Terorisme Hilangkan Kepercayaan Terhadap Islam | Malang Post

Kamis, 05 Desember 2019 Malang Post

  Follow Us


Selasa, 03 Des 2019, dibaca : 567 , Rosida, Linda

MALANG - Moderat di dalam salah satu artinya adalah berada di tengah dua kelompok ekstrim, namun secara hakiki hal tersebut menjadi satu kata yang bisa menyatukan dan menggabungkan antara pikiran dengan sesuatu secara konseptual. Umat yang moderat tidak hanya berfikir tetapi juga memiliki rasa serta hubungan dengan alam semesta serta tidak melakukan ujaran kebencian.
Kelompok yang berupaya merusak bumi dengan melakukan ujaran kebencian inilah yang disebut radikal. Dan tipe radikal kedua yakni yang kerap disebut terorisme, menganggap dirinya penguasa seluruh alam, kemudian berkembang sebelum adanya moderatisasi. Permasalahan ini bukan hanya bagi mereka yang melakukan religiusitas melainkan juga orang-orang sekuler seperti Hitler.
“Berapa banyak orang yang tidak bersentuhan dengan agama juga membuat kerusakan, berapa pembunuhan yang dilakukan, bahkan pembantaian serta berapa banyak orang meninggal, semua itu dilakukan oleh teroris,” ujar Tokoh Moderat dan Pakar Aswaja Internasional dari Uni Emirat Arab, Habib Ali Zainal Abidin Al-Jufri, saat menjadi pembicara Kuliah Umum & Dialog Interaktif Mengukuhkan Moderatisme (Wasathiyyah) dalam Kehidupan Beragama, Selasa (3/12) di Graha Rektorat UM.
Semakin maraknya paham radikal lantaran belum maksimalnya penyampaian agama secara tepat dan amanah terhadap kaum radikal tersebut sehingga terkesan pandangan kita masih terselimuti kabut tebal. Perilaku radikal atau terorisme tak jarang digunakan sebagai upaya membela kaumnya, padahal hal tersebut bukanlah pembelaan.
“Pembelaan terhadap agama bukan seperti ini caranya, melainkan dengan membela saudaramu ketika terdzolimi, atau membela ketika dia berbuat dzolim dengan cara pegang tangannya dan mencegahnya,” terang Habib Ali Zainal.
Perilaku radikal ataupun terorisme akan memberi dampak terhadap anak cucu yang berujung hilangnya kepercayaan terhadap keislaman. Sebab jauhnya generasi dari agama dan keyakinan tersebut disebabkan oleh kejahatan umat islam dengan mengatasnamakan Islam.
Dalam kuliah tamu & dialog interaktif ini dihadiri oleh sekitar 200 peserta dari berbagai kalangan. Mulai dari mahasiswa, pondok pesantren, tokoh agama, Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, dan lain sebagainya. Tujuan kegiatan ini untuk menekan paham radikalisme yang saat ini cenderung semakin meningkat melalui meluruskan pemahaman-pemahaman yang tidak hanya diperuntukkan bagi umat islam melainkan semua lapisan masyarakat.
Dihadapan ratusan peserta, Habib Ali Zainal memaparkan bahwa terorisme terbesar adalah meraka yang paling besar merusak dunia dan planet ini, kelompok ini bahkan memiliki nuklir terbanyak yang mampu menghancurkan dunia berkali-kali.
“Terorisme di dunia ini juga berwujud diantara negara-negara yang mengambil hasil bumi dari negara miskin, menjajah dan menindas, negara yang tidak  menghasilkan tersebut mengambil hasil bumi mereka kemudian diolah di luar dengan keuntungan besar sehingga negara penghasil tersebut tetap berada di ranah kemiskinan,” paparnya.
Sementara itu, Ketua Panitia Kuliah Umum & Dialog Interaktif, Muhammad Khusairi, mengatakan, kegiatan ini ditujukan untuk menekan radikalisme lantaran apabila dibiarkan berkembang akan memberikan ancaman terutama dalam konteks ingin mengganti negara pancasila, NKRI dengan keinginan mereka. (lin/oci)



Kamis, 05 Des 2019

Ilmu Lebih Penting Dari Gaji

Loading...