Malang Post - Saksi Bisu Perjuangan Tentara Pelajar

Rabu, 08 April 2020

  Mengikuti :


Saksi Bisu Perjuangan Tentara Pelajar

Minggu, 03 Nov 2019

MALANG – Stadion Gajayana juga menjadi saksi dan lokasi bersejarah di Malang. Peristiwa penyerahan kekuasaan dari Pemerintah Kotapraja Malang ke Pemerintahan Bala Tentara Nippon, 7 Maret 1949.
“Penyerahan kekuasaan kepada pemerintah Kotapraja Malang dari pemerintah Belanda pada tahun Maret 1949 yang selanjutnya dikuasai oleh pemerintah sipil juga terjadi di sini,” ujar Kasi Promosi Wisata Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Malang, Agung H. Bhuana dalam Buku Malang Heritage.
Selain itu, Stadion Gajayana juga menjadi saksi perjuangan Tentara Genie Pelajar Malang ketika berlangsungnya Agresi Militer Belanda. Bahkan, sejak tahun 1989 akhirnya didirikan Monumen Tentara Genie Pelajar Malang atau disebut juga Monumen TGP Malang, sebagai tugu peringatan atas gugurnya para pejuang kemerdekaan dari kesatuan Tentara Genie Pelajar (TGP).

   Baca juga : Kekuatan Research, Data dan Inovasi
Posisinya terletak di belakang Stadion Gajayana Malang, Jl. Semeru atau tepat di depan pintu ekonomi. Monumen tersebut terletak diantara Jalan Semeru dan ujung Jalan Tangkuban Perahu. Area tersebut, kini kerap menjadi titik kumpul Aremania bila menggelar pertemuan atau diskusi di Kota Malang.
Sementara itu, TGP merupakan organisasi militer resmi binaan angkatan bersenjata Indonesia (masa itu masih bernama TKR), ketika era perang mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia. Peran TGP tidak boleh dianggap remeh meskipun umur anggota-anggotanya belasan tahun dan masih berstatus pelajar.
Mereka memiliki keterampilan khusus yang diterapkan saat perang meletus di Kota Malang. Berbeda dengan TRIP (Tentara Republik Indonesia Pelajar), maupun Tentara Pelajar (TP) yang kemampuannya bersifat umum, TGP diisi oleh pelajar-pelajar dari sekolah kejuruan teknik.
Keahlian-keahlian khusus yang mereka miliki adalah, membuat jebakan, merakit bahan peledak untuk kemudian memasang dan meledakkannya. Mereka juga terampil dalam melakukan pekerjaan-pekerjaan konstruksi (misalkan membangun jembatan darurat). Tidak hanya itu saja, anak-anak muda ini mampu memproduksi senjata maupun granat yang bahan-bahannya diambil dari bom-bom Belanda yang gagal meledak.
Monumen ini terdiri dari dua buah patung yang menggambarkan dua orang pejuang anggota TGP. Ada yang menenteng senjata laras panjang, sedang yang lainnya ada yang memegang mortir dengan bertulisan Trek-Bom dengan pistol di pinggangnya. Di kaki patung terdapat nama-nama eks anggota pasukan muda itu. Nama Trek-Bom merupakan sebutan lain dari Satuan TGP. (ley/feb)

Editor : febri
Penulis : stenly

  Berita Lainnya





Loading...