Sajikan Suasana Pasar Kuno Kerajaan Singhasari | Malang Post

Senin, 20 Januari 2020 Malang Post

  Mengikuti :


Rabu, 27 Nov 2019,

MALANG – “Pasar Kawulo Singhasari, sasono leluri luhuring budoyo, poro kawulone, Deso Purwoasri. Guyub rukun ambangun desane, murih raharjane projo, Adedasar, Poncosilo.” Seperti inilah lirik tembang yang dibunyikan setiap hari Minggu pagi di Pasar Kawulo Singhasari, Desa Purwoasri, Kecamatan Singosari.
Tembang tersebut, hanyalah satu dari sekian jenis tembang yang tersaji di Pasar Kawulo Singhasari. Sesuai namanya, pasar ini menyajikan konsep desa wisata yang mengajak pengunjungnya kembali ke era kerajaan Singosari pada masa jayanya. Bunyi-bunyian gamelan dan lesung, atau diistilahkan galesung, mewarnai konsep desa wisata seni budaya dan kuliner ini.
“Gamelan dan lesung yang dibunyikan setiap hari Minggu, dimainkan oleh mereka dari Pasar Kawulo Singhasari. Tembang tersebut, adalah ciptaan saya, yang dimainkan setiap hari Minggu, seperti menyambut para pengunjung yang datang untuk berwisata di sini,” ujar Gaguk Priyono, Koordinator Pasar Kawulo Singhasari kepada Malang Post.
Pria yang akrab disapa Ki Demang Gaguk tersebut, mengusung konsep tradisional, dengan sentuhan kerajaan Singhasari dan sentuhan ornamen jawa kuno di Pasar Kawulo Singhasari. Kain hitam putih yang dibebatkan di tiang-tiang, pepohonan, menandakan ornamen Jawa kuno, yang bahkan mempengaruhi budaya di pulau dewata.
“Bunyi-bunyian gamelannya Jawa Timur dan Mataraman, begitu pula tembangnya. Musik ini, mengiringi pengunjung berkuliner, misalnya saja dawet, nasi jagung, tiwul, polo pendem, rujak cingur, klepon, lupis, es gandul, kolak, gudek, hingga bikang dan lainnya,” tandas bapak dua anak tersebut.

Baca juga : Punya Potensi Budaya Setara Yogyakarta dan Bali


Selain itu, ada pula permainan tradisional, seperti panahan, ayunan, jungkat jungkit hingga egrang. Gaguk memaparkan, konsep berbelanja di Pasar Kawulo Singhasari ini juga berbeda. Pengunjung, tidak bisa membeli kuliner di Pasar Kawulo Singhasari dengan uang tunai biasa. Mereka harus menukarkan sejumlah uang, untuk mendapatkan uang yang menyerupai uang kuno.
“Ada uang sebenghol Rp 5000, sekethip Rp 10 ribu, karobelah Rp 15 ribu dan setali Rp 25 ribu. Selesai belanja, jika koin kuno sisa setelah kuliner, maka bisa ditukarkan dengan uang tunai yang nilainya sama. Misalnya sisa uang sebenghol, kami tukar dengan uang 5000 rupiah,” tambah Gaguk.
Gaguk menyebut, Pasar Kawulo Singhasari, juga memiliki sanggar seni budaya yang dibina seorang penari senior bernama Yati. Sanggar seni budaya ini, akan mengusung tarian klasik Jawa dan Indonesia.
“Selama itu tarian klasik dan Indonesia, sanggar seni budaya Pasar Kawulo Singhasari siap berkolaborasi. Kami juga memiliki seni membatik dan jaranan, yang bisa dilihat setiap hari Minggu pagi di Pasar Kawulo Singhasari,” tutup Gaguk.(fin/aim)

Editor : Muhaimin
Penulis : Fino






LOWONGAN KERJA

Loker

WEB HOSTING HANDAL

ArdetaMedia

INTERNET STABIL dan MURAH

BestNet
Loading...