Pupuk Rasa Percaya Diri Santri Dengan Muhadharah | Malang POST

Sabtu, 29 Februari 2020 Malang Post

  Mengikuti :


Pupuk Rasa Percaya Diri Santri Dengan Muhadharah

Jumat, 29 Nov 2019,

MALANG - Para santri dicetak sebagai generasi Islam yang kuat dan menguatkan. Sosok santri yang memiliki bekal pendidikan agama yang tinggi diharapkan tidak hanya bermanfaat untuk dirinya sendiri, tetapi juga mampu mengimbaskan atau mengamalkan ilmunnya untuk masyarakat khususnya umat muslim.
Berdasarkan itulah, para santri tidak hanya dibekali dengan ilmu agama atau hanya tekun beribadah dengan amalan ibadah mahdah, tetapi juga bisa berbuat untuk Islam. Salah satunya melakukan syiar untuk mengajarkan ilmu agama kepada kaum muslimin.  Untuk tujuan tersebut di Madrasah Diniyah Ar-Royyan, Kota Malang ada latihan muhadharah bagi para santrinya.  Yaitu satu bentuk pembelajaran dalam melatih kemampuan public speaking para santri. Formatnya dengan latihan pidato yang dilaksanakan sekali dalam seminggu.
Setiap Hari Sabtu sore para santri berkumpul di masjid khusus untuk latihan bertutur di depan khalayak. Semua santri dari berbagai jenjang kelas dicampur dalam satu forum orasi. Santri yang bertugas menayampaikan materi pidatonya dengan bimbingan para ustadz.
Kepala Madin Ar-Royyan Kasropin Nugroho, S.Psi.,mengatakan program muhadharah baru dilaksanakan  selama dua tahun terakhir. Pada awalnya santri masih terlihat gugup khusus bagi santri baru. Namun seiring dengan berjalannya waktu, bimbingan ustadz untuk keterampilan berpidato terus dilakukan.
Sehingga para santri saat ini sudah mulai terbiasa berbicara di depan banyak orang. Sebab pada dasarnya tujuan pertama latihan khitabah ini untuk memupuk kepercayaan diri para santri. “Awalnya mereka takut pegang mix, lama kelamaan jadi terbiasa. Bahkan beberapa dari mereka terlihat sangat bagus menyampaikan pidatonya,” ucap Kasropin.  
Agar lebih maksimal kegiatan muhadharah dilaksanakan hingga dua sesi. Pertama mulai setelah salat ashar hingga magrib. Dan dilanjutkan setalah maghrib hingga salat isya. Para ustadz pun membina para santri dengan tekun dan istiqamah. Termasuk cara-cara berpidato yang benar dan menarik sehingga terlihat tidak membosankan. “Walaupun setiap anak memiliki bakat yang berbeda tapi kami terus berupaya agar semua santri Madin Ar-Royyan bisa berpidato. Yang penting mereka percaya diri dulu, selanjutnya tinggal mengajarkan pada mereka caranya,” ungkapnya.    
Sebab kata dia, salah satu tugas Agama Islam adalah tabligh. Seperti yang dicontohkan oleh Rasulullah. Tabligh yang berarti mampu menyampaikan diharapkan mampu dikuasai oleh para santri. Sebagai generasi muslim, tugas mereka di masa yang akan datang tidak lain memperkuat agama Islam.
Salah satunya menjadi dai yang terus bersemangat menyampaikan syiar Islam kepada ummat. “Ilmu jangan dipakai sendiri, harus disebar dan disampaikan kepada orang lain. Itulah yang dimaksud dengan tabligh,” terangnya.  
Madin Ar-Royyan berada di bawah naungan Yayasan Ukhuwah Insaniyah, yang berdiri sejak Mei 2014 di Jalan Sulfat Kota Malang. Selain belajar pidato, sebagaimana di pesantren pada umumnya, santri Ar-Royyan juga belajar agama dengan kitab-kitab kuning yang populer di kalangan santri. Misalnya Kitab Riyadus Shalihin, dan lain sebagainya.  
Di pagi hari, santri Ar-Royyan melaksanakan kajian Alquran. Baik membaca atau menghafal Alquran. “Kajian Alquran dilaksanakan setelah subuh, ada yang menghafal atau sekadar murajaah apa yang sudah mereka hafal sebelumnya,” tutur Kasropin. (imm/aim)

Editor : Muhaimin
Penulis : Imam

  Berita Lainnya



Loading...


Honda
mitsubhisi

WEB HOSTING HANDAL

ArdetaMedia

INTERNET STABIL dan MURAH

BestNet

Loading...