Malang Post - Waspada Doxing

Minggu, 29 Maret 2020

  Mengikuti :


Waspada Doxing

Jumat, 21 Feb 2020

Hati-hati mengunggah dokumen dan data pribadi di internet dan media sosial (medsos). Bisa jadi sejumlah data personal anda akan digunakan oleh orang lain untuk menyerang diri anda. Kini marak perundungan melalui pencurian dokumen pribadi dengan niat untuk menyerang dan mempermalukan seseorang. Untuk itu para pengguna media daring perlu waspada dalam memublikasikan dokumen yang sifatnya personal.

            Sejumlah kasus penyalagunaan dokumen pribadi dialami beberapa pihak, termasuk menimpa politisi, wartawan, selebritis, kelompok kritis, dan masyarakat biasa. Pencurian data pribadi tak jarang dipakai sebagai sarana perundungan kepada seseorang. Dokumen seseorang sengaja dimanipulasi dan dikesankan seolah-olah hasil manipulasi itu benar selanjutnya digunakan sebagai senjata menyerang orang tersebut.

            Tindakan pencurian dan manipulasi data ini semakin dimudahkan oleh melimpahnya data yang tersedia secara online. Situasi ini diperburuk oleh sikap kekuranghati-hatian kebanyakan masyarakat yang sering mengunggah dokumen pribadinya. Melalui internet dan medsos banyak orang justru mengumbar sesuatu yang sesungguhnya privasi justru menjadi konsumsi publik. Dorongan untuk selalu eksis dan narsis dari netizen dan pengguna medsos semakin memudahkan orang melakukan pencurian dokumen.

 

Fenomena Doxing

            Menurut PW Singer dan Allan Friedman (2014), doxing adalah tindakan mengungkapkan dokumen pribadi di depan umum yang merupakan bagian dari aksi protes, lelucon, atau tindakan main hakim sendiri. Doxing biasanya dilakukan dengan niat mempermalukan orang lain dengan cara mengumpulkan beragam informasi pribadi tentang orang tersebut kemudian menggunakan informasi tersebut sebagai amunisi untuk melancarkan serangan jahatnya.

            Doxing merupakan tindakan yang tak hanya didasari oleh unsur kebencian, penghinaan, dan niat mempermalukan orang saja. Dalam kasus tertentu, doxing bisa dilakukan sebagai bentuk kritik atau protes. Bahkan kalau materi yang dinilai sebagai penghinaan itu berupa lelucon, maka bisa jadi ada kritik yang disampaikan lewat gaya eufimisme lewat lelucon tersebut. Doxing juga biasa dilakukan untuk membungkam seseorang agar tak kritis lagi.

            Korban yang bisa menjadi sasaran doxing ini tak hanya pejabat publik semata. Para figur publik seperti artis dan selebritis juga tak lepas jadi target praktik doxing ini. Kelompok rentan seperti jurnalis, aktivis, dan kelompok minoritas juga bisa jadi sasaran doxing. Bahkan masyarakat kebanyakan juga bisa menjadi sasaran empuk orang yang melakukan pencurian data pribadi untuk tujuan penghinaan, protes, kritik, dan main hakim sendiri.

            Semua orang dengan gampang bisa melakukan doxing. Tanpa punya keterampilan khusus orang bisa berselancar ke akun-akun pribadi orang lain dan melakukan copy paste terhadap semua data yang dikehendaki. Kondisi ini juga semakin dipermudah oleh sifat data di internet yang terbuka dan berlimpah. Wujud datanya juga beraneka rupa, seperti foto, video, nomor kontak, hingga informasi pribadi dan rahasia juga gampang ditemukan di internet.

            Kemudahan mendapatkan data pribadi juga disebabkan oleh ketidakhati-hatian pengguna internet yang suka mengunggah informasi pribadinya. Tak jarang kejahatan penipuan dunia maya berawal dari data-data personal yang diumbar oleh pemiliknya di akun medsosnya. Akhirnya informasi yang sifatnya personal tersebut justru menjadi bahan orang lain dalam melakukan aksi kejahatan.

            Bagi pejabat publik dan para pesohor, data personal bisa jadi bukan dirinya yang mengunggah. Namun bisa jadi karena pemberitaan media massa maka sejumlah gambar, video, atau materi tentang sosok tertentu bisa tersedia di dunia maya. Tak rumit untuk menemukan sejumlah foto, video, pemberitaan, dan aneka informasi tentang sang pesohor di internet. Orang cukup mengetikkan kata kunci (keyword) tertentu maka beragam data pribadi seseorang akan muncul.

 

Perlindungan Data Pribadi

            Semenjak munculnya internet, juga medsos, aneka kejahatan selalu menemukan bentuk barunya. Penipuan dengan beragam modus operandi bermunculan beraksi lewat medsos. Kasus ujaran kebencian, penghinaan, dan penyebaran berita bohong juga terus terjadi dan menggelinding membesar bak bola salju. Sejumlah kasus memang telah terjerat oleh Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) dan pelakunya dijebloskan ke penjara.

            Doxing telah digunakan sejumlah orang sebagai cara perundungan dan tak tik balas dendam. Perundungan digital ini sering muncul di forum-forum dan sejumlah komunitas online. Di Indonesia doxing jelas dilarang dan diatur dalam Undang-Undang. Pasal 26 UU ITE menyebutkan bahwa informasi pribadi seseorang, tidak boleh digunakan (dan disebarluaskan) tanpa seizin pemilik informasi pribadi tersebut.

            Perilaku mencuri dan penyebarluasan data pribadi juga merupakan pelanggaran atas hak privasi seseorang. Melanggar jaminan perlindungan hak pribadi dan jaminan kebebasan hak berpendapat warga negara yang dijamin Pasal Pasal 28E ayat (2) dan (3) serta Pasal 28G ayat (1) Undang-undang Dasar 1945. Penyebaran identitas seseorang oleh media juga tak dibenarkan dalam ketentuan kode etik jurnalistik pasal 2 tentang profesionalitas dalam menjalankan tugas jurnalistik.

            Dari beberapa kasus perundungan melalui doxing seakan tak menjadi pelajaran yang berharga. Masih saja terus berulang kasus-kasus hukum yang dipicu karena ketidakhati-hatian dalam berkomunikasi lewat dunia maya. Penggunaan beragam platform medsos seperti Facebook, Twitter, Instagram, Youtube, dan media pertemanan semacam WhatsApp masih belum  dibarengi dengan kemampuan melek media digital yang cukup.

            Selain itu, perlindungan terhadap data pribadi juga menjadi sesuatu yang urgen. Penyelesaian RUU Perlindungan Data Pribadi (PDP) menjadi  prioritas yang hendaknya bisa disegerakan oleh pemerintah. Dalam draf RUU PDP Pasal 51 Ayat (2) dinyatakan bahwa setiap orang dilarang secara melawan hukum mengungkapkan data pribadi yang bukan miliknya. Regulasi yang mengatur masalah data pribadi ini kelak bisa menjadi proteksi masyarakat dari penyalagunaannya.

            Saat teknologi informasi dan komunikasi semakin canggih, tak hanya menjaga mulut dari berucap yang dapat menghina seseorang, namun menjaga jari dari keinginan untuk memosting sesuatu yang tak etis juga harus menjadi perhatian. Benar kata ungkapan bahwa jarimu adalah harimaumu. Maka hati-hati menjaga jari sama pentingnya seperti halnya menjaga mulut agar tak terjerumus dalam kasus hukum karena pasal perundungan dan penghinaan. (*)

 

Oleh : Sugeng Winarno

Pegiat Literasi Media, Dosen Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Muhammadiyah Malang (UMM)

Editor : Redaksi
Penulis : Sugeng Winarno

  Berita Lainnya





Loading...