Satgas Pangan Temukan Belasan Kilogram Boraks | Malang POST

Sabtu, 22 Februari 2020 Malang Post

  Mengikuti :


Satgas Pangan Temukan Belasan Kilogram Boraks

Senin, 16 Des 2019,

MALANG - Satgas Pangan Kabupaten Malang menggelar razia di Pasar Singosari, Senin siang (16/12) mulai pukul 11.30 WIB. Operasi pasar menyasar harga sembako dan barang terlarang seperti boraks dan formalin. Hasilnya, Satgas gabungan menemukan boraks di bedak selatan Pasar Singosari.
KBO Satreskrim Polres Malang, Iptu Momon Suwito Pratomo menemukan dan menyita natrium biborat, natrium piroborat, natrium tetraborat atau boraks. "Ini razia acak dan kami temukan boraks yang dijual oleh sejumlah pedagang," kata Momon kepada wartawan di Pasar Singosari, kemarin.
Razia ini merupakan gabungan antara Polres, Disperindag, Dinkes, Dishub dan Satpol PP. Tujuan utama razia adalah untuk normalisasi harga dan pemantauan sembako jelang Natal dan Tahun Baru. Polisi menyita satu kresek besar berisi boraks. Para penjual akan dijadikan saksi oleh kepolisian.
"Mereka akan kami jadikan saksi untuk menelusuri dari mana mereka membeli boraks. Karena, boraks ini barang berbahaya bagi kesehatan jika dikonsumsi oleh manusia," sambung Momon. Setelah mengublek-ublek Pasar Singosari, belasan kilogram boraks, diamankan oleh Satgas Pangan Kabupaten Malang.
Tak hanya itu, puluhan botol minuman limun tak berizin edar disita oleh tim Satgas Pangan. Menurut Momon, temuan limun tanpa izin dan label, adalah sinyal bahwa ada minuman tanpa kadar yang jelas dan berpotensi membahayakan pembeli. Karena itu, limun-limun ini disita oleh petugas.
“Ada pedagang yang jual minuman tak berizin dan tak ada labelnya. Ini merupakan kegiatan rutin satgas pangan secara periodik. Kami sita barang tersebut," ujar Momon. Tak hanya menyita bahan makanan berbahaya, Satgas Pangan memantau harga bahan pokok, untuk memastikan tak ada inflasi berlebihan jelang Natal dan Tahun Baru.
Gula masih relatif stabil, sekitar Rp 12 ribu. Komoditi daging sapi masih sekitar Rp 100 ribu hingga Rp 120 ribu. Namun, pantauan di lapangan, harga telur ayam negeri malah naik. Dari Rp 23 ribu, harga meroket menjadi Rp 25 ribu. Siti Khoiriyah, 47, pedagang yang bedaknya dirazia, mengaku tak tahu soal boraks yang membahayakan tubuh.
Karena, dia hanya tahu boraks atau lebih sering disebut sebagai ketek, adalah bahan pendukung pembuat krupuk. “Lumayan laris, katanya buat bikin krupuk puli. Saya gak tahu kalau ini bikin gak sehat,” ujar Siti. Dia pasrah boraksnya disita oleh petugas Satgas Pangan.(fin/mp)

Editor : Vandri
Penulis : Fino

  Berita Lainnya



Loading...


Honda
mitsubhisi

WEB HOSTING HANDAL

ArdetaMedia

INTERNET STABIL dan MURAH

BestNet
Loading...