Malang Post

Pendidikan

Siswa SMP Sasaran Empuk Narkoba

MALANG- Siswa SMP paling rentan menyalahgunakan narkoba. Karena itulah Badan Narkotika Nasional (BNN) Kota Malang menggalakkan pencegahan melalui MOU dengan Dinas Pendidikan Kota Malang. Penandatanganan kerjasama dilakukan dalam kegiatan Focus Group Discussion (FGD) diikuti beberapa perwakilan SMP di Kota Malang, perguruan tinggi dan Dinas Kesehatan Kota Malang di Gedung Dinas Pendidikan Kota Malang, (30/10/14).
“Potensi penyalahgunaan narkoba lebih banyak pada siswa tingkat SMP. Siswa SMP rawan terpengaruh dari hal-hal tidak  diketahui. Upaya pencegahan ini kami sosialisasikan kepada guru dulu supaya memahami. Kami membutuhkan peran BNN,” kata kasi informal Dinas pendidikan Kota Malang, Dra. Sri Handayani W. M.M kepada Malang Post.
FGD ini dihadiri 26 SMP Negeri dan 9 SMP Swasta.Pemateri acara terdiri dari BNN, perwakilan Universitas Negeri Malang dan Dinas Kesehatan Kota Malang. Para guru diharapkan lebih peka terhadap siswa dan membentuk kader siswa anti narkoba. Kader siswa anti narkoba juga berperan sebagai konseling siswa.
“Alasan remaja menggunakan narkoba disebabkan rasa galau, tidak mengetahui bahaya narkoba, coba-coba/ingin tahu, adanya kegoncangan emosi, tekanan kelompok sebaya dan punya kecenderungan melawan otoritas tatanan sosial,” ucap Penyuluh BNN Kota Malang, Rm. Achjadi.
Remaja yang memiliki kepribadian buruk cenderung mengkonsumsi narkoba. Menurutnya, biasanya mereka memiliki perasaan mudah kecewa, suka mencari sensasi, perasaan rendah diri, tidak diterima di masyarakat dan lingkungan buruk yang mempengaruhi.
Ia menegaskan, dampak penyalahgunaan narkoba sangat berbahaya. Dicontohkannya seperti rusaknya daya ingat, kerusakan sel otak, buta, kemampuan belajar merosot, menjadi pembohong, cenderung berbuat kriminal dan lain-lain.
“Parahnya, hal yang ditakuti pecandu adalah sakau, rasanya sakit sekali. Mereka rela melakukan kejahatan dan bunuh diri untuk terhindar dari sakau,” Achjadi menambahkan.
Menurutnya, maraknya peredaran narkoba tidak lepas dari faktor ekonomi. Tingginya keuntungan menjual barang haram dan resiko ketergantungan menyebabkan bisnis ini tumbuh subur. Antar pengguna dan pengedar memiliki ancaman kategori pidana pengedar, keduanya cenderung melakukan hal secara bersamaan. Ancaman bagi pengedar narkoba antara 5 hingga 20 tahun.
“Dulu narkoba adanya di café, diskotik, karaoke dan tempat hiburan malam. Sekarang dimana pun dapat terjadi peredaran narkoba. Dan seorang pengedar belum tentu pecandu,” ujar Achjadi.
Ia membeberkan, peredaran narkoba tidak selalu dengan harga mahal. Contoh yang marak, pil koplo. Keberadaannya beredar dengan harga berkisan Rp. 10 ribu per 8 butir. Ia mengatakan ciri-ciri pengguna narkoba, tidak fokus, malas, penyendiri, takut air dan sulit bersosialisasi.
“Saya antusias dengan kegiatan ini. Walau saya sudah tahu bahaya narkoba, saya menjadi lebih mantap. Psikologi remaja memang rentan terpengaruh,” kata salah satu peserta dari  SMP Islam Sabillillah, Ninduri. (mg4/oci)

Page 1 of 2009

  • «
  •  Start 
  •  Prev 
  •  1 
  •  2 
  •  3 
  •  4 
  •  5 
  •  6 
  •  7 
  •  8 
  •  9 
  •  10 
  •  Next 
  •  End 
  • »