, Menpora ngotot kompetisi berjalan tanpa supervisi PSSI sebagai induk organisasi sepakbola.“Kalau sudah force majeure, putus sudah semuanya. Liga Indonesia 2015 berhenti gerak. Menpora mau paksa kompetisi, paksa pakai apa? Institusi yang memutar kompetisi itu ya PSSI dan PT LI. CEO Liga Liga tak mau turuti Menpora,” sambung Djamal.
Menurutnya, PSSI hanya tinggal menunggu waktu untuk disanksi oleh FIFA. “Karena sekarang kondisi force majeure, akan ada surat dari FIFA, yang biasanya ditujukan pada pemerintah. Pasti akan ada sanksi, karena ada intervensi pemerintah,” tuturnya.
Sementara itu, Hinca Pandjaitan, Wakil Ketua PSSI sekaligus anggota Exco juga membenarkan status force majeure terjadi karena intervensi Menpora. Hinca menyebut, Menpora sebagai institusi pemerintah, menekan polisi untuk tidak menerbitkan izin pertandingan ISL QNB League 2015.
“Kompetisi dinyatakan force majeure, karena kondisi luar biasa di luar PSSI. Karena kondisi ini, kompetisi tidak bisa berputar dengan lancar. Kompetisi ini tidak tuntas karena intervensi. Karena itu, harus dihentikan,” tutur Hinca dikonfirmasi terpisah.
PT Liga Indonesia lemas dengan status force majeure ini. Pasalnya, CEO PT LI, Joko Driyono menyebut ini bukan kewenangan Liga. “PT Liga bukan pihak mengambil keputusan. Atas keputusan Exco, PT LI memutuskan kompetisi berhenti dengan status force majeur,” tuturnya.
Jokdri menyebut, belum ada rencana untuk membuat kompetisi baru. Namun, apabila ada perubahan keputusan Exco PSSI, maka PT LI akan langsung memberi nama kompetisi dengan tahun baru. “Bila nanti dilanjutkan, maka kompetisi akan dimulai dengan nama yang baru, mungkin kompetisi ISL 2015-2016  atau ISL 2016,” tutup Jokdri.
Sementara itu, Arema Cronus mengaku terkejut dengan keputusan force majeure oleh Exco PSSI. CEO Arema Iwan Budianto tidak menyangka sepakbola Indonesia dinyatakan force majeure. Secara otomatis, klub tidak bisa lagi beroperasi dan berhenti.
“Ini mengejutkan. Namun, mungkin ini bagian dari proteksi PSSI terhadap klub. Karena, manajemen klub pun kesulitan. Kita harus tetap menggaji pemain, sementara kompetisi tidak digelar. Pemain pun kasihan,” tutur IB dikonfirmasi Malang Post, via telepon.
Dengan force majeure, pemain secara otomatis langsung putus kontrak dengan klub bersangkutan. Menurut IB, pemain Arema juga langsung mendapatkan putus kontrak karena status force majeure. “Semua klub saya rasa seperti itu. Karena, kondisi ini force majeure, semua pemain langsung kena putus kontrak,” tuturnya.
Di sisi lain, pemain menjadi sosok paling terpukul dengan force majeur yang berakibat pemutusan kontrak. Pemain paling senior di Arema, Cristian “El Loco” Gonzales tidak bisa menutupi rasa frustasinya ketika ditelepon Malang Post malam tadi.
Suara sesenggukan dan tangis sempat terdengar dari suara ayah empat anak ini. “Luar biasa memang sepakbola Indonesia. Kondisi sekarang ini sama saja dengan membunuh dan mematikan kami semua pemain bola seluruh Indonesia,” ujar striker timnas senior tersebut, meratapi situasi yang sangat buruk untuk pemain saat ini.
“Saya berpindah warga negara hanya demi sepakbola, namun kenapa jadinya seperti ini? Saya tidak tahu lagi harus bagaimana. Kalau sudah begini, kami mengadu kepada siapa?,” tutupnya.(fin/nug)
comments

Pemain Tunggu Manajemen

Share
MALANG–Para penggawa Arema Cronus saat ini menantikan langkah manajemen. Dengan status force majeure, manajemen menyebut para pemain putus kontrak dan tidak lagi resmi menjadi pemain Singo Edan. Tak heran, nasib pemain kini paling mengenaskan.
Benny Wahyudi, bek sayap Arema, menyebut bahwa pemain menunggu ada rapat dengan manajemen terkait kejelasan situasi saat ini.
“Semoga saja akan ada rapat pemain dengan manajemen sebentar lagi. Gak mungkin kan bubar meneng-menengan,” tutur Benny dikonfirmasi Malang Post, via BBM, kemarin.
Bek sayap asli Turen tersebut tidak mengetahui, harus berbuat apa menanggapi situasi berat saat ini. Sebab, ia meyakini, semua pemain Arema sejatinya bukan hanya tumpuan buat anak istri, tapi juga anggota keluarga yang lain. Karena itu, ia berharap segera ada kejelasan dari manajemen.
“Kita lihat saja lanjutannya seperti apa. Saya tidak tahu harus merespon seperti apa dengan situasi seperti ini,” tuturnya.
Sementara itu, Dendi Santoso, gelandang asli Malang juga hancur begitu mendengar kompetisi disebut force majeure karena intervensi Menpora.
“Saya tidak paham kenapa situasi jadi seperti ini. Ajur wes,” tutur Dendi, dikonfirmasi terpisah.
Dendi yang juga suami dari Vivi Rezky Santoso dan ayah dari Aldevo Santoso itu juga menanti keputusan manajemen terkait situasi sekarang.
Pasalnya, bukan hanya Dendi dan Benny saja yang remuk karena force majeure. Seluruh skuad Arema, beserta ball boy, karyawan mess, karyawan manajemen Arema Jalan Kertanegara, juga ikut terkatung-katung. I Gede Sukadana dkk tampaknya bakal benar-benar harus mencari profesi lain di luar sepakbola, apabila ingin menghidupi diri sendiri dan kelaurga.(fin/jon) 
comments

Gethuk Pasrah, Siap Cari Kerja Lain

Share
MALANG – Joko “Gethuk” Susilo semakin pasrah dengan situasi yang membelit sepakbola Indonesia saat ini. Menanggapi keputusan force majeure dari Exco PSSI, Gethuk menyerah. Dia tidak tahu lagi harus menjalani profesi apa setelah penghentian kompetisi yang belum terlihat titik terangnya.
Dikonfirmasi kemarin, Gethuk tak bisa berpikir jernih lagi. “Intinya kan Menpora izinkan PSSI atau tidak. Sekarang, mau gimana lagi. Mau menangis kemana? Tidak ada tempat untuk mengadu. Percuma ada wacana sepakbola tarkam, amatir,” ucap Gethuk, kemarin.
Seperti sudah sinis dengan situasi bola Indonesia, Gethuk meyakini wacana turnamen tarkam nasional akan langsung diinjak begitu saja oleh Menpora. Pasalnya, Gethuk menilai tekanan polisi untuk tidak mengizinkan pertandingan berasal dari Menpora.
“Sekarang kan yang punya kekuasaan itu Menpora. Dia yang punya semprit. Kalau ada klub yang mau ikut turnamen, bisa-bisa distop duluan sebelum bergulir. Mau bikin tarkam nasional, kalau tak ada izin polisi ya sama saja,” tambah Gethuk.
Pelatih kelahiran Cepu tersebut mengaku tidak memahami jalan pikiran Menpora sebagai pemegang kekuasaan. “Bahkan, DPR RI sebagai wakil rakyat saja tidak dianggap sama sekali oleh Menpora,” sambung mantan pemain Arema era Galatama ini.
Tak heran, sekarang Gethuk menyerah dengan masa depannya di Arema. Ia mengaku hanya bisa melihat serta menunggu keputusan dari manajemen Arema sebagai bos dari skuad Arema. Ia berharap ada pekerjaan yang masih berhubungan dengan sepakbola.
“Ya kita harus ikut arus saja. Gimana nanti ceritanya kan tidak tahu. Terserah juragan, mau ada Arema atau tidak. Kalau tidak ada Arema, ya otomatis cari pekerjaan lain,” tutup Gethuk.(fin/jon)
comments

Suharno : Persib-Persipura Paling Rugi

Share
MALANG – Pelatih Arema Cronus, Suharno menyadari nasibnya semakin buram dengan force majeure PSSI akibat intervensi Menpora. Namun, selain Singo Edan, ada dua klub lain yang paling merugi dan jadi korban terbesar akibat penghentian kompetisi.
“Situasi Arema runyam. Tapi, Persib dan Persipura adalah yang paling rugi. Dua tim ini sangat berprestasi di AFC Cup. Sekarang, kita hanya tinggal menunggu sanksi FIFA, untuk mencoret keikutsertaan Persib-Persipura di AFC Cup,” kata Suharno kepada Malang Post, kemarin.
Saat ini, Persib dan Persipura sudah masuk ke babak lanjutan AFC Cup. Keduanya lolos dari penyisihan serta membawa nama Indonesia di kancah Asia. Sayang, situasi sekarang berpotensi menghancurkan harapan Indonesia untuk meraih prestasi di level Asia.
Terutama, Persipura Jayapura yang saat ini menargetkan jadi juara AFC, setelah musim lalu menembus semifinal.
“Jika sampai sanksi FIFA turun, maka Persib-Persipura akan jadi tim yang paling terpukul. Status peserta mereka di AFC Cup langsung dicoret, dan perjuangan lolos dari penyisihan jadi sia-sia,” tambah Suharno.
Mantan pelatih Persiwa Wamena ini menyebut, hanya keajaiban yang bisa menyelamatkan situasi sepakbola Indonesia. Sebab, anggota DPR RI dan demo suporter tidak bisa merontokkan keras kepala para petinggi sepakbola di level elit.
“Harusnya sekarang presiden yang turun membereskan masalah ini. Mary Jane yang sudah mau dieksekusi mati saja masih bisa diselamatkan kok, masa sepakbola Indonesia tidak bisa. Mudah-mudahan Presiden mau buka hati,” sambung Suharno.
“Jangan sampai sepakbola Indonesia yang jadi kesukaan banyak orang ini akhirnya mati suri, atau bahkan mati selamanya. Harusnya, Presiden menengahi masalah ini, untuk kepentingan banyak orang,” tutupnya.(fin/jon) 
comments

Setujui Turnamen Amatir Nasional

Share
MALANG – CEO Arema Iwan Budianto ingin mengajak klub-klub lain yang mengalami force majeure, untuk bikin turnamen amatir alias tarkam level nasional. Meskipun baru sekadar wacana, Arema tidak mau diam saja, menunggu mati perlahan tanpa ada dana masuk ke klub.
“Saya masih belum bisa mikir. Gimana ya?Tidak tahu lagi harus berbuat apa. Tapi, kalau ada wacana bikin turnamen amatir atau tarkam nasional, ya saya setuju saja. Biar klub dan pemain masih bisa mencari penghidupan,” kata IB kepada Malang Post, kemarin.
Namun, ungkapan IB ini sejatinya adalah ungkapan pasrah. Sebab, klub dan pemain tidak bisa berbuat apa-apa terhadap konflik kepentingan di level atas petinggi bola nasional. Sebagai pengelola klub, IB hanya bisa mengusahakan sambung hidup.
“Kita mau saja kalau ada turnamen. Nanti saya coba hubungi teman-teman klub yang dekat-dekat sini seperti Persela dan Gresik United. Apakah mereka bubar atau tidak? Kalau tim lain bubar ya tidak mungkin kan bikin turnamen,” sambung pria asli Malang itu.
IB mengatakan, situasi yang sama juga bisa terjadi pada Arema. Sebab, jika tak ada kompetisi, maka napas hidup Arema juga perlahan bakal mati. Ia tidak bisa membayangkan akhir dari situasi pelik yang menimpa para penggiat bola dan pemain-pemainnya.
“Ngeri sekali. Sepakbola berhenti, kompetisi tidak ada. Pemain mau makan apa? Klub mau dapat pemasukan dari mana? Sponsor pun bisa lari,” sambung IB. Sekarang, ia hanya bisa menunggu kelanjutan drama menyedihkan dari olahraga terfavorit di Indonesia ini.
“Semoga saja klub-klub tidak sampai bubar. Semoga saja itu tidak terjadi,” tutup IB saat diwawancara semalam.(fin/jon) 
comments

JPAGE_CURRENT_OF_TOTAL