Perjuangkan Hak Perempuan Korban Kekerasan | Malang POST

Minggu, 23 Februari 2020 Malang Post

  Mengikuti :


Perjuangkan Hak Perempuan Korban Kekerasan

Minggu, 24 Nov 2019,

MALANG - Kasus kekerasan terhadap perempuan saat ini semakin memprihatinkan. Masih banyak perempuan yang belum berani mengungkap kepedihan karena mengalami kekerasan, baik secara verbal maupun fisik.  Hal itu yang membuat Yuni Kartika Sari, seorang aktivis sosial ingin merangkul para perempuan korban kekerasan.
"Kalau untuk kegiatan sosial, saya sudah aktif selama 16 tahun. Kalau di kasus khusus perempuan ini, sekitar enam tahun," terang Yuni ditemui Malang Post belum lama ini.
Perempuan yang akrab disapa Yuyun ini mengaku, mulai bulan Januari hingga November 2019 ini, ia telah menangani beberapa kasus kekerasan terhadap perempuan. Rata-rata, kasusnya kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). "Ada yang menerima kata-kata kasar dari suami. Ada yang dipukuli, ada yang ditinggal selingkuh dan kasus lainnya yang macam-macam," kata dia.
Menurut Yuyun, masih ada beberapa perempuan yang masih takut untuk mengungkapkan jika dirinya korban kekerasan. "Mungkin mereka merasa takut dan terancam. Serta, masih belum tahu harus bicara dengan siapa," beber Yuyun.
Untuk itu, ketika ia mendengar terjadi potensi kekerasan terhadap perempuan, ia merasa 'gemes' dan langsung mendatangi korban untuk memberikan pertolongan dan pendampingan. "Biasanya, saya datang sendiri dulu. Saya ajak ngobrol dari hati ke hati. Memang harus pelan-pelan melakukan pendekatannya. Sebab, orang-orang seperti ini terkadang memiliki ketakutan jika bertemu dengan orang lain," papar dia.
Setelah melakukan pendekatan yang bertahap, Yuyun kemudian memberikan arahan dan gambaran proses penyelesaian kasus kepada sang perempuan. Ia mulai memberikan pendampingan, utamanya dalam hal psikologis. "Kami memiliki tim khusus untuk memulihkan trauma yang mereka miliki. Konsultasi dan pengobatan trauma serta pendampingan dilakukan secara gratis," ucap perempuan yang aktif dalam Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Woman Crisis Centre (WCC) Dian Mutiara ini.
Namun, dari beberapa kasus KDRT yang ditanganinya, ia terkadang merasa miris. Sebab, masih banyak perempuan yang tak ingin melanjutkan kasusnya lantaran masih sayang dengan sang suami. "Saya merasa miris kalau seperti ini. Saya kasihan dengan mereka. Nanti mereka akan merasakan kesakitan lagi," ujar Yuyun.
Salah satu kasus yang sempat membuatnya miris adalah kasus kekerasan terhadap seorang perempuan asal Jawa Barat. Ia mengenal seorang laki-laki asal Lawang dan akhirnya menikah siri. Akhirnya, keduanya kos di Kota Malang dan sering telat membayar. "Ketika si perempuan minta uang untuk bayar kontrakan, malah dipukul sama suami sirinya. Padahal dia sedang hamil," jelas dia.
Namun, di sisi lain, sang pria juga memiliki Wanita Idaman Lain (WIL). Awalnya, ia memiliki ketakutan dan tidak ingin meneruskan kasus ini ke polisi. Bahkan, sudah sempat di mediasi. Namun, sang mertua malah menyudutkannya. "Mertuanya itu ikut menyudutkan dia karena dia istri siri. Ketika konsultasi kepada kami, akhirnya dia berani lapor polisi dan minta pulang ke Jawa Barat," lanjut perempuan asli Malang ini.
Selama ini, dia begitu gigih memperjuangkan ha-hak para perempuan. "Apapun yang saya lakukan ini, mudah-mudahan bisa memberikan manfaat. Saya ingin menunjukkan kalau perempuan ini mampu dan tidak bisa diinjak-injak," beber dia.
Sebab, dalam penyelesaian kasus kekerasan tersebut, butuh proses terapi yang cukup panjang. Serta, harus ditangani dengan psikolog sesuai dengan kadar kasusnya. Ada yang ringan hingga parah. "Di WCC Dian Mutiara ada tim khusus untuk itu. Kami hanya bisa membantu dengan tenaga dan pikiran. Aku kudu mbelani perempuan," tegas dia menggebu. (tea/aim)

Editor : Muhaimin
Penulis : amanda

  Berita Lainnya



Loading...


Honda
mitsubhisi

WEB HOSTING HANDAL

ArdetaMedia

INTERNET STABIL dan MURAH

BestNet
Loading...