Nadiem akan Kesulitan Tembus Birokrasi Panjang | Malang Post

Sabtu, 18 Januari 2020 Malang Post

  Mengikuti :


Sabtu, 26 Okt 2019

MALANG - Posisi Nadiem Makarim sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) menjadi perbincangan hangat dalam diskusi di Graha Malang Post. Idealnya Nadiem mendapatkan Wakil Menteri (Wamen) karena tugasnya amat berat. Namun tidak ada Wamen untuk Mendikbud, karena Presiden Joko Widodo hanya melantik 12 Wamen.
Mantan Staf Khusus Mendikbud era Jokowi-Jusuf Kalla, Nasrullah, M.Si memberikan pandangannnya.  Permasalahan sistem pendidikan merupakan hal serius. Pendamping atau Wakil Menteri yang mendampingi Nadiem harus lebih dari satu. Itu jika dilihat dari pengalaman Nadiem sendiri untuk mengurusi hal di luar yang ia ketahui seperti bidang pendidikan.
"Sampai tadi sore Mendikbud, Mensos dan Menkes belum ada wakil. Padahal menurut saya kementerian tersebut juga besar bebannya. Khusus untuk Wamendikbud, minimal harus ada 2 wakil. Idealnya malah tiga," tegasnya.

   Baca juga : Pemred Malang Post Latih Guru Kemenag Menulis
Ia menjelaskan mengapa tiga wakil? Karena terdapat tiga core tugas yang besar dalam kementerian tersebut. Yakni Pendidikan Dasar dan Menengah (dikdasmen), Pendidikan Tinggi (Dikti) dan Kebudayaan. Ia mencontohkan Menteri BUMN yang mendapatkan dua Wamen. Hal ini seharusnya dibuat perbandingan dengan kementerian pendidikan yang idealnya bisa dapat tiga wakil. Karena akan menghadapi persoalan yang rumit tadi apalagi dengan bergabungnya kembali Dikti.
"Kalau toh tetap dapat satu maka harus orang kuat dan berpengalaman. Ketokohannya harus jelas. Tapi saya yakin dalam beberapa hari ini wakil wakil ini akan dilaunch. Perlu tokoh senior atau setidaknya cukup pengalaman di dunia pendidikan untuk membantu Mas Nadiem," urainya.

   Baca juga : Proteksi Lahan Pertanian, Kebut Ranperda Bangunan Gedung
Dalam diskusi Malang Post “Menatap Masa Depan Indonesia dari Kabinet Indonesia Maju” di Kantor Redaksi Malang Post Kamis (24/10). Nasrullah juga menyiratkan keraguan terhadap Nadiem, karena menteri ini tidak memiliki latar belakang yang berhubungan dengan pendidikan.
Menurutnya, pemilihan Nadiem Makarim, berkaitan dengan keinginan Jokowi untuk merevolusi sistem pendidikan. Yakni dengan pendekatan IT. Di Kementerian Pendidikan yang selalu diinginkan Jokowi adalah peningkatan akses daerah 3T (terpencil, terluar, tertinggal, red) dengan pendekatan IT.
Hanya saja, pendekatan IT dengan pemberian fasilitas IT di daerah-daerah 3T tadi, salah satu contohnya pendirian perangkat telekomunikasi, mangkrak karena SDM tidak siap. Tidak hanya masalah SDM, Nasrullah memandang problem kesejahteraan guru non PNS dan honorer menjadi tantangan. Menurutnya, hingga saat ini Indonesia masih kekurangan tenaga guru PNS hingga 1,1 juta personil. Sementara guru yang diperbantukan, alias guru honorer belum mendapatkan gaji yang sesuai UMR di beberapa daerah.
“Menata guru sangat besar tantangannya. Belum lagi masalah lulusan vokasi yang memang catatannya masih banyak menganggur. Ini berarti link and match masih kurang pas,” tegasnya.
Arahan presiden harus ada pemangkasan birokrasi, eselon. Jika Nadiem bisa dan menempatkan orang yang tepat, Nasrullah mengatakan Nadiem harus sangat bijak memilih pendamping-pendampingnya, termasuk dirjen-dirjen bidang di bawah Kemendikbud nantinya.
 “Memang Presiden selalu berorientasi pada hasil yang cepat. Tapi dunia pendidikan tidak se-pragmatis itu. Hasilnya tidak akan muncul begitu saja dalam 5 tahun, 10 tahun saja belum tentu efeknya muncul. Ini jangka panjang,” tuturnya.
Birokrasi Itu Monster
Sementara itu, Kepala Lab Ilmu Pemerintahan UMM Yana Syafriyana Hijri, M.Si menjelaskan mengenai struktur birokrasi di lembaga atau kementerian yang sangat besar. Apalagi Kemendikbud. Kata dia, birokrasi itu seperti monster, tidak bisa ditembus. Jangankan oleh orang di daerah, bahkan oleh menterinya sendiri.
“Maka memang perlu ditambah Wamen. Contohnya ada di Kementerian Pariwisata, Deputi membawahi 38 Asisten deputi,  lalu bagaimana cara menembus birokrasi panjang untuk menyelesaikan masalah dengan cepat,” tegasnya
Menurutnya reformasi birokrasi penting. Ia melihat daerah bisa lebih rasional, karena ada scoring untuk melihat kemampuan birokrat dan kemampuan anggaran. Ada klasifikasi tipologi organisasi di daerah (OPD), misal tipologi A,B dan C. Dengan kualifikasi itu pola kerja dan kebutuhan eselonnya bisa dilihat.
“Sekarang rentang kendali panjang, jadi untuk menyelesaikan masalah juga panjang. Soal Kemendikbud jadi satu dengan Dikti ini masalah lagi. Kementerian pendidikan birokrasi besar, masalah korupsi juga besar, serapan anggaran pasti juga besar untuk pegawai,” paparnya.
Tentang masalah pendidikan ini, Dekan Fakultas Hukum Universitas Widyagama Purnawan Dwikora Negara juga menyampaikan pandangannya. Ia lebih pesimistis akan kepemimpinan Nadiem Makarim. Menurutnya pemilihan Nadiem oleh Jokowi tidak akan memberikan pengaruh besar pada perubahan sistem pendidikan.
“Kalau dilihat latarnya, jangan sampai pendidikan ini malah menyiapkan tukang. Pendidikan kita ini harusnya lebih pada budi pekerti hingga karakter. Bukan menyiapkan tukang siap kerja,” papar pria yang akrab disapa Pupung ini.
Ia mengungkapkan, Jokowi hanya memandang sosok popularitas Nadiem saja. Ia khawatir Jokowi tidak memilih berdasarkan kompetensi yang dimiliki di bidang pendidikan, akan tetapi memilih karena kemampuan Nadiem menciptakan lapangan pekerjaan.
 “Ya dia (Jokowi) kan sangat apresiasi dengan Menpora (Menteri Olahraga) Malaysia yang masih muda itu. Mungkin presiden tidak mau kalah. Apalagi Nadiem di Malaysia kan dibelain sama Mahathir,” tegas pria yang juga pegiat Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Jawa Timur ini.
Ia pesimistis, arah sistem pendidikan Indonesia hanya akan berorientasi dengan industri. Apalagi dengan sosok Nadiem yang memang berlatar pengusaha. Tidak hanya persoalan pendidikan, ekonomi Indonesia juga dipertaruhkan pada Kabinet Indonesia Maju Jokowi.
Sementara itu, terkait arah perkembangan ekonomi dan investasi, akan diulas pada edisi Malang Post yang akan terbit pada Minggu (27/10). (ica/ary/bersambung)

Editor : bagus
Penulis : sisca






LOWONGAN KERJA

Loker

WEB HOSTING HANDAL

ArdetaMedia

INTERNET STABIL dan MURAH

BestNet
Loading...