STIBA Rancang Kurikulum Istimewa | Malang Post

Kamis, 05 Desember 2019 Malang Post

  Follow Us


Selasa, 03 Des 2019, dibaca : 360 , Rosida, Imam

MALANG - Sejak beberapa tahun terakhir Sekolah Tinggi Bahasa Asing (STIBA) Malang memerkaya kurikulum yang membuat para lulusannya lebih leluasa menentukan langkah setelah mereka lulus. Baik melanjutkan studi ke jenjang strata 2 (S2) atau masuk dunia kerja.
Keistimewaan kurikulum yang dirancang STIBA bisa memberikan akses bagi lulusannya untuk masuk ke Program Pascasarjana bidang pendidikan, tanpa melalui matrikulasi. Artinya lulusan STIBA yang merupakan sarjana Sastra Inggris bisa melanjutkan ke Magister Pendidikan.
Hal tersebut diungkapkan oleh Wakil Ketua STIBA Malang Dr.  Joni Susanto,  M. Pd., kepada Malang Post, (3/12) siang . Joni mengatakan kurikulum STIBA perlu diperkaya dengan beberapa pertimbangan. Salah satunya yaitu banyaknya lulusan yang memilih profesi guru saat mereka bekerja. "Selain mereka masuk industri ternyata lulusan kami juga banyak yang menjadi guru," katanya.
Lulusan STIBA Malang yang notabene merupakan sarjana Sastra Inggris, tentu saja mengalami kesulitan saat ingin menjadi guru atau melanjutkan ke program studi pendidikan di pasca sarjana. Ketidak linieran jurusan yang mereka pilih harus melalui proses matrikulasi terlebih dahulu.
Maka setelah dilakukan pembaharuan kurikulum dalam lima tahun terakhir kini lulusan sudah lebih mudah untuk mengambil prodi pendidikan. Beberapa mata kuliah yang saat ini mewarnai kurikulum STIBA antara lain Teaching English As A Foreign Language (TEFL) dan Penelitian sastra, linguistik dan pendidikan. Selain itu juga diperkuat dengan theory of the language, teaching and learning media dan teaching and learning strategy.
"Ini semua menjadi bekal untuk melanjutkan S2 ke pendidikan. Sehingga mereka lulus tepat waktu, tidak molor seperti sebelumnya karena harus mengikuti prosedur yang lama untuk penyesuaian," katanya.
Ia menuturkan sebelum tahun 2016 kurikulum di STiba masih murni sastra Inggris. Lulusan kampus  ini banyak yang diterima di perusahaan-perusahaan besar.
Namun dengan adanya program sertifikasi guru oleh pemerintah membuat banyak diantara mereka yang tertarik menjadi guru. Sementara untuk menjadi guru, kata Joni, harus memiliki kompetensi tertentu. Berdasarkan kebutuhan inilah maka STIBA memfasilitasi kebutuhan mahasiswanya dengan mengembangkan kurikulum.  "Sehingga mahasiswa siap menjadi guru atau kerja ke perusahaan atau siap melanjutkan  ke S2 pendidikan," terangnya.
Dengan menambahkan muatan kurikulum secara otomatis poin SKS yang harus dipenuhi oleh mahasiswa semakin bertambah. Namun tetap tidak melebihi batas maksimal 160 SKS. Karena bidang akademik juga melakukan pengurangi terhadap mata kuliah yang sudah dianggal tidak lagi relevan terhadap kemajuan ilmu dan teknologi. “Yang terbaru kami menambahkan materi ekspor impor, karena kami rasa muatan penting dan banyak digunaka di era ini,” tukasnya.
Perubahan kurikulum dan  muatan mata kuliah membuat para dosen STIBA harus menyesuaikan diri. Mereka juga perlu untuk melakukan update pengetahuan untuk meningkatkan kempuan dan kompetensinya sebagai pengajar. Hal tersebut untuk menjaga kualitas dari SDM para dosen itu sendiri.   “Kami lebih memilih SDM yang sudah ada, tinggal upayanya saja untuk terus meningkatkan kualitas mereka,” tutur lulusan Program Doktoral UM ini. (imm/oci)



Kamis, 05 Des 2019

Ilmu Lebih Penting Dari Gaji

Loading...