Malang Post - Transformasi Surya Hadi Kusuma, Sang Suporter Bugil

Selasa, 31 Maret 2020

  Mengikuti :


Transformasi Surya Hadi Kusuma, Sang Suporter Bugil

Rabu, 18 Des 2019

Pernah berada pada titik terburuk bahkan membuat tim kesayangannya, Arema FC mendapatkan denda, Surya Hadi Kusuma kini kapok. Ia bertransformasi menjadi suporter yang lebih bijak dalam mendukung Arema, namun tetap totalitas untuk tim kebanggaannya. Surya pernah menjadi trending topic dan pusat perhatian di sepak bola Malang Raya, April 2018 lalu.
Hal yang dilakukannya saat itu bukanlah sesuatu yang positif. Kala itu, aksi nekatnya berlari ke tengah lapangan hanya dengan menggunakan celana dalam, otomatis terekam sorot televisi. Yang menayangkan laga Arema melawan Persib Bandung di Stadion Kanjuruhan, Kepanjen.
Tidak hanya itu, aksinya yang kemudian dikejar oleh para steward (petugas keamanan), pada akhirnya berlanjut pada kericuhan sebelum laga berakhir. Banyak suporter yang tersulut untuk melakukan protes layaknya Surya Brantas, begitu ia dikenal karena kawasan Embong Brantas adalah tempat ia dulu sering nongkrong. Sebelum laga usai, suporter berhamburan ke tengah lapangan.
Surya mengakui hal itu adalah kesalahan terbesar dalam hidupnya ketika dia memberikan dukungan kepada Arema. Saat itu, dia bermaksud mendekati pemain Arema, meneriaki mereka dan memberikan semangat. Akan tetapi, aksinya salah, dan justru merugikan tim. Kericuhan, gas air mata, denda, dan bahkan ada korban jiwa.
"Kalau ingat peristiwa itu ya malu, lucu juga, saya merasa bersalah sekali. Tetapi waktu itu yang ada di pikiran saya adalah mengingatkan pemain. Saat itu Arema dalam trend jelek. Nggak pernah menang. Saya mau ngomong langsung ke mereka, untuk bermain dan tidak mempermalukan Arema," papar Surya.
Menurutnya, dia sangat emosi dan berusaha keras menerebos penjagaan di depan tribun ekonomi. Hingga akhirnya bisa lepas ke lapangan, berlari dari sisi utara dan akhirnya masuk ke lapangan.
"Setelah itu saya sering jadi guyonan. Banyak meme juga di Medsos. Lalu tetangga, saudara, teman. Ya marah, ya ngece. Makanya, kalau dipikir-pikir, kenapa harus sampai seperti itu," paparnya.
Belum lagi, dia mendapatkan dampratan habis dari pihak keamanan dan Panpel. Namun, dia harus bersyukur karena setelah kejadian dilepas dan tidak mendapatkan hukuman. Padahal, aksinya berdampak sangat fatal.
"Saya beruntung. Kalau seperti Mas Jules (Yuli Sumpil) yang sempat dilarang masuk stadion, pasti rugi besar. Saya tidak bisa lagi nonton Arema," ungkap pria berusia 30 tahun itu.
Ia pun langsung meminta maaf kepada manajemen Arema saat itu. Dia bertemu dengan Media Officer Sudarmaji. Sejak saat itu, dia mulai berubah.
Aksi dan dukungannya, kini sering terlihat di tribun VIP. Dia mendukung di tribun tersebut, yang lebih memungkinkan dirinya untuk menjaga sikap. Sebab, bila tidak, tentu saja sanksi mengancamnya. Bapak satu anak ini juga sering mengingatkan rekan-rekannya, untuk tidak membuat aksi yang merugikan tim.
"Selain itu, saya sering lihat di VIP, demi kenyamanan saja. Kalau di tribun ekonomi, saya bisa kehabisan suara karena terus bernyanyi. Bisa tidak bekerja saya besoknya," tambahnya.
Kini, dia kini berpikir untuk hari-hari berikutnya. Surya masih butuh bekerja, menafkahi anak dan istrinya. Dia berjualan gado-gado dan tahu campur keliling. Jualan gado-gado itu mengandalkan suaranya untuk meneriaki calon pembelinya.
"Pokoknya sekarang berpikir jangan aneh-aneh. Cukup sekali itu saya khilaf," sebut bapak satu anak tersebut.
Hanya saja, Surya tetap bakal berteriak habis-habisan kalau pemain Arema tampil buruk. Meskipun dari tribun VIP. Pernah dalam beberapa kesempatan, terlihat Surya berteriak sembari menangis karena tim idolanya kalah atau hanya bermain imbang.
"Tetapi saya juga menangis saat Arema juara Piala Presiden. Mengalahkan Persebaya. Itu tangisan kebanggaan," terangnya.
Surya sendiri, meskipun kini berada di tribun VIP, juga masih sering menjadi pembicaraan. Namun, kini lebih positif. Dia kerap tampil total, misalnya mengecat tubuhnya dengan gambar singa. Lalu, dia juga pernah datang dengan memakai topi besar seperti suporter Meksiko.
"Itu kreativitas saya. Kalau nggak saya bawa banner, tulisan penyemangat untuk Arema. Yang penting sekarang jangan sampai berbuat yang merugikan. Biasanya kalau ada Aremania yang melempar-lempar, saya marahi," pungkas dia.(Stenly Rehardson/ary)

Editor : Bagus
Penulis : Stenly

  Berita Lainnya





Loading...