Malang Post - Pernah Alami Pembredelan, Masih Rajin Menulis

Rabu, 01 April 2020

  Mengikuti :


Pernah Alami Pembredelan, Masih Rajin Menulis

Minggu, 09 Feb 2020

MALANG – Jiwa jurnalistik Raymond Valiant Ruritan, Direktur Utama Perusahaan Umum Jasa Tirta I masih terpelihara dengan baik sampai 2020 ini. Meski tak menekuni profesi jurnalis, Raymond, mantan aktivis pers kampus UB angkatan 1991, pernah menghadapi dinamika kewartawanan pada masanya.
“Mulai tahun 1991, saya sering menulis di koran kampus, majalah dan media cetak nasional maupun regional. Karena, bayarannya saat itu Rp 50 ribu. Kira-kira kalau dikurskan sekarang, satu artikel Rp 500 ribu,” ujar Raymond kepada Malang Post di Samsara Cafe, Jalan Lokon, Sabtu (8/2).
Dalam satu bulan, pria yang pernah menjadi anggota Perhimpunan Penerbitan Mahasiswa Indonesia (PPMI) itu bisa menulis sampai dua kali di media nasional kala itu. Saat muda, Raymond pun aktif menjadi redaktur tamu penerbitan Aktivitas Penerbitan Kampus Mahasiswa (UAPKM) Universitas Brawijaya, atau dijuluki Kavling 10 oleh wartawan kampus kala itu.

   Baca juga : Dirut Perum Jasa Tirta I : Media Jangkar Akal Sehat


Jurnalis kampus masa orba, jelas tak lepas dari pergerakan mahasiswa. Pria kelahiran 1969 ini pun merasakan era pergerakan mahasiswa pada tahun 1991-1996. Tak heran, spirit pergerakan pemegang gelar magister Teknik Sipil UB tersebut juga terpercik ketika mengkritisi fenomena serta persoalan di masyarakat pada masa otoriter.
“Pernah suatu kali, kami menulis soal munculnya underbow ormas yang bermunculan dan masuk di kampus, dan mengkotak-kotakkan mahasiswa dengan afiliasi agama. Saat kami menulis dan komplain soal situasi tersebut, produk penerbitan kami bernama Ketawanggede, dibredel,” kenang mantan aktivis Forum Mahasiswa Bahasa Inggris (FORMASI) UB ini.
Namun, setelah lulus dari Fakultas Teknik UB tahun 1996, Raymond tidak terjun di dunia jurnalistik. Pada awal dia masuk di dunia kerja, jalan hidup menuntunnya menjadi asisten konsultan teknik konsorsium konstruksi. Salah satu desain proyek yang pernah digarap oleh perusahaan tempatnya bekerja, adalah tol Malang Pandaan.
“Saya terharu ketika melihat tol Malang Pandaan berdiri. Desainnya sudah disusun sejak sebelum reformasi,” jelas mahasiswa doktoral ilmu konservasi tanah Fakultas Pertanian UB tersebut.
Setelah melanglangbuana, akhirnya jalan hidup membawanya berkarir di Jasa Tirta, sampai sekarang menjadi direktur utama di Malang. Meski tak terjun secara profesi di dunia kewartawanan, Raymond masih sangat memelihara kemampuan menulisnya. Dia memiliki blogspot, serta kerap kali menulis di media sosial pribadinya. Termasuk, menulis soal desain tol Malang Pandaan yang diresmikan Joko Widodo, Presiden RI tahun 2019, di raymondvaliant.blogspot.com. Atau, sekadar menulis tentang wabah corona yang menghebohkan dunia.
“Saya tidak setiap hari menulis. Setiap bikin tulisan, saya riset dulu dua-tiga minggu. Seorang penulis yang baik itu pasti pembaca yang baik. Saya banyak baca buku, karena jarang pakai sumber data dari internet,” tambah pria yang masih sering mengkliping koran itu. (fin/udi)

Editor : Mahmudi Muchid
Penulis : Fino Yudistira

  Berita Lainnya





Loading...