Tempe Berbahan Kedelai Transgenik | Malang POST

Selasa, 18 Februari 2020 Malang Post

  Mengikuti :


Senin, 18 Nov 2019,

MALANG - Beberapa hari lalu, beredar kabar tentang produk pangan rekayasa genetika berbahaya bagi kesehatan. Hal tersebut viral di media sosial, utamanya Facebook. Seperti yang diunggah oleh akun facebook Yayah Ummu Farhan pada 12 November 2019. Narasinya kurang lebih seperti ini:
"BELI TEMPE PERHATIKAN WARNA KACANG. Di pasaran, kita sering menemui tempe yg kedelainya putih (ketika mengering berubah menjadi kecoklatan), rasanya cenderung hambar tapi empuk (krn lbh mudah dibersihkan kulitnya dan tidak pecah meski dg pemanasan suhu tinggi). Sebelumnya saya suka nyari yg jenis ini karena anak2 suka yg empuk. But setelah sharing sama temen yg ahli gizi, herbalist dan ndilalah dr. Zaidul Akbar jg menguatkan, ternyata bahan baku tempe putih itu kedelai GMO (Genetically Modified Organisms alias transgenik ) yg ternyata fungsi plus nutrisinya berkebalikan dg tempe dari kedelai lokal yg kedelainya berwarna kuning..Menurut dokumentasi Dr Smith, setidaknya 65 risiko kesehatan serius dampak dari mengkonsumsi produk GMO, yang di jabarkan sebagai berikut:
- Keturunan tikus diberi makan kedelai transgenik menunjukkan peningkatan lima kali lipat resiko kematian, bayi yang di lahirkan tidak cukup berat badan, ketidakmampuan bereproduksi.
- ?Tikus jantan yang diberi makan kedelai Transgenik, mengalami kerusakan sel-sel sperma muda.
- ?Dapat merubah Fungsi DNA dari Embrio Tikus yang di berikan makan Kedele Transgenik (GMO).
- ?Beberapa petani di AS telah melaporkan masalah kemandulan atau kesuburan antara babi dan sapi yang diberi makan Varietas Jagung GMO.
- ?Penyidik di India telah mendokumentasikan masalah kesuburan, aborsi, kelahiran prematur, dan masalah kesehatan serius, termasuk kematian, di antara kerbau yang diberi makan biji kapas GMO.
- ?Hewan yang mengkonsumsi makanan GMO mengalami pendarahan perut, berpotensi bertumbuhnya sel pra-kanker, kerusakan organ dan sistem kekebalan tubuh, peradangan ginjal, masalah dengan darah, sel hati, dan kematian yang tidak dapat dijelaskan.
- ?Alergi terhadap kedelai telah meningkat setelah pengenalan cara menanam dengan metode GMO / Kedelai Transgenik.
- ?Gen dari tanaman GMO men transfer bakteri usus manusia, yang mungkin akan mengubah flora usus Anda menjadi “hidup seperti pabrik pestisida”.Berbeda dg tempe berbahan dasar kedelai lokal (pict no 1 yg bungkusnya daun). Kedelai yg sudah mengalami fermentasi (tempe...klo tahu ga melalui fermentasi ya!) bisa menjadi probiotik yg menjaga imunitas kita. Bahkan menurut hasil lab, tempe dg bahan baku kedelai lokal tidak menyebabkan asam urat. Dan masih banyak lagi manfaat tempe..Ke depannya....mari kita lebih memilih tempe yg kedelainya berwarna kuning. Hal kecil ini, insyaAllah banyak manfaatnya, selain untuk kesehatan kita, insyaAllah bisa memotivasi petani kedelai lokal unt menanam kedelai jenis ini.....dan smoga akhirnya...kedelai kita lah yg menjadi penguasa pasar internasional...tak lagi ada cerita tentang negri agraris yg mengimpor komoditas yg mampu tumbuh subuh di atas tanahnya.

Hal tersebut langsung mendapatkan reaksi dari warga net. Postingan itu telah dibagikan sebanyak 16 ribu kali dan mendapat 477 komentar dari warga net. Bahkan, masyarakat sempat dibuat resah akibat beredarnya pesan itu. Namun, setelah ditelusuri, kabar tersebut tidak sepenuhnya benar alias hoax.
Menanggapi pesan berantai di atas Staf Pengajar Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan, Fakultas Teknologi Pertanian IPB, Adil Basuki Ahza mengungkapkan, pernyataan tersebut tidak bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya.
"Menurut saya pesan tersebut 90 persen tidak benar ya. Pertama-tama definisi beracun itu apa? Sekarang lihat saja padi yang disemprot pestisida. Apakah itu sudah pasti bebas racun? (Penggunaan kata) racun harus didefinisikan dahulu apa," kata Adil.
Adil menuturkan ketika sebuah varietas PRG akan dilepaskan ke pasaran, sebelumnya harus melalui serangkaian pengujian. Mulai dari tes struktur, toksisitas, uji kepada hewan, dilepaskan ke kelompok terbatas, baru kemudian dipasarkan.
Misalnya ingin menghasilkan bahan pangan yang tahan dari serangan hama. Pertama-tama dilakukan uji apakah benar bisa tahan dari serangan hama penyakit. Lalu tingkat kadar senyawa yang menimbulkan reaksi naik atau tidak. Lalu dicek toksisitas apakah muncul senyawa beracun. Kemudian dilakukan pengujian pada hewan dahulu. Lalu, disebarkan secara terbatas, baru kemudian dirilis secara internasional seperti dicontohkan Adil. "Sebelum sebuah produk atau varietas PRG dilepas ke masyarakat itu kompleks. Tidak sembarang seseorang melepas sebuah varietas," tutur dia.
Ketika sebuah varietas sudah dilepas ke masyarakat, Komisi Keamanan Pangan dari Kementerian Pertanian akan melakukan penelitian dan pengujian di lapangan. Sehingga petani tidak bisa sembarangan menanam jagung atau kedelai PRG. "Jadi masyarakat tenang-tenang saja. Tak perlu gelisah. Pasti pemerintah sudah lakukan pengujian," tandas dia.(tea/lim)

Editor : halim
Penulis : amanda



Loading...


Honda
mitsubhisi

WEB HOSTING HANDAL

ArdetaMedia

INTERNET STABIL dan MURAH

BestNet
Loading...