Usaha Keramba, Warga Selorejo Konflik | Malang POST

Senin, 17 Februari 2020 Malang Post

  Mengikuti :


Sabtu, 11 Jan 2020,

BATU - Pemanfaatan Bendungan Selorejo, Kecamatan Ngantang, Kabupaten Malang dengan pemasangan Karamba Jaring Apung membuat perselisihan antar warga. Perusahaan Umum (PERUM) Jasa Tirta I akhirnya mengakomodir keinginan warga, usaha keramba harus mendapatkan izin.  
Konflik antar warga terjadi sejak Agustus 2019 lalu. Konflik ini menyebabkan adanya perpecahan antara warga karena ada warga pro kontra. Warga yang pro adalah kelompok membuat jaring apung. Sedangkan warga kontra, mereka adalah sebagai nelayan, pemilik perahu dan pemancing ikan. Bahkan ada juga konunitas Mancing Mania Ngantang (MMN).
Perum Jasa Tirta I akhirnya menggelar sarasehan pengelolaan perikanan darat di Waduk Selorejo, Kacamatan Ngantang, Kabupaten Malang Jumat (10/1). Dalam sarasehan tersebut dihadiri oleh semua elemen atas Waduk Selorejo. Suasana sempat memanas, namun akhirnya bisa diredam.
Suhartono, Kades Sumberagung, perwakilan warga kontra menyampaikan keluhan warga yang hidup dari Waduk Selorejo dan sekitarnya. Ia menyampaikan beberapa poin penting dalam pertemuan itu. Poin itu antara lain, keramba apung dan sekat mengurangi lingkup gerak warga masyarakat kecil yang hidupnya dari bendungan. Misalnya mereka yang hidup dari memancing dan menjala.
"Dengan adanya keramba apung dan sekat, nelayan yang memancing dan menjala semakin kecil pendapatannya. Bahkan ruang gerak dalam memancing terbatas," ujar Harto dalam forum.
Sebaliknya, lanjut dia, mereka yang punya keramba hasilnya berlimpah, bukan kwintal lagi tetapi ikan dalam jumlah ton. Hasilnya keramba tersebut digunakan untuk warga secara pribadi. "Ini artinya tidak adil. Apalagi saat ini bendungan yang menjadi tanggung jawab Perum Jasa Tirta I wes asat (mengering)," imbuhnya.
Harto ingin suara mampu diakomodir oleh Jasa Tirta dan sepenuhnya keputusan  diserahkan kepada Jasa Tirta. "Dengan adanya polemik ini masyarakat kami telah terjadi gap, singgung-singgungan, gelut (berkelahi), perahu dipotong hingga ditenggelamkan. Saya mohon pemerintah Provinsi, dan Kabupaten Malang, memberikan keputusan yang adil bagi masyarakat," harapnya.
Sementara itu, perwakilan pro, Miskan menyampaikan, dia bersama kelompoknya tidak menggunakan keramba apung. Tapi   hanya menggunakan keramba sekat. Ia juga mengungkapkan, buka usaha keramba, pendapatan meningkat dibanding nelayan dulu..
"Dulu tidak ada keramba pendapatan beda. Sekarang dengan adanya keramba pendapatan (kelompok) merata. Kami juga menyuarakan paling keras pencarian ikan dengan menggunakan sodok," bebernya.
Ia juga mengungkapkan, kelompoknya mengembangkan benih ikan. Dia mengelak kelompok keramba menghasilkan ikan hingga hitungan ton. Tapi ikan tersebut hanya hitungan kwintal per hari.
Arief Setiawan, Kepala Departemen Hidro Informasi Perum Jasa Tirta I menyampaikan, tujuan sarasehan agar tidak ada konfik. "Ini untuk mengakomodir masukan dari semua warga agar tidak ada konflik dan gesekan," imbuhnya.
Keputusannya, pihak Jasa Tirta I tidak memberikan izin kepada usaha keramba di Waduk Selorejo. Sehingga dalam seminggu kedepan  Sabtu (18/1) harus didongkar oleh pemilik atau kelompok.
Jika tidak dibongkar dalam waktu satu minggu, Polsek Ngantang, Muspika Ngantang bersama masyarakat akan melakukan penertiban bersama. Mereka diperbolehkan kembali membuka usaha keramba setelah ada kajian dan izin dari Kementerian PUPR. (eri/feb)

Editor : Febri Setyawan
Penulis : Kerisdiyanto



Loading...