Salah satu Perintis Bendirinya PSW UB | Malang POST

Kamis, 20 Februari 2020 Malang Post

  Mengikuti :


Minggu, 24 Nov 2019,

Meskipun berada di ilmu kedokteran selama kuliah sarjana hingga S3, Retty tidak pernah melepas kepeduliannya terhadap perempuan dan anak. Di sela profesinya sebagai dosen di FK UB sejak 1985, ia menginisiasi pembentukan Kelompok Studi Wanita (KSW) yang saat ini menjadi Pusat Studi Wanita (PSW) UB.
“Saya bersama teman-teman seperjuangan, ini salah satunya bu Wahyu (Sri Wahyuningtyas, Direktur WCC Malang). Dia di Fakultas Hukum saya di Kedokteran sama-sama punya pikiran sama, Sampai sekarang deh,” paparnya.
Dimulai dari Pusat Studi Wanita (PSW), keduanya mulai mengembangkan layanan advokasi pada masalah-masalah yang kerap dialami perempuan. Sampai kemudian pemikiran untuk membentuk lembaga dicetuskan. Maka pada Tahun 2000, Woman Crisis Center Dian Mutiara Malang dibentuk dan aktif hingga saat ini.
Lantas bagaimana karir kedokteran Retty sendiri? Dengan gamblang perempuan yang juga anggota International Woman Medical Doctor Association ini mengatakan, tidak lagi membuka praktek dokter sejak 10 tahun yang lalu.
“Setelah S3 selesai saya sempat buka praktek dokter umum tahun 2007. Saya buka praktek, mengerjakan sendirian karena buka praktek di rumah. Pasien saya banyak anak mahasiswa saat itu karena di saya mungkin boleh nge bon, makanya mereka suka,” tutur Retty sambil tertawa menceritakan tidak tega ketika melihat pasiennya yang juga kurang dana.

Baca juga : Pria Pelaku KDRT Harus Diterapi Khusus
Akan tetapi dalam masa tersebut, ia merasa tidak lagi bisa menghandle. Sampai akhirnya tidak lagi membuka praktek dan fokus berprofesi sebagai dosen PNS di UB saja untuk mendukung kebutuhan finansial sehari-hari.
Alumnus Queensland University ini kemudian meneruskan jika di saat itulah ia bisa fokus melakukan passionnya. Yakni memberi perhatian pada permasalahan-permasalahan perempuan dan anak yang ada di sekitarnya hingga dapat menjabat sebagai salah satu Komisioner Komnas Perempuan.
Maju untuk mengikuti seleksi sebagai salah satu komisioner Komnas Perempuan pun, perempuan asli Malang ini membawa sebuah misi. Saat resmi bertugas di 1 Januari 2020 mendatang ia akan membawa sebuah misi untuk membuat sebuah sistem.
“Saya ingin membuat sebuah sistem yang bisa menyatukan semua pandangan. Bahwa urusan perempuan tidak hanya untuk perempuan saja. Sistem ini harus mengangkat bahwa urusan permpuan juga urusan keluarga dan urusan semuanya,” tegas perempuan yang pernah menjadi konsultan nasional Women Development untuk Proyek International Project for Agriculture Development terkait Pengelolaan Pertanian Lahan Kering se Jawa Timur selama 5 tahun ini.
Hal tersebut tetap menjadi cita-cita yang akan diwujudkannya saat duduk di kursi Komisoner Komnas Perempuan sampai 5 tahun kedepan. (ica/udi)

Editor : Mahmudi
Penulis : Sisca



Loading...


Honda
mitsubhisi

WEB HOSTING HANDAL

ArdetaMedia

INTERNET STABIL dan MURAH

BestNet
Loading...