Malang Post - Pembunuhan Model Asal Mongolia Hantui Najib Razak

Senin, 06 April 2020

  Mengikuti :


Pembunuhan Model Asal Mongolia Hantui Najib Razak

Rabu, 18 Des 2019

KUALA LUMPUR - Mantan Perdana Menteri (PM) Malaysia Najib Razak meminta kepolisian untuk membuka kembali kasus pembunuhan model asal Mongolia, Altantuya Shaariibuu. Seruan ini disampaikan setelah namanya disebut oleh mantan polisi, Azilah Hadri sebagai orang yang memerintahkan pembunuhan itu.
Lewat pengacaranya, Muhammad Shafee Abdullah, Najib mengatakan bahwa pernyataan Azilah tersebut merupakan bagian dari upaya pembunuhan politik tingkat tinggi.
Shafee bahkan mengklaim dirinya telah menerima informasi bahwa seorang "VVIP" telah menemui Azilah yang telah divonis mati dan saat ini dipenjara di Penjara Kajang. Disebutkannya seperti dilansir media The Star, Rabu (18/12/2019) kemarin, permohonan peninjauan kembali kasus Azilah merupakan "permohonan jahat". Shafee menyebut ada tangan-tangan tersembunyi di balik permohonan tersebut.
Azilah telah meminta Pengadilan Federal untuk meninjau kembali putusan bersalah dan vonis matinya pada tahun 2015 atas pembunuhan Altantuya pada Oktober 2006. Dalam pernyataan tertulis di bawah sumpah atau statutory declaration (SD) yang diajukan bersama permohonan kepada Pengadilan Federal Malaysia untuk mengkaji vonis mati tersebut, Azilah mengatakan bahwa dirinya diperintah oleh Najib menembak mati Altantuya yang disebut sebagai mata-mata asing yang berbahaya. Azilah mengakui dirinya bertemu dan mendapat perintah itu langsung dari Najib yang saat itu menjabat Wakil PM (DPM). Pernyataan sepanjang 17 halaman itu ditulis dalam bahasa Melayu dan diajukan oleh pengacara Azilah, J Kuldeep Kumar, pada 17 Oktober lalu sebagai bagian dari permohonan pengkajian kepada Pengadilan Federal Malaysia. Disebutkan Azilah bahwa operasi pembunuhan Alantuya hanya diketahui oleh sekelompok kecil, termasuk ajudan Najib saat itu, Musa Safri dan penasihat khusus Najib, Abdul Razak Baginda, serta seorang polisi lainnya bernama Azhar Umar Sirul sebagai eksekutor lain yang membantu Azilah.
Menurut Azilah, Najib dan Abdul Razak menyebut Altantuya sebagai sosok yang 'pandai bicara dan licik yang akan berbohong bahwa dia hamil'. Disebutkan juga oleh Azilah bahwa Abdul Razak sempat menuturkan bahwa Altantuya tahu informasi detail soal aset keamanan Malaysia, soal hubungan pribadi antara Najib dan Abdul Razak dengan Altantuya.
Namun Shafee mengatakan bahwa SD Azilah merupakan upaya pembunuhan politik terhadap Najib yang populer di kalangan rakyat Malaysia. Shafee pun berharap polisi akan membuka kembali kasus pembunuhan ini.
"Saya harap mereka akan menyelidiki ulang kasus ini. Klien saya menginginkan mereka menyelidiki ulang untuk satu tujuan -- kami ingin tahu siapa yang menempatkan Azilah dalam mode sumpah palsu ini," cetus pengacara Najib itu.
"Siapa di belakang sumpah palsu ini? Karena kami pikir dia tidak sendirian," imbuhnya. Kuala Lumpur - Seorang mantan polisi Malaysia, Azilah Hadri menyebut mantan Perdana Menteri Malaysia Najib Razak telah memerintahkan pembunuhan model asal Mongolia, Altantuya Shaariibuu. Pengacara Najib, Muhammad Shafee Abdullah menyebut bahwa ini merupakan bagian dari upaya pembunuhan politik terhadap Najib.
Kepada para wartawan di Pengadilan Federal, Shafee mengatakan bahwa orang yang sangat penting atau VVIP (Very Very Important Person) telah bertemu dengan Azilah yang ditahan di Penjara Kajang, pada Februari 2019 lalu.
"Ada informasi yang sangat terpercaya bahwa Azila bertemu dengan VVIP di luar penjara pada Februari. Saya tak bisa mengatakan siapa dia," tutur Shafee seperti dilansir media The Star, Rabu (18/12/2019).
"Seorang VVIP di luar penjara! Bukan di penjara. Ketika dia (Azilah) telah dihukum mati, itu adalah pelanggaran protokol," cetus pengacara Najib itu seraya menambahkan dirinya mencoba mengonfirmasi apakah informasi ini benar atau tidak. (dtc/aim)

Editor : Muhaimin
Penulis : dtc

  Berita Lainnya





Loading...