Malang Post - Pasar Lawang Diguyur Rp 157 Miliar, Ekonomi Domestik Bisa Meroket

Selasa, 31 Maret 2020

  Mengikuti :


Pasar Lawang Diguyur Rp 157 Miliar, Ekonomi Domestik Bisa Meroket

Selasa, 26 Nov 2019

Diskusi khusus menyambut Hari Jadi ke-1259 Kabupaten Malang, tak hanya membahas prospek bisnis Kabupaten Malang tahun 2020 di komoditi ekspor. Sebab, Disperindag Kabupaten Malang yakin ekonomi domestik di Kabupaten Malang, juga berpotensi meroket pada tahun 2020. Sebab, Pasar Lawang, yang beberapa bulan lalu terbakar, segera menerima gelontoran dana miliaran rupiah dari Kementerian Perdagangan RI.


Dalam diskusi di Graha Malang Post Jalan Raya Sawojajar ruko WoW 1-9, Kedungkandang Kota Malang, muncul bocoran Detail Engineering Design (DED) Pasar Lawang. Disperindag yang sedang menyusun DED, memberi beberapa kunci soal gambaran DED pasar di ujung utara Kabupaten Malang.
“Prioritas prospek bisnis tahun 2020 di Kabupaten Malang, adalah pembangunan Pasar Lawang dengan konsep semi modern. Tahun 2020, Kementerian Perdagangan menggelontorkan anggaran Rp 157 miliar untuk Pasar Lawang, yang menggarap adalah Kementerian PUPR,” papar Kabid Perdagangan Disperindag Kabupaten Malang, Hasan Tuasikal.
Sesuai DED, Pasar Lawang berkonsep pasar wisata, pasar inovasi, pasar sepanjang hari (24 jam). Serta underground parking untuk mencegah adanya kendaraan parkir di pinggir jalan. Meski demikian, anggaran Rp 157 miliar ini tak ditanggung oleh Kementerian Perdagangan saja. Pemkab Malang harus menyertakan dana pendampingan dari APBD untuk menyokong pembangunan Pasar Lawang.
Jika Pasar Lawang benar-benar bisa finish tahun 2020, maka Kabupaten Malang bakal mempunyai pusat perdagangan domestik yang representatif di tapal batas. Apalagi, Hasan menyebut Pasar Lawang, juga dirancang untuk mirip dengan pasar percontohan dengan perwajahan terbaik di Kota Malang. Yaitu Pasar Oro-Oro Dowo yang juga menjadi objek wisata.
Pemred Malang Post, Hj Dewi Yuhana menyebut bahwa konsep pasar seperti Oro-Oro Dowo sangat tepat untuk diterapkan di semua pasar di Kota Malang. “Karena, pengunjung yang belanja merasa senang dengan pasar Oro-Oro Dowo, bersih dan nyaman untuk belanja,” tambahnya.
Para peserta diskusi cukup hangat membahas soal pasar dan potensinya di ruang rapat Graha Malang Post. Apalagi, para peserta juga sedikit bersenda gurau tentang pasar. Yang ‘digarap’ oleh peserta diskusi, adalah Ketua DPRD Kabupaten Malang Didik Gatot Subroto. Jika pasar modern yang bersih sampai terbangun, maka belanja harian untuk rumah tangga tak akan diserahkan kepada pembantu.
Bisa-bisa, istri dari politisi PDIP ini, kerasan setiap hari belanja di pasar modern yang bersih, higienis dan nyaman. Dan, Didik akan terlihat setiap hari nongkrong di pasar sembari menunggui istri belanja. Harapannya, pasar modern seperti ini lahir di Kabupaten Malang, yang membikin betah pengunjung.

Baca juga : Prospek Bisnis 2020, Kopi 10 Besar Komoditi Ekspor Kabupaten Malang


Meski prospek Pasar Lawang sebagai pasar satelit di tapal batas Kabupaten Malang cukup besar untuk menyaingi Pasar Singosari, Marta Mono kontraktor asal Malang, memberi warning. Mono yang juga kontraktor pasar dengan konsep Build Operate Transfer (BOT), mengatakan pasar era sekarang tidak boleh indah tanpa makna.
“Jangan sampai kelihatannya saja modern tapi ternyata dalamnya masih bau. Bangun bagus-bagus tapi sepi.  Konsepnya bukan membangun sebesar mungkin, tapi membangun untuk mengembalikan budaya masyarakat ke pasar,” papar Mono dalam diskusi.
Pasar Oro-Oro Dowo bisa menjadi acuan nyata metode pengelolaan pasar modern. Pasar Oro-Oro Dowo dibangun tinggi, tapi hanya satu lantai sehingga masyarakat nyaman berbelanja tanpa perlu naik turun. Pasar modern, tidak pengap seperti pasar tradisional pada umumnya. Lalu, konsepnya semi modern, tertata rapi serta memiliki zonasi barang dan komoditi dagangan.
Mono juga mencontohkan, konsep semi basement seperti Pasar Besar Malang juga layak ditiru. “Harus bisa menghindari pasar dua lantai, kalau bisa dikonsep semi basement, sehingga orang datang tidak awang-awangen. Lantai dua Pasar Besar tetap rame karena konsep semi basement,” ujarnya.
Soal konsep pasar 24 jam, Mono menyebut ada solusi atau formula yang bisa diadaptasi di Pasar Lawang. Yaitu, mulai dini hari sampai sore hari, pasar digunakan para pedagang untuk berjualan. Namun, memasuki maghrib sampai dini hari, pasar menjadi tempat PKL penjual makanan dan jajanan.
Para pedagang yang biasa berjualan di pinggir trotoar, dilokalisir di dalam pasar, dan tak sampai tumpah di jalan raya. Sementara itu, terkait konsep pasar wisata, Ketua Dewan Penasehat Kamar Dagang dan Industri Kabupaten Malang, Juniardi menegaskan bahwa untuk layak menjadi pasar wisata, komoditi yang dijual di pasar juga harus memiliki standar produk wisata.
“Dari kacamata produksi, quality control, kemasan dan produknya harus menjaga tiga prinsip, yaitu kualitas, kuantitas dan kontinuitas. Kedua, yang paling utama, yang menjadi jantung semua bisnis, adalah pemasaran. Seperti manusia tanpa jantung, begitu juga bisnis tanpa promosi,” tandas Juniardi.
Prospek bisnis hanya akan menjadi prospek, andai tak ada dorongan promosi yang kuat di tahun 2020. Untuk pengembangan pemasaran produk, Juniardi menyebut perluasan informasi di semua lini sangat penting. Tanpa ada promosi, bisnis akan mati. Ketua DPRD Kabupaten Malang membuat terobosan yang bakal dibahas di edisi berikutnya.
Diskusi rutin di Malang Post edisi Jumat 22 November 2019, menghadirkan tema prospek bisnis Kabupaten Malang 2020. Hadir dalam diskusi, Ketua DPRD Kabupaten Malang, Didik Gatot Subroto, Kabid Perdagangan Disperindag Kabupaten Malang Hasan Tuasikal, Dirut PD Jasa Yasa, Ahmad Faiz Wildan, serta jajaran pengurus Kadin Kabupaten Malang.(fino yudistira/ary/bersambung)

Editor : Bagus
Penulis : Fino

  Berita Lainnya





Loading...