Padukan Arsitektur Kota Berkelanjutan dengan Kearifan Lokal | Malang POST

Sabtu, 29 Februari 2020 Malang Post

  Mengikuti :


Padukan Arsitektur Kota Berkelanjutan dengan Kearifan Lokal

Senin, 20 Jan 2020,

Setiap daerah, termasuk Malang Raya, seyogyanya mengimplementasikan aspek-aspek fundamental terkait ruang kota, bentuk, dan wajah kota dengan pendekatan holistik sekaligus memperhatikan kearifan lokal. Sehingga masyarakat dapat hidup dan beraktivitas dengan aman dan nyaman.
PROF. Dr. Ir. Lalu Mulyadi, MT menegaskan,  arsitektur kota berkelanjutan berbasis kearifan lokal. Konsep tersebut membangkitkan rasa bangga dan kecintaan terhadap bangunan peninggalan masa lampau.
Poin itu menjadi salah satu titik tekan yang disampaikan Prof. Dr. Ir. Lalu Mulyadi, MT dalam pidato  pengukuhannya sebagai guru besar dalam bidang Ilmu Arsitektur, Sabtu (18/1) lalu. Mantan Rektor Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang ini mengusung judul "Arsitektur Kota Berkelanjutan Berbasis Kearifan Lokal".
Dia menjelaskan, konsep arsitektur kota berkelanjutan yakni memperhatikan bentuk bangunan masa kini di perkotaan yang mengutamakan unsur kenyamanan dan keamanan. Selain itu, berkelanjutan juga berarti bisa diwariskan kepada anak cucu kelak lantaran dari segi bangunan sudah bagus, kuat dan kokoh.
“Kata bagus menunjukkan bahwa di dalamnya terdapat elemen-elemen penting.
Dalam arsitektur, hal itu adalah bangunan yang ada di perkotaan. Melalui bangunan itulah bisa memberikan dampak dari berbagai aspek termasuk ekonomi dan sosial budaya,” papar  Prof. Lalu kepada Malang Post.

   Baca juga : Lakukan Riset Berkelanjutan di Kayutangan


Sementara bangunan adalah artefak, peninggalan nenek moyang terdahulu serta dibangun dengan susah payah. Konsep yang digunakan pun sangat bagus sehingga perlu dikembangkan oleh generasi penerus dan perlu digali lebih jauh lagi. Konsep berkelanjutan yang dimaksud yakni bangunan bisa dipertahankan dan dijaga seterusnya.
Prof. Lalu mencontohkan konsep kearifan lokal budaya Hindu Bali di Kota Cakranegara,  Lombok, NTB. Di sana masyarakat sangat konsen terhadap konsep Tri Hita Karana yang memiliki arti tiga penyebab kebahagiaan dan kesuksesan. Keyakinan tersebut dibawa hingga sekarang, tidak berubah sama sekali lantaran mereka percaya dengan konsep keselarasan tersebut.
“Konsep yang dimiliki oleh masyarakat Bali adalah kearifan lokal, tentu akan berbeda jika berbicara daerah lain seperti Malang, Pasuruan dan kota lainnya,” jelasnya.
Menurut Prof. Lalu, konsep arsitektur kota berkelanjutan juga bisa diterapkan di Kota Malang. Terlebih di kota pendidikan ini banyak bangunan kolonial yang masih kokoh hingga saat ini, sehingga perlu dipertahankan. Misalnya bangunan-bangunan di sepanjang Jalan Ijen dan kampung heritage Kayutangan.
Dua kawasan tersebut masih memiliki nuansa tradisional meskipun mayoritasnya adalah bangunan kolonial. Perlu digarisbawahi, lanjutnya, bahwa bangunan-bangunan kolonial tersebut bukan berarti mengambil dari negara asalnya, melainkan lebih kepada mengadopsi yang kemudian disesuaikan dengan kondisi iklim dan lingkungan di Kota Malang.
Arsitektur berkelanjutan tidak hanya mengarah pada bangunan kolonial melainkan karya apa saja yang dimiliki oleh kota tersebut. Apabila peninggalan yang masih berdiri kokoh hingga saat ini bangunan kolonial, maka sebaiknya juga dilanjutkan konsep yang sama. Jangan digusur tetapi bisa dimanfaatkan untuk tempat tinggal atau bisa juga sebagai destinasi wisata.
“Kalau di Bali kan tidak ada bangunan kolonial tetapi bangunan tradisional, berbeda dengan di Malang. Tetapi masyarakat di sana mengakomodir apa yang ada di Tri Hita Karana itu tadi, kemudian dilanjutkan bahkan dipertahankan sampai saat ini,” jelas pria berkaca mata ini.
Ia menegaskan, konsep arsitektur berkelanjutan memiliki kunci bagaimana penghuni yang ada di bangunan tersebut merasa nyaman dan aman untuk ditempati. Syarat untuk menciptakan arsitektur berkelanjutan dengan memperhatikan kearifan lokal pada daerah tersebut. Dalam konteks ketahanan budaya, kearifan lokal sangat penting untuk menghadirkan identitas daerah itu sendiri. (lin/van)

Editor : Vandri Battu
Penulis : Linda Elpariyani

  Berita Lainnya



Loading...


Honda
mitsubhisi

WEB HOSTING HANDAL

ArdetaMedia

INTERNET STABIL dan MURAH

BestNet

Loading...