Arema Sport | Malang Post

Malang Post

Arema Sport

Berita terbaru dan terlengkap  tentang Arema - Aremania

Senang Ikut Ayah Latihan

LUCU: Anak-anak pemain Arema Cronus asal Amerika Latin ikut latihan di tepi lapangan. (Stenley rehardson/malang post)

Arema Cronus memiliki tiga pemain berdarah Amerika Latin dalam mengarungi TSC 2016 ini. Tiga pemain itu adalah bomber naturalisasi Cristian Gonzales, gelandang Esteban Vizcarra dan penyerang Gustavo Giron. Ketika Gonzales telah kembali berlatih bersama tim, Senin (23/5) lalu, nuansa ini kental di tengah lapangan dan pinggir lapangan, dengan ciri khas gocekan maut yang kerap dipertontonkan oleh pemain asal Amerika Selatan.
Ya, suasana bisa sampai ke sisi luar lapangan. Pasalnya, anak-anak dari Gonzales, Giron dan Vizcarra, ikut berlatih di pinggir lapangan. Dengan pengawasan dari ketiga istri pemain ini, Fernando dan Vanessa anak dari Gonzales, Alex Roman putra dari Vizcarra dan Emilio Andreas buah hati Giron, menggocek sisi selatan stadion.
Empat anak-anak ini beraksi, memainkan bola di jala sisi selatan. Ke empatnya, secara kompak memainkan bola, baik yang berukuran kecil, hingga bola berukuran normal yang biasa dipakai latihan tim. Dari kaki empat bocah ini, terlihat jelas bakat turunan dari tiga pemain Arema tersebut.
Fernando dan Vanessa misalnya. Nando, meskipun bertubuh agak gemuk, terlihat piawai menggocek bola. Dia coba menghindari rebutan dari Vanessa, saudara perempuannya yang tidak kalah juga. Mereka terlihat saling adu tendangan, serta bermain dengan Alex dan Emilio.
Empat bocah ini, asyik bermain, ketika ayah mereka serius melahap latihan. Bahkan, Alex Vizcarra, juga beberapa kali menirukan gaya Esteban ketika mengambil tendangan sudut. Dengan sedikit ancang-ancang, Alex yang baru berusia empat tahun, melakukan crossing dan dilepaskan kepada Fernando.
“Gayanya, menirukan ayahnya. Alex, suka sekali bermain sepak bola,” ujar Istri Esteban, Resti Ayu Ferdina.
Menurut dia, Alex sangat senang ketika mengikuti ayahnya berlatih. Saat di rumah, menurut Resti, bocah yang gemar menirukan selebrasi gol Cristian Gonzales ini, juga senang bermain sepak bola.
Emilio, putra dari Gustavo Giron pun tidak mau kalah. Meskipun berusia paling kecil, yakni satu tahun 10 bulan, bocah ini juga sudah mampu menendang bola dengan tepat. Termasuk membidik sasaran, jika tiga temannya tadi menunggu di sisi depannya. Hanya saja, karena masih anak-anak, tendangannya belum begitu keras.
Kelincahan empat putra keturunan Argentina, Uruguay dan Kolombia ini pun, membuat orang tuanya santai ketika menjaga mereka. Keempatnya, tidak rewel ketika mengikuti sang ayah berlatih. “Kalaupun rewel, wajar anak kecil. Seperti rebutan bola,” ujar Eva Gonzales, istri El Loco.
Seperti ketika Alex, menendang bola yang dibawa oleh Emilio. Bocah yang mengenakan seragam Barcelona ini menangis meminta bola kepada ibunya, Suzana.  Sementara itu, menurut Eva, mereka cukup senang mendampingi keaktivan putra-putrinya, selain menunggui sang suami.
Eva, Suzana dan Resti pun, terlihat kompak di tepi lapangan. Terlihat beberapa kali berbincang akrab, sembari menunggui anak dan suaminya berlatih sepak bola. (ley)

Tanpa Hendro, Kartu Kuning Hantui Pemain


MALANG – Selepas libur dua hari pasca laga di Tenggarong, Arema langsung tancap gas, Senin (23/5) kemarin sore. Pelatih Milomir Seslija mencoba mencari formula yang tepat untuk Hamka Hamzah dkk. Formula ini penting, karena dalam laga melawan Gresik United, Jumat (27/5) depan Singo Edan kehilangan Hendro Siswanto. Di sisi lain, dua pemain tengah yakni Srdjan Lopicic dan Ferry Aman Saragih, sudah mengantongi dua kartu kuning.
Arema kehilangan Hendro, karena pemain ini mendapatkan hukuman tambahan usai aksi tendangan berbuntut kartu merah, ketika menghadapi Madura United. Pemain asal Tuban yang sudah absen ketika Arema bertemu Bhayangkara Surabaya United (BSU), Minggu (15/5) lalu, harus kembali absen di pekan ke lima melawan Gresik United (27/5) dan ke enam bertemu PSM Makassar (12/6).
“Saya masih belum tahu kepastiannya dengan hukuman Hendro, tetapi saya harus menyiapkan beberapa alternatif lain sejak awal,” ujar Pelatih Milomir Seslija.
Menurut dia, tanpa pemain dengan nomor punggung 12 itu, memang kehilangan besar baginya. Akan tetapi, dia meyakini, terutama untuk laga terdekat tidak akan mempengaruhi persiapan Arema. Sebab, kondisi serupa juga sudah dialaminya bersama tim sebelum melawan BSU. Singo Edan, tetap tangguh tanpa Hendro, karena Ferry yang didapuk mengganti di posisi gelandang tengah, mampu menggantikannya dengan sangat baik.
“Saya sebenarnya memiliki beberapa alternatif. Seperti memasang Ferry atau Revi (Juan Revi, Red) sebagai pemain tengah,” beber dia kepada Malang Post.
Selain itu, menurut pelatih asal Bosnia ini, timnya juga bisa menjajal formasi yang tidak lazim digunakan selama ini, yakni 4-2-3-1, yang membuat Arema memainkan Hendro dan Raphael Maitimo sebagai gelandang bertahan. Tetapi, dia masih ingin melihat timnya dalam beberapa kali latihan lagi. Sebab, kini klub kelahiran 1987 itu juga memiliki alternatif pemain di lini tengah, yakni Ahmad Nufiandani.
“Inilah yang akan dihadapi klub dalam kompetisi. Arema harus siap kehilangan pemain dan memanfaatkan pemain lain,” tambahnya.
Pelatih yang akrab disapa Milo itu mengatakan, kedatangan dua pemain baru itu juga turut membantu. Meskipun secara posisi bukan sebagai gelandang jangkar, setidaknya Milo bisa mengutak-atik posisi beberapa pemain. Seperti dalam laga terakhir lalu, ketika Hendro dijajal sebagai bek kanan, pelatih ini mengubah banyak posisi.
“Nyatanya kami bermain lebih bagus meski di kandang lawan. Peluang kami sangat banyak, walau harus kalah,” kata Milo.
Namun, dia juga mewaspadai kondisi pemainnya di laga melawan Gresik United nanti. Pasalnya, setelah kehilangan Hendro, dia tidak ingin kehilangan pemain lagi, terutama di posisi tengah. Saat ini, tercatat Lopicic dan Ferry mengantongi dua kartu kuning. Kondisi demikian mengancam keberlangsungan timnya, jika mendapat satu kartu lagi.
Berdasarkan regulasi, pemain yang mendapatkan tiga kartu kuning dalam tiga laga berbeda, harus absen satu laga di pertandingan selanjutnya. “Ya, Lopicic dan Ferry sudah dapat dua kartu. Mungkin jumlah kartu mereka tidak tepat dengan kondisi tim yang membutuhkan tenaganya ketika masih ada pemain cedera dan absen,” papar dia panjang lebar.
Milo berharap, selain dua pemain ini bisa mengontrol diri ketika melawan Gresik United jika dia turunkan, pemain lain juga siap dengan taktik yang akan diusung Arema. “Kita akan lihat dulu, dengan berbagai pertimbangan dan prioritas, siapa yang harus turun,” imbuhnya.
Sementara itu, menurut Ferry, absen memang membayangi dia jika mendapat satu kartu kuning lagi. Namun, pemain kelahiran Kediri ini tidak ingin terbebani yang justru membuat penampilannya bisa tidak maksimal.
“Satu kartu lagi, absen. Tetapi saya ingin tetap fight melawan Gresik United,” tegas dia.
Menurut Ferry, jika dipercaya turun, dia akan main normal, tetapi mencoba menghindari kontak fisik yang bisa menghasilkan kartu. “Siapa yang mau dapat kartu. Selain saya rugi bisa tidak main, tim juga semakin kehilangan pemainnya,” papar Ferry.
Dia mengungkapkan, hal itu juga sudah dia lakukan ketika melawan Mitra Kukar lalu. Di laga itu, Ferry juga sudah terkena bayang-bayang absen jika melakukan pelanggaran. Tetapi nyatanya, dia bisa menjaganya selama 45 menit di lapangan.
“Mengontrol diri justru susah ketika di kandang lawan. Semoga tidak terkena lagi dan tetap bisa bermain melawan PSM Makassar,” pungkas dia.(ley/ary)

Kembali Dapat Teguran

TERIAK KERAS: Pelatih Arema Cronus Milomir Seslija berteriak keras saat memberikan instruksi kepada pemainnya. (Ipunk purwanto/malang post)

MALANG – Ketakutan Arema Cronus akan teguran dari PT Gelora Trisula Semesta (GTS) karena menyalanya flare dan smoke bomb (bom asap), terbukti. Pasalnya, pada laga menjamu Bhayangkara Surabaya United (BSU), Minggu (15/5) pekan lalu, smoke bomb sempat muncul di akhir pertandingan.
Akibatnya. Arema kembali menerima surat teguran per tanggal 21 Mei 2016. Arema pun diminta memberikan klarifikasi paling lambat Senin (23/5) siang kemarin.
Surat peringatan tegas bernomor 029//GTS-DISIPILIN/V/2015 ini, mengenai tindakan penyalaan smoke bomb yang terjadi di penghujung babak kedua.
“Manajemen kembali mendapat teguran terkait penyalaan flare dan smoke bomb. Ini sesuai ketakutan kami selepas laga,” ujar Media Office Arema, Sudarmaji.
Menurutnya, dalam isi surat itu dengan tegas menuliskan jika PT GTS menemukan fakta dan indikasi terjadinya pelanggaran Kode Disiplin ISC dalam pelaksanaan pertandingan TSC 2016. Antara Arema melawan BSU, 15 Mei 2016 dan tindakan penyalaan itu dilakukan oleh supporter Arema.
“Karena itu, selain mendapat ‘surat cinta’ dari PT GTS, kami juga harus memberikan klarifikasi. Paling lambat siang ini (kemarin, Red), pukul 12.00 WIB,” beber dia kepada Malang Post.
Menurut dia, dalam surat itu belum ada keputusan sanksi kepada Arema. Pasalnya, sanksi akan disidangkan oleh Komdis, setelah melihat klarifikasi yang diberikan oleh Panpel Arema terkait kejadian tersebut.
“Kami sudah jelaskan tentang kejadian itu. Juga upaya sebelum laga, yang sejak jauh hari agar tidak ada nyala flare atau bomb smoke,” papar dia panjang lebar.
Sudarmaji mengakui, teguran itu adalah imbas dari aksi nekat dari oknum Aremania yang dengan jelas menyalakan bomb smoke. Sebenarnya, ada juga flare yang menyala, namun dalam hitungan detik, dari panpel berhasil memadamkan nyala flare.
Kini, Arema pun tengah menunggu keputusan dari Komdis. Namun dia berharap, klarifikasi dari manajemen bisa menolong hukuman yang akan dijatuhkan. Sebab, manajemen dan panpel Arema tidak ingin jika hukuman sangat berat, seperti berlaga tanpa penonton atau malah laga usiran. “Hal itu justru merugikan klub kalau sampai terjadi. Sebab, Arema juga butuh support Aremania,” tegas dia.
Sudarmaji berharap, supporter bisa mengambil pelajaran. Tidak hanya soal flare atau bomb smoke, tetapi juga lagu-lagu rasis yang biasa terdengar di stadion. “Sudah saatnya supporter dewasa. Upaya kami untuk sosialisasi, juga sudah tidak kurang,” tambah pria asal Banyuwangi ini.
Dalam laga melawan BSU lalu, tercatat paling kentara smoke bomb menyala di tribun 7 stadion. Selain itu, nyala bom asap juga berlangsung di tribun 10 dan tribun 6. Sedangkan flare, menyala di tribun 12 namun dengan cepat dipadamkan oleh petugas panpel.
Sementara itu, menurut dia, Panpel pertandingan akan mengupayakan hal serupa tidak terjadi di laga home berikutnya. Namun, dia juga masih meminta kesadaran juga tumbuh dari supporter dengan sendirinya. (ley/jon)

Tetap Absen Lawan Gresik

DI TEPI LAPANGAN: Ahmad Bustomi dan Cristian Gonzales sudah gabung latihan meski harus ditepi  lapangan. (Ipunk purwanto/malang post)

MALANG – Dua pemain yang absen sepanjang Mei ini, yakni Cristian Gonzales dan Ahmad Bustomi, telah hadir berlatih bersama Hamka Hamzah dkk, di Stadion Gajayana, Senin (23/5) kemarin sore.  Selain itu, dua pemain anyar yang bergabung di detik-detik terakhir pendaftaran TSC 2016, Ahmad Nufiandani dan Febri Hamzah, membuat latihan diikuti oleh 26 pemain.
Praktis, dalam latihan pertama sebagai persiapan tim melakoni pekan ke lima melawan Gresik United, Jumat (27/5) depan, Arema hanya ditinggal dua pemain saja. Yakni Dendi Santoso dan Antoni Putro Nugroho, yang masih menjalani pemulihan cedera kakinya.
Cristian Gonzales, menepati janjinya yang ingin bergabung dalam latihan setelah tiga pekan berada di rumah sakit. Dia yang sejak sepekan terakhir mulai menjalani latihan ringan di Surabaya, kemarin sudah turut berlatih, sekalipun masih di bawah pengawasan ketat dokter tim Arema.
Gonzales, setelah melakoni pemanasan, langsung menepi dan melahap latihan fisik bersama Masseur Arema, Samsul. Mantan pemain Persik Kediri ini tampak berlari ringan mengelilingi lapangan bersama Samsul.
Setelah itu, dia menerima latihan dari Sport Therapist, David Setiawan. Kondisi bomber berjuluk El Loco ini, sudah membaik seiring pengobatan yang tepat dan semangatnya untuk segera memperkuat Singo Edan.
“Sudah baik sekarang. Tetapi harus sedikit demi sedikit, tidak bisa langsung latihan berat,” ujar Gonzales.
Menurutnya, dia sudah merindukan suasana latihan bersama rekan-rekannya. Selain itu, beberapa aksi usilnya juga sempat membuat penggawa Arema lainnya tertawa.
Selain Gonzales, pemain tengah Ahmad Bustomi juga sudah menjalani latihan. Berada di sisi selatan lapangan, Bustomi melahap materi seperti push up, sit up dan penguatan kakinya yang cedera. Meskipun masih terlihat berhati-hati, pasca bagian sendi lututnya cedera, akhir Maret lalu, pemain ini berlatih penuh selama 90 menit bersama David Setiawan.
“Kondisi Bustomi sudah membaik. Dia sudah berani berlatih untuk mengembali kekuatan kakinya, terutama bagian meniscus yang akan terus dilatih agar pulih seperti semula,” ujar David Setiawan.
Menurut dia, pada cedera Bustomi ini, memang harus sangat berhati-hati. Pasalnya, kondisi cedera ini pada bantalan sendi lutut, yang berfungsi sebagai penahan benturan. Pekan depan, pemain ini diprediksi bisa mulai melakoni latihan dengan bola. “Untuk saat ini, bertahap dan yang dijalaninya masih melenturkan gerakan kaki,” beber dia kepada Malang Post.
Kembalinya dua pemain ini, disambut gembira oleh pemain Arema yang lain. Pasalnya, di samping telah lama menghilang, bisa menambah motivasi tim untuk melakoni laga selanjutnya. Tepuk tangan dari skuad Arema lain, diberikan untuk dua pemain ini sebelum memulai latihan.
“Selamat datang untuk Bustomi dan Gonzales. Tetapi, mereka masih berlatih ringan, mungkin 2-3 pekan lagi bisa bermain normal,” ujar Pelatih Arema, Milomir Seslija.
Namun demikian, kembalinya dua pemain ini di lapangan, masih belum berujung pada peluang mereka tampil bersama Arema, dalam laga melawan Gresik United, Jumat (28/5) mendatang. Pasalnya, selain masih rawan terkena cedera lagi bila terjadi benturan, secara fisik dua pemain ini masih bekerja keras.
“Mereka masih harus mengembalikan performa, selain menjalani pemulihan pada bagian yang cederanya. Untuk melawan Gresik, Gonzales dan Bustomi masih belum bisa turun,” tambahnya.
Besar kemungkinan, keduanya bisa diturunkan ketika melawan PSM Makassar, terutama untuk Cristian Gonzales. Pasalnya, dokter dan fisioterapis yang merawat Gonzales selama di Surabaya memprediksi pemain ini bisa berlatih normal pekan depan. Baru setelah itu, dia mengejar ketertinggalan fisiknya selama sepekan. Sedangkan untuk Bustomi, dokter tim masih melihat lagi perkembangan sepekan mendatang.
“Bisa jadi dia akan pulih sebelum laga melawan PSM Makassar. Tetapi dilihat perkembangan selama mengikuti latihan dan materi penguatan di pekan depan,” papar David Setiawan. (ley/jon)

Berawal dari Yongki

Ayu Alamshah

Suka pada sosok mantan striker Arema Cronus Yongki Aribowo,  membuat Ayu Alamshah menyukai klub berjuluk Singo Edan. Namun, sekalipun pemain idolanya itu tidak lagi di Bhumi Arema, perempuan asal Serang ini tetap menyukai dan mantap menyebut dirinya Aremanita.
"Awalnya, saya suka sama Yongki. Saya ingin melihat dia bermain, jadi tahu Arema itu seperti apa," ujarnya.
Namun, kesukaannya pada sosok Yongki akhirnya berlanjut pada kecintaannya pada Arema. Tanpa bisa menjelaskan secara rinci mengapa dia masih menyukai klub kelahiran 1987 ini, Ayu mengungkapkan akan selamanya menjadi Aremanita.
"Tim ini membuat saya jatuh hati sejak pertama kali melihatnya. Saya bangga sekarang walaupun tidak ada darah Malang dari keluarga saya," paparnya.
Dia menambahkan, selama di Malang dia pun mempelajari bahasa walikan khas Arema sehingga semakin mudah berkomunikasi dengan sesama Aremania. "Saya juga belajar bahasa Malangan, walaupun tidak sefasih teman-teman pastinya," tambah dia.
Menurut Ayu, untuk saat ini, dia menyukai semua pemain yang ada di Arema. Menurut dia, siapapun yang membela panji Singo Edan, harus didukung dan disukai. Walaupun, sebagai perempuan, dia tidak bisa memungkiri tertarik dengan sosok Alfarizi dan Hendro Siswanto.
"Ingin banget ketemu dua orang ini dan minta foto dengan mereka," tandasnya. (ley/jon)

JPAGE_CURRENT_OF_TOTAL