Malang Post

Arema Sport

Kemenpora Keluarkan 11 Sikap

Share
MALANG – Kementerian Pemuda dan Olahraga langsung bereaksi usai FIFA menjatuhkan sanksi kepada PSSI, sebagai akibat 'campur tangan' pemerintah terhadap induk organisasi sepak bola nasional.
Dilansir dari situs resminya, Minggu (31/5), kemenpora telah merilis 11 sikap merespons sanksi FIFA tersebut. Sebelas sikap ini, disebut kemenpora didasari dari surat FIFA tertanggal 30 Mei 2015, yang ditandatangani Sekjen FIFA Jerome Valcke.
Dalam surat yang ditujukan kepada Sekjen PSSI Karim Azwan itu menyebutkan tentang telah dijatuhkannya sanksi oleh FIFA kepada PSSI, sebagai akibat dari adanya campur tangan Pemerintah Indonesia terhadap PSSI, karena hal itu dianggap bertentangan dengan Pasal 13 dan Pasal 17 Statuta FIFA.
Berikut 11 sikap Kemenpora atas sanksi FIFA, yang dirilis oleh Deputi 5 Bidang Harmonisasi dan Kemitraan, merangkap sebagai Kepala Komunikasi Publik Kemenpora, Gatot S Dewa Broto.
Pertama, Kemenpora menganggap tiga kejanggalan surat dari FIFA. Kedua mengenai kejanggalan substansi surat dari aspe gramatikal. Ketiga menyatakan bahwa Kemenpora berupaya menyurati FIFA namun tak direspon.
Keempat pernyataan bahwa sejumlah langkah strategis akan dijalankan untuk hadapi sanksi. Kelima, Kemenpora akan bersinergis dengan berbagai lembaga terkait untuk segera menyempurnakan Blue Print pembenahan sepak bola nasional.
Keenam, Kemenpora melalui Tim Transisi akan sesegera mungkin menggulirkan kembali berbagai tingkatan kompetisi baik untuk tataran profesional maupun tataran amatir.
“Kepada para pemain sepakbola baik yang domestik maupun asing diharapkan tidak perlu khawatir, karena pemerintah tetap berkomitmen untuk kembali menggulirkan  kompetisi dengan standar dan kualitas yang lebih baik, sehingga hak dan kewajiban para pemain, pelatih dan perangkat pertandingan dapat terpenuhi secara lebih baik,|” bunyi pertanyaan ketujuh.
Adapun sikap ke delapan, PSSI, diharapkan menyikapi sanksi FIFA ini secara obyektif dan bijak. Ke sembilan, Pimpinan Pemda baik Pemrov maupun Pemkot dan Pemkab, diharapkan untuk turut bersama-sama membangun persepakbolaan nasional ke arah yang lebih baik.
“Sanksi FIFA ini tidak perlu diratapi secara berlebihan. Memang kita dihadapkan pada pilihan sulit karena untuk sementara waktu kita harus prihatin, karena tidak bisa menyaksikan  tim nasional Indonesia dan beberapa klub kita tidak bisa berlaga di event internasional, terkecuali di event Sea Games 2015 di minggu depan ini di Singapura,” bunyi pernyataan ke 10.
Dan  Terakhir Kemenpora mengajak menghormati statuta FIFA dan menekankan bahwa loyalitas pada FIFA harus dilakukan secara 
comments

Asing Arema Siap Hengkang ke Luar Negeri

Share
Arema Cronus menyebut sanksi FIFA sangat merugikan Indonesia. Terutama, para pemain yang berharap bisa membela timnas dan tampil di ajang internasional. CEO Arema, Iwan Budianto mengatakan bahwa skuad Singo Edan sedang dirundung kesedihan.
“Yang jelas para pemain sedang merasa sedih. Manajemen pun demikian. Namun, bagi saya yang paling merasa rugi dan kesal adalah pemain. Kesempatan untuk tampil di liga tidak ada. Sekarang, membela timnas pun tidak bisa,” kata IB, sapaan akrabnya kepada Malang Post kemarin.
Mantan manajer timnas tersebut menyebut, saat ini situasi skuad Arema tidak kondusif. Apalagi sanksi FIFA tersebut berdampak nyata untuk para pemain. Tak peduli pemain lokal maupun asing, IB menyebut suasana tim tak lagi ceria. Sebab, ini kali pertama Indonesia terkena sanksi FIFA.
“Dampak nyata sanksi FIFA adalah pemain Arema putus asa. Saya rasa, bukan pemain Arema saja. Para pemain tim lain pun merasakan hal sama. Termasuk, Persipura Jayapura yang akhirnya tak bisa tampil di AFC Cup karena sanksi ini,” tandas IB.
Pelatih Arema, Suharno pun sangat kecewa. Untuk kali pertama sepanjang karirnya sebagai pemain dan pelatih, Suharno jadi tahu rasanya menjadi pelaku bola di negeri yang disanksi FIFA. “Sebagai pelatih dan pemain, saya benar-benar merasa bingung, bingung, bingung. Gimana gak bingung? Tanggungjawab kita banyak,” kata Suharno, dikonfirmasi terpisah.
“Pemain dan pelatih pun punya keluarga, harus menghidupi anak istri. Yang belum menikah pun, pasti punya tanggungan kepada orang tua dan saudara. Mencicil rumah dan kebutuhan lainnya. Pikiran saya sudah tak menentu,” tambah Suharno.
“Yang paling sedih, Wakil Presiden, tokoh bola Agum Gumelar hingga Rita Subowo, tidak digubris sama sekali. Kalau orang Jawa bilang, inggih-inggih mboten kepanggih. Bilangnya iya di depan, tapi di belakang tidak,” sambung pelatih asal Klaten itu.
“Sekarang apa yang mau dipertanggungjawabkan Menpora dan Presiden? Apa perubahan yang mau diberikan? Apa perubahan itu bisa terjadi sekarang? Lalu, dengan perubahan itu apa pemain dan pelatih bola bisa makan?,” ujar Suharno kesal.
Saat pemain lokal dan pelatih bola kehilangan sandang pangan, pemain asing pun sama bingungnya. Saat ini, Fabiano Beltrame masih menunggu. Sebab, setahu Fabiano, sanksi FIFA memberinya pilihan untuk pergi ke luar negeri, atau tetap di Indonesia dengan resiko ITC dicabut.
“Saya belum pikirkan harus apa. Kalau boleh pilih, saya ingin tetap di Indonesia. Saya kerasan di sini. Sudah 10 tahun lamanya saya tinggal di Indonesia dan  mencintai negeri ini. Tapi, kalau terpaksa keluar negeri, apa boleh buat,” kata Fabiano.
Defender asing Arema ini menyebut, ada beberapa negara yang bisa jadi referensinya untuk tetap berkarir. “Saya sempat ada tawaran dari Malaysia dan Thailand untuk main di sana. Tapi, belum ada tawaran lagi sampai sekarang. Untuk saat ini, saya tunggu saja manajemen. Karena, ada janji gaji 25 persen,” tambahnya.(fin/jpnn/ary)
comments

Prioritas Hadapi Maung

Share
MALANG – Arema Cronus masih terus melanjutkan sesi latihannya hari ini. Tepatnya, sore hari (1/6), Singo Edan bakal menggelar latihan di lapangan Abd Saleh. Pelatih Arema, Joko “Gethuk” Susilo mengatakan, sesi latihan masih fokus pada general training.
“Kita masih menggelar latihan Senin sore di lapangan Abd Saleh. Materi kita general training, tapi dengan variasi agar pemain tidak bosan. Kita fokus meningkatkan performa, sembari tunggu jadwal ujicoba dari manajemen,” tutur Gethuk kepada Malang Post, kemarin.
Pelatih domisili Sawojajar 2 ini menegaskan, sesi latihan tetap digelar meskipun ada sanksi FIFA untuk Indonesia. Sampai saat ini, Gethuk belum mendengar ada instruksi manajemen untuk berhenti atau membubarkan tim begitu sanksi FIFA dijatuhkan untuk Indonesia.
“Belum ada instruksi dari manajemen untuk membubarkan tim. Kita akan latihan seperti biasa. Kita pun menyiapkan tim untuk ujicoba dan eksibisi. Semoga dalam beberapa hari ke depan ada kabar eksibisi,” sambung pelatih berlisensi B AFC ini.
Sementara itu, Media Officer Arema, Sudarmaji mengatakan, dalam waktu dekat ada wacana ujicoba lawan Persib Bandung.
“Wacana ujicoba lawan Persib masih dibahas. Selain lawan Persib, kita juga menerima undangan tanding dari luar kota,” kata Sudarmaji, dikonfirmasi terpisah.
Sudarmaji menegaskan, laga eksibisi lawan Maung Bandung sangat diprioritaskan oleh manajemen. Sebab, skuad Arema bakal mendapat lawan tanding yang lebih hebat, terutama karena Persib diperkuat pemain-pemain kelas nasional.
Persib pun mampu menembus babak lanjutan AFC Cup, meskipun akhirnya takluk dari Kitchee FC. “Kita sangat berharap ujicoba lawan Persib. Kita tunjukkan kepada pemerintah bahwa keberlangsungan sepakbola adalah perlu,” tutupnya. (fin/jon)
comments

Jadi Pemain Amatir

Share
MALANG – Pupus sudah harapan I Gede Sukadana untuk membela tim nasional di kancah internasional. Pemain asal Bali itu mengubur mimpinya dalam-dalam, setelah Indonesia dijerat sanksi FIFA, berupa embargo sepakbola. Sukadana menyesal karena para pemimpin bola di republik ini hanya mementingkan ego dan kepentingan, tanpa mendengar suara hati pemain.
Dikonfirmasi kemarin oleh Malang Post, Sukadana menyebut statusnya sekarang bukan lagi pemain profesional.
“Status profesional itu kan untuk bermain di liga nasional dan luar negeri. Kalau sekarang, semua pemain Indonesia adalah pemain amatir. Status profesional gak ada gunanya karena sanksi FIFA,” tutur Sukadana.
Pemain gelandang tersebut menyesalkan situasi saat ini. Apalagi, dia salah satu pemain yang punya mimpi untuk berkostum timnas dan bertanding di even internasional. Dengan sanksi ini, akses Indonesia untuk tampil di ajang kelas dunia, tertutup rapat.
“Sangat merugikan pemain. Misalnya ada liga pun, liga kita adalah liga sanksi FIFA. Gak ada tujuan lebih kalau jadi juara. Cita-cita pemain untuk masuk timnas juga gak akan bisa, gak mungkin timnas main di event internasional kalau gini,” sambung pemain yang mengoleksi tato di sekujur tubuhnya itu.
Sukadana sebenarnya berharap ada solusi selain sanksi FIFA saat konflik PSSI-Menpora mengerucut. Dua pihak yang berselisih bisa mengesampingkan ego masing-masing, dan tak mengorbankan pemain yang hidup dari memeras keringat bermain bola.
Namun, perselisihan itu sama sekali tidak mereda. Bahkan, Sukadana kesal karena tak ada niatan dari kedua pihak untuk berdamai. Praktis, para pemain sepakbola paling menderita. Mereka mengais rezeki dari pertandingan dan kompetisi.
“Kesal dan menyesal dengan situasi ini. Pemain hanya berharap Menpora dan BOPI cabut pembekuan PSSI, lalu kita bisa lepas dari sanksi dan main bola di Liga. Banyak sekali yang dirugikan kalau kondisi seperti sekarang,” tutup Sukadana.(fin/jon)
comments

Dikucilkan, Siapa Mau Tanggungjawab?

Share
MALANG – Sepakbola Indonesia memasuki era kegelapan. FIFA mengumumkan bahwa PSSI resmi mendapat sanksi FIFA. Dikonfirmasi kemarin, Wakil Ketua Umum PSSI, Hinca Pandjaitan menyampaikan kabar buruk ini dengan nada penuh penyesalan.
“Kami yang ada di Swiss merasakan kesedihan mendalam. Kami mendengar sendiri FIFA memastikan Indonesia akan kena sanksi alias suspended hingga tempo waktu yang tidak terbatas alias tidak ditentukan,” kata Hinca ketika dihubungi Malang Post ,tadi malam.
Tiga perwakilan Indonesia, Ketua Umum PSSI La Nyalla Matalliti, Hinca dan Sekjen PSSI Azwan Karim, menjadi saksi sejarah kekelaman bola Indonesia dari dampak sanksi FIFA. Persipura Jayapura, yang sedang memperjuangkan diri di AFC setelah insiden paspor Pahang FA, terancam tak bisa lanjut lagi di babak berikutnya.
Lalu, timnas U-23 yang saat ini berada di Singapura, juga terancam harus pulang lebih cepat. Pendek kata, sanksi FIFA adalah embargo sepakbola yang mencegah Indonesia berhubungan dengan event sepakbola internasional. Hinca menyebut, sanksi FIFA diutarakan oleh Administratif Exco FIFA.
Meski demikian, PSSI masih memperjuangkan nasib  timnas U-23 yang akan tampil dalam  SEA Games. “Kami berusaha sebaik mungkin, untuk lobi timnas U-23 tetap main di SEA  Games. Semoga masih bisa tampil hingga tuntas di SEA Games. Soalnya, kami dapat kabar timnas sudah di Singapura,” sambung Hinca.
Menurutnya, sanksi FIFA bakal menjadi ujian bagi PSSI untuk bisa mandiri setelah intervensi pemerintah lewat Menpora. Sebab, meskipun PSSI tak lagi aktif di persepakbolaan internasional, status keanggotaannya di FIFA masih berlaku.
Agum Gumelar, Ketua Kehormatan PSSI  menyebut bahwa meskipun PSSI disanksi, status keanggotaannya masih tetap ada. “Keliru besar kalau ada yang bilang PSSI disanksi FIFA terus bisa dikuasai dengan mudah oleh pihak lain. Itu pendapat yang keliru. PSSI tidak dihapus keanggotaannya. Dia hanya disuspend. Sanksi itu ujian apakah bisa lepas dari intervensi pemerintah,” kata Agum.
Tak heran, saat PSSI masih dicawe-cawe oleh Menpora, sanksi embargo sepakbola, bisa bertambah panjang. FIFA berjanji, sanksi FIFA dicabut apabila Menpora tak lagi intervensi. Praktisnya, Menpora harus cabut SK pembekuan 17 April, apabila ingin sepakbola Indonesia dapat kesempatan tampil di venue internasional.  
Sementara itu, Arema kecewa dengan pemerintah yang menganggap sanksi FIFA hanya gertak sambal. “Kita prihatin dan sedih. Warning yang disampaikan pecinta bola dianggap pemerintah sebagai gertak sambal belaka. Menpora acuh. Sekarang sanksi diturunkan. Kita dikucilkan.  Kalau sudah seperti ini, siapa yang mau tanggungjawab?,” tandas Sudarmaji, Media Officer Arema.
 “Pemerintah harus bangun siuman untuk cabut SK pembekuan dan menghormati putusan PTUN, jika tidak sanksi FIFA akan lama untuk dicabut,” tambahnya.(fin/nug)
 
comments

JPAGE_CURRENT_OF_TOTAL