Malang Post - Rindu dan Sebuah Gawai

Selasa, 31 Maret 2020

  Mengikuti :


Rindu dan Sebuah Gawai

Minggu, 23 Feb 2020

“Wassalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh.”
Kelaspun berakhir tatkala dosen mengucapkan salam seraya membereskan meja, menyematkan kembali pena di saku baju, serta melangkah pergi. Aku pun beranjak dari kursi tempat dudukku untuk menuju ruang toilet tepat di sebelah ruang kelas ini.
Toilet gedung fakultasku di kampus kami dalam satu lantai ada dua ruang. Di sisi kiri gedung dan di sisi kanan gedung pada setiap tingkatnya. Oh, bukan. Lebih tepatnya ada empat. Tentu saja karena itu bukan toilet umum tapi yang terpisah antara laki-laki dan perempuan.
Tanpa terduga setelah aku masuk ke dalam ruang dengan 3 kamar mandi di dalamnya itu beserta sebuah cermin raksasa, aku terhenyak. Di pojok ruang itu tengah terduduk seorang gadis. Dari wajah serta gesturnya, kukira dia bukan mahasiswa baru seperti aku. Wajahnya yang memerah itu mendongak memandangi langit-langit dengan tatapan sendu, sepasang kelopak matanya bengkak. Terisak sesenggukan. Menangis sambil menggenggam sebuah gawai di tangan.
“Ayah nggak ngerti!” pekiknya tertahan. Berusaha pelan tapi tetap saja terdengar nyaring di ujung nada suaranya. “Ayah nggak paham urgensi komunikasi, karena itu ayah nggak pernah nelpon aku duluan, bahkan tanya kabarpun jarang,” lanjutnya sembari meletakkan gawai pintar di dekat bibirnya yang gemetar. Kali itu volume suaranya sudah tak tertahan lagi. “Huh!” bunyinya beresonansi di dinding tembok. Mungkin saja menyelinap ke luar ruang ini melalui pintu yang terbuka lebar.
Aku tak habis pikir, dengan suara sekencang itu, apakah gadis itu tidak mengira bahwa suara nyaringnya dapat terdengar bahkan oleh orang yang berada di luar sana yang jaraknya dekat dengan area ruang toilet ini? Tapi aku pura-pura tak tahu. Kunyalakan kran air sembari menadahkan kedua tanganku di bawah alirannya. Kubasuh wajahku yang berkeringat parah berkat ruang kelas tanpa AC di saat-saat panas terik. Nampaknya air di sungai, kali, selokan dan lainnya tengah berubah menjadi molekul-molekul gas. Menurut ramalan cuaca di gawai pintar, nanti sore akan hujan. Oh  bukan itu saja, tugas kuliah yang bahkan baru minggu pertama saja kontrak tugasnya berjejer, berderet, bertumpuk, berantrian untuk diselesaikan pastinya juga jadi salah satu penyebab.
Sesaat kemudian datanglah segerombolan mahasiswi sambil tertawa terbahak-bahak. Wajah ceria dioles riasan. Dengan pipi yang merona bahkan hampir terlampau menor berkat polesan pemerah pipi, hampir sama dengan gadis di pojok ruang toilet itu. Bedanya, motif yang membuat keduanya timbul. Satu karena polesan satu karena perasaan yang aku pun tak tau. Bisa jadi kesedihan atau kemarahan, dapat pula keduanya. Segerombolan yang terdiri dari 4 anak itu pun sama halnya denganku yang sedikit kaget. Tetapi mereka tetap berkaca walau segera pergi setelah memastikan bahwa polesan serta balutan hijab dan rambut mereka tertata rapi dan indah.
Kepergian mereka menyisakan gadis di pojok toilet itu beserta aku yang entah mengapa masih betah untuk pura-pura menelisik wajah di depan cermin raksasa. Hampir saja, gawai yang berada di dalam genggaman gadis itu dibanting. Nampaknya aku harus segera beranjak, siapa tau orang itu akan menjadikan aku yang mahasiswi baru ini sebagai objek pelampiasan emosi. Aku harus keluar secepat mungkin dari ruangan ini.
***
Malam ini terasa berbeda. Selain ditemani rintik hujan yang sendu dan teh panas yang mengepulkan asap, ada hantu yang tak bisa kuusir. Hantu itu adalah memori tadi siang. Ya, aku masih belum bisa melupakan tragedi kamar mandi. Bukan tragedi apa-apa sebenarnya. Hanya saja, mengherankan saja seolah aku tidak memiliki rasa malu, dengan percaya diri menangis di sana. Menjadi bahan tontonan bagi orang-orang yang masuk-keluar ke dalam ruang toilet itu walau untuk sekadar berkaca.
Ada apa denganku? Seperti selama berbelas atau mungkin berpuluh menit mengklaim bahwa hanya akulah satu-satunya penghuni dunia yang lengkap panca indranya, sedangkan yang lain tak punya telinga dan tak mampu melihat. Astaga.
Terkutuklah aku. Mengapa begitu tega membentak ayah? Hanya soalan komunikasi. Ralat, itu bukan ‘hanya’ bagiku. Itu masalah besar bagiku, entah mengapa. Tapi kusadari salahku. Caraku mengingatkan ayah untuk yang kedua kali ini terlampau durhaka.
Harusnya aku bicara baik-baik, seperti yang selama ini diajarkan ayah. Seharusnya aku lebih mengedepankan rasio dan kesadaran daripada emosi. Seharusnya aku sangat paham bahwa ayah bukanlah generasi milennial semacam aku yang sejak sekolah dasar sudah berkenalan dengan komputer dan mengutak-atik tools aplikasi paint. Ayah adalah generasi X yang bermigrasi dari zaman televisi hitam putih ke era televisi layar tipis. Bukan digital native yang menjadikan gawai sebagai nyawa kedua setelah ruh yang bersemayam dalam jasad.
Sialnya aku mampu tanpa malu bersikap kekanak-kanakan tetapi menyesal dan tak bisa melupakan. Betapa memalukan. Entah apa yang terjadi di dunia ini esok hari. Kubayangkan bisik-bisik orang-orang saat aku melangkah masuk ke dalam gedung fakultas, disebabkan rumor yang telah tersebar: Seorang mahasiswi semester 8 menangis di kamar mandi bak orang gila.
Jangan-jangan aku seperti ini karena membandingkan ayahku dengan ayah teman-teman sekitarku yang dapat menunjukkan kasih sayang mereka dengan mudah? Terkutuklah aku. Bahkan ayah sudah setengah mati membesarkanku sendirian. Menjadi orang tua tunggal yang merangkap sebagai tulang punggung keluarga sekaligus substitutor peran ibu sejak usiaku 10 tahun.
Betapa banyak anak-anak di luar sana yang meski memiliki kedua orang tua lengkap tapi tetap tak mendapatkan apa yang sudah seharusnya menjadi hak mereka: perhatian. Tidak semua orang tua bisa menunjukkan perhatian mereka. Lebih jauh, tak terhitung pula yang sejak lahir telah kehilangan 2 orang berharga itu.
Berpikir akan bisikan dan cibiran itu percuma. Waktu sudah tak dapat dikembalikan kepada pukul 12.21 tadi siang. Memang ini salahku. Orang lain punya hak untuk berpersepsi tentang diriku meski sesalku  sebesar gunung mahameru. Apa kabar ayah di pulau seberang di ujung barat nun jauh negeri ini? Semoga baik-baik saja. Kuraih gawaiku yang sedari tadi juga menemani, di samping gelas teh yang tak lagi panas ia tergeletak.

Assalamualaikum, Ayah. Maafkan Nasrin untuk tadi tadi siang.
Nasrin hanya rindu, dan lebay. Maafkan yah.
Pesan itu akhirnya terkirim melalui aplikasi whatsapp. Centang biru double! Jarang sekali.
Iya, nak. Tidak apa-apa. Sudah biasa J
Aku tertawa. Kenapa tadi siang aku harus marah-marah, menangis tersedu-sedu di tempat umum? Lucu sekali. Bukan, bodoh sekali.
***
“Rara!” seru seseorang. Aku pun sontak menghentikan langkah dan berbalik badan. Kulihat di ujung sana temanku, Silmi, susah payah berlari dengan tubuh gembulnya. Napasnya terengah-engah.
“Kenapa Sil?” sapaku sambil tertawa geli.
“Makan di Ayam Geprek Pak Man” katanya sambil nyengir. “Nanti aku traktir 2 porsi plus jus alpukat”, lanjutnya sembari mengedip-ngedipkan mata kanannya.
“Hilih, nggak usah disogok dua porsi juga aku nggak akan nolak. Beneran nih kamu yang traktir?” Aku tertawa girang, mimpi apa aku semalam dapat rezeki nomplok seperti ini.
“Ayo!”, seru Silmi sembari menggeret tubuhku yang mungil.
Akhirnya kami sampai di Ayam Geprek Pak Man. Tempat makan ini memang tak terlalu besar, tapi 3 varian sambelnya yang bebas diambil seberapapun dari sambal ijo, sambal bawang, dan sambal pete jada menu paling menarik pelanggan. Setelah mengantre dan memesan, kami pun memilih tempat. Silmi begitu semangat bercerita, melihat ekspresinya saja cukup membuat tertawa geli. Tapi tunggu,
Di meja sebelah sana ada gadis yang dua hari lalu kulihat menangis di pojok ruang toilet siang itu. Aku masih dapat mengingat wajahnya. Tapi yang hari ini berbeda, dia nampak ceria dengan mata yang membelalak bahagia. Di hadapnnya, duduk seorang laki-laki paruh baya dengan uban yang lumayan banyak tersebar disela-sela rambutnya yang berwarna hitam. Mungkin saja itu ayah yang ia seru melalui gawai. Aku mengernyitkan dahi. Baru kemarin dia berderaian air mata kini sudah segirang itu. Mudahnya dunia berputar dan manusia berubah.
“Woy!” Silmi mengibaskan tangannya di depan mataku. “Ngalamun aja mak.” Silmi manyun, mengira aku tak memperhatikan dia bercerita.
“Eh iya, Sil. Maaf maaf.  Eh iya, gimana gimana?” aku tersenyum lebar menunjukkan senyum usil. Sejenak kemudian datanglah yang ditunggu-tunggu. Seorang pelayan meletakkan satu-persatu dua porsi nasi ayam geprek disusul segelas jus alpukat dan jus mangga. Sedap dan segar.
***
Jam dinding yang bertengger di tembok stasiun itu menunjukkan pukul 15.55. Artinya, 10 menit lagi kereta yang nanti akan kunaiki melaju meninggalkan kota tempat putri semata wayangku mengenyam pendidikan tinggi. Kulihat wajahnya kembali sendu.
“Ayah,terimakasih sudah mengunjungi aku di sini. Maafkan Nasrin yang belum dewasa ini.” Mendengar kalimat itu, aku hanya tersenyum. “Nasrin janji akan lulus tepat waktu, biar bisa segera menemani ayah di rumah.” ungkapnya.
Aku hanya mengangguk. Diambilnya tangan kananku, disentuhkan dahinya di telapakku. Setelah ia lepaskan, aku pun perlahan melangkah masuk ke dalam stasiun tapi sepasang mataku masih memandangnya. Ia melambaikan tangan sebagai tanda perpisahan. Lagi-lagi aku hanya bisa tersenyum. Setidaknya, aku lega telah mengunjunginya sebagai kejutan. Baik-baik di sini nak. Ayah sayang kamu.
***
Kulihat punggung ayah sedikit demi sedikit menghilang. Tak kusangka, tanpa memberi berita, ayah mengunjungiku. Jauh-jauh datang dari seberang pulau di ujung barat nun jauh negeri ini. Aku kembali teringat hal bodoh dua hari yang lalu itu. Aku selama ini terlampau salah memahami ayah, lebih tepatnya kurang memaklumi ayahku. Untuk hari-hari yang kemarin, aku menyesal telah menyakiti hatinya. Aku berjanji akan menjadi putri kesayangan yang baik dan perhatian. Sungguh. Ayah, genggam ikrarku. (*)

Oleh: Aisyah Salsabila
Mahasiswi Studi Pendidikan Sejarah
Universitas Negeri Malang

Editor : Redaksi
Penulis : Aisyah Salsabila

  Berita Lainnya





Loading...