Malang Post

Kesandung Penggelapan Aset, Pendeta Bethany Tersangka

Share
MALANG POST  – Kedamaian di Gereja Bethany (Bethany) Jl. Tenaga Baru Malang, tengah dilanda prahara. Yusak Hadisiswantoro SE, salah satu pendeta Bethany telah ditetapkan Polda Jatim sebagai tersangka dalam kasus penggelapan aset berupa sebidang tanah dan bangunan Bethany.
‘’Setelah kami lakukan pemeriksaan beberapa saksi dan melakukan gelar perkara, kami simpulkan kasus ini ada unsur pidananya. Sehingga, pelapor yang sebelumnya berstatus saksi ditingkatkan menjadi tersangka,’’ kata AKBP Hadi Utomo, Subdit Hardabangta Dit Reskrimum Polda Jatim di Mapolda Jatim, Jumat siang.
Sementara itu, Arifin, Kuasa Hukum Bethany Malang menyebutkan, kasus dugaan penggelapan asset Bethany ini, bermula pada 26 Oktober 2007 yang lalu. Saat itu, Yusak memang menerima surat kuasa dari Pendeta Abraham Alex Sinoputra selaku Dewan Rasuli untuk mengelola aset Bethany di Malang.
Bentuk surat kuasanya, lanjut Arifin, Pendeta Abraham memberi kuasa Pendeta Yusak untuk mengelola semua aset Bethany. Dalam surat kuasa itu, tidak ada perintah sedikitpun bagi Pendeta Yusak untuk memiliki atau membalik nama kepemilikan aset Bethany sebagai aset milik pribadi.
‘’Ternyata, surat kuasa itu dijadikan landasan untuk menguasai aset Bethany. Pendeta Yusak tidak hanya mengelola aset Bethany, tapi dalam perjalannya malah berusaha mengalihkan aset Bethany menjadi aset pribadi,’’ tandasnya.
Arifin tidak menyebutkan secara detail proses pengalihan itu. Tapi, dari catatan Pendeta Alexander Yunus Irwanto di Bethany diketahui kalau Pendeta Yusak, lima tahun lalu, secara diam-diam mulai mengurus aset Bethany menjadi miliknya.
Melihat tindakan tidak terpuji inilah, maka pada 4 Maret 2013 lalu, Pendeta Alex melaporkan Pendeta Yusak ke Polda Jatim dengan bukti LPP/217/III/UM/SPKT.
‘’Terlapor (Pendeta Yusak) dilaporkan ke Polda Jatim karena telah membuat pemalsuan surat dan memberi keterangan palsu dihadapan notaris. Tujuannya mengalihkan aset gereja Bethany menjadi aset pribadi,’’ katanya.
Menurut dia, secara hukum aset berupa tanah dan bangunan Bethany di Tenaga Baru Malang, ditaksi senilai Rp 50 miliar. Karena aset itu milik jemaat  maka jika hendak mengubah menjadi aset pribadi harus sesuai AD/ART Gereja Bethany pasa 41 ayat 1 dan ayat 2. Isinya, pengalihan aset harus seizin dan melalui musyawarah Majelis Pekerja Sinode (MPS).
‘’Rupanya saat melakukan pengalihan di depan notaris, pelaku menggunakan surat keterangan palsu. Semua jemaat Bethany juga kaget melihat peristiwa ini. Karena itu, agar tidak berlarut-larut akhirnya dilaporkan ke Polda Jatim,’’ ungkapnya.
Dari data yang dihimpun Malang Post menunjukkan, aset Bethany yang berusaha dialihkan tersangka diantaranya Sertifikat Nomor 1770, yaitu sebidang tanah seluas 1.767 M2 di kelurahan Blimbing Malang.
Selain itu  ada lima bidang tanah lagi, ditambah bangunan masing-masing berdiri di atas ke lima bidang tanah tersebut.
Terkait peristiwa ini, Polda Jatim akan menjerat tersangka Pendeta Yusak dengan kasus pemalsuan surat dan memberi keterangan palsu pasal 184, pasal 263 dan atau pasal 266 KUHP. Polda Jatim telah menyita beberapa sertifikat palsu dan surat lainnya terkait kasus Pendeta Yusak. (has)
comments

This content has been locked. You can no longer post any comment.