Perjuangkan Hak Perempuan Sampai Ke Komnas Perempuan | Malang Post

Senin, 27 Januari 2020 Malang Post

  Mengikuti :


Minggu, 24 Nov 2019,

MALANG - Berawal dari kepeduliannya memperjuangkan hak dan perlindungan perempuan serta anak hingga saat ini, Dr dr Retty Ratnawati, MSc (QU), terpilih sebagai salah satu dari 15 Komisioner Komnas Perempuan periode 2020-2024. Ia mampu menyisihkan sekitar 700 kompetitor yang juga ikut seleksi sejak Juni lalu, dan ditetapkan pada Jumat (22/11) lalu.
Menurut Retty, panggilan akrabnya, memiliki perhatian besar terhadap hak dan perlindungan perempuan dan anak adalah sebuah passion. Ia memandang hal tersebutlah yang membuatnya bergairah dan melakukan segala yang terbaik sepanjang hidupnya untuk kesejahteraan perempuan di Indonesia.
Retty, dikenal sebagai pemerhati perempuan dan anak aktif di berbagai lembaga perlindungan perempuan dan anak sejak tahun 1990. Saat ini ia aktif sebagai Konsultan Woman Crisis Center (WCC) Malang dan dosen aktif di Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya (UB).  
“Awalnya saya juga sempat ragu, tetapi banyak dorongan dan dukungan. Dan juga setahun lagi saya sudah masa pensiun, tetapi saya masih ingin berbuat dan berbagi sesuatu terus,” tegas Retty kepada Malang Post.
Meskipun berada di ilmu kedokteran selama kuliah sarjana hingga S3, Retty tidak pernah melepas kepeduliannya terhadap perempuan dan anak. Di sela profesinya sebagai dosen di FK UB sejak 1985, ia menginisiasi pembentukan Kelompok Studi Wanita (KSW) yang saat ini menjadi Pusat Studi Wanita (PSW) UB. “Saya bersama teman-teman seperjuangan, salah satunya bu Wahyu (Sri Wahyuningtyas, Direktur WCC Malang). Dia di Fakultas Hukum saya di Kedokteran sama-sama punya pikiran sama, Sampai sekarang,” paparnya.
Dimulai dari Pusat Studi Wanita (PSW), keduanya mulai mengembangkan layanan advokasi pada masalah-masalah yang kerap dialami perempuan. Sampai kemudian pemikiran untuk membentuk lembaga dicetuskan. Maka pada Tahun 2000, Woman Crisis Center Dian Mutiara Malang dibentuk dan aktif hingga saat ini.
Soal karir kedokteran, dengan gamblang perempuan yang juga anggota International Woman Medical Doctor Association ini mengatakan, tidak lagi membuka praktek dokter sejak 10 tahun yang lalu. “Setelah S3 selesai saya sempat buka praktek dokter umum tahun 2007. Saya buka praktek, mengerjakan sendirian karena buka praktek di rumah. Pasien saya banyak anak mahasiswa saat itu karena di saya mungkin boleh nge bon, makanya mereka suka,” tutur Retty sambil tertawa menceritakan tidak tega ketika melihat pasiennya yang dari sisi ekonomi masih belum berkecukupan.
Akan tetapi dalam masa tersebut, ia merasa tidak lagi bisa menghandle. Sampai akhirnya tidak lagi membuka praktek dan fokus berprofesi sebagai dosen PNS di UB saja untuk mendukung kebutuhan finansial sehari-hari.
Alumnus Queensland University ini kemudian meneruskan jika di saat itulah ia bisa fokus melakukan passionnya. Yakni memberi perhatian pada permasalahan-permasalahan perempuan dan anak yang ada di sekitarnya hingga dapat menjabat sebagai salah satu Komisioner Komnas Perempuan.
Maju untuk mengikuti seleksi sebagai salah satu komisioner Komnas Perempuan pun, perempuan asli Malang ini membawa sebuah misi. Saat resmi bertugas di 1 Januari 2020 mendatang ia akan membawa sebuah misi untuk membuat sebuah sistem. “Saya ingin membuat sebuah sistem yang bisa menyatukan semua pandangan. Bahwa urusan perempuan tidak hanya untuk perempuan saja. Sistem ini harus mengangkat bahwa urusan perempuan juga urusan keluarga dan urusan semuanya,” tegas perempuan yang pernah menjadi konsultan nasional Women Development untuk Proyek International Project for Agriculture Development terkait Pengelolaan Pertanian Lahan Kering se Jawa Timur selama 5 tahun ini.  Hal tersebut tetap menjadi cita-cita yang akan diwujudkannya saat duduk di kursi Komisoner Komnas Perempuan sampai 5 tahun ke depan. (ica/udi)

Editor : Mahmudi
Penulis : Sisca






WEB HOSTING HANDAL

ArdetaMedia

INTERNET STABIL dan MURAH

BestNet
Loading...