MTs Hidayatul Mubtadiin Tasikmadu, Perkuat Iman dan Takwa Dengan Wisata Reliji | Malang POST

Senin, 17 Februari 2020 Malang Post

  Mengikuti :


Jumat, 10 Jan 2020,

MALANG - Tidak banyak sekolah atau madrasah formal yang memiliki program masuk pagi. Seperti yang diterapkan MTs Hidayatul Mubtadi'in Tasikmadu, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang. Madrasah ini mewajibkan siswanya masuk pukul 06.00 WIB, setiap harinya. Lebih dari itu gerbang madrasah ditutup. Mereka yang terlambat diberi sanksi sesuai aturan yang telah diterapkan selama ini.
Untuk wilayah Malang, rasanya belum ditemukan sekolah yang masuk pukul 6.00 WIB. Baru di MTs Hidayatul Mubtadi'in. Pada umumnya sekolah maupun madrasah masuk pukul 06.30 atau pukul 07.00 WIB.
MTs Hidayatul Mubtadi'in melakukan terobosan dengan mencanangkan sekolah pagi. Komitmen madrasah dalam menerapkan jam belajar sepagi itu bukan tanpa alasan. MTs Hidayatul Mubtadi'in ingin memperkuat anak didiknya akan budaya Islam yang telah diajarkan pada ulama dari kalangan Nahdiyyin. Yakni membiasakan dzikir, seperti membaca Alquran, rattib, shalawat, tahlil dan istighosah.
Seluruh amalan saleh ini merupakan tradisi ulama terdahulu yang diprakarsai oleh para ulama Ahlussunnah Wal Jamaah. Dalam hal ini MTs Hidayatul Mubtadi'in memiliki tujuan menguatkan tradisi tersebut kepada para siswanya.
Kepala MTs Hidayatul Mubtadi'in Ustadz Drs. M. Sairozi,M.Pd., mengatakan, setiap hari amalan saleh tersebut dilaksanakan secara istiqamah oleh guru dan siswa. Selama satu jam sebelum kegiatan belajar mengajar dan dilanjutkan siang hari usai salat dzuhur berjamaah. "Kurang lebih sudah lima tahun kita terapkan program ini, dimulai pukul enam setiap pagi secara bersama-sama oleh guru dan siswa," ucapnya.
Waktu pagi dipilih karena dianggap sebagai waktu yang tepat untuk melatih kemampuan otak siswa. Dengan otak yang masih fresh di pagi hari, harapannya dapat mencerna dan menghafal dzikir yang setiap pagi dibaca. “Setidaknya ketika otak ini dicerahkan dengan kalimat toyyibah dan ayat-ayat Alquran akan semakin cerdas,” tandasnya.  
Amalan pertama yang dibaca adalah Alquran. Dilanjutkan dengan rattib dan Salat Dhuha berjamaah. Sebagai penutup ada kuliah lima menit yang diisi oleh siswa secara bergantian setiap harinya. "Melalui kuliah lima menit ini kita ingin melatih anak-anak untuk berani tampil di depan umum, sekaligus memperdalam pengetahuan agama mereka tentang agama Islam," ujarnya.
Kemudian di siang hari, ada kegiatan Salat Duhur berjamaah. Dilanjutkan dengan pembacaan tahlil dan Alquran, hingga pukul 13.00 WIB. "Selain membangun pembiasaan baik ini pada siswa, tentu saja harapan kami melalui dzikir dan doa, yang setiap hari dipanjatkan oleh anak-anak menjadi berkah tersendiri, terutama sebagai doa untuk orang tua mereka baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal dunia," terangnya.
Ustdaz Rozi sendiri menamakan program keislaman tersebut dengan wisata reliji. Dengan wisata reliji tersebut membuat siswa punya rasa tangung jawab secara vertikal. Yakni tanggung jawab sebagai hamba Allah. “Artinya dengan program ini sebagai upaya kami dalam mencetak generasi yang beriman dan bertakwa di era global seperti saat ini dan era yang akan datang,” jelasnya.
Menurut Ustadz Rozi, membangun karakter seseorang bisa diawali dengan ibadah yang dilaksanakan secara istiqamah sehingga akan timbul kesadaran. Melaksanakan ibadah yang berlandasakan kesadaran menjadi salah satu indikator dari kesalehan seseorang.
Selanjutnya, kata dia, imbas positif dari wisata reliji di MTs Hidayatul Mubtadi’in yaitu terbentuknya mental kepemimpinan dalam diri siswa. Karena sudah terbiasa membaca tahlil, rattib dan shalawat, mereka menjadi hafal. Sehingga secara mental mereka siap memimpin saat dibutuhkan oleh masyaraka,” tandasnya. (imm/udi)

Editor : Mahmudi Muchid
Penulis : Inasa All Islamiya



Loading...


Honda
mitsubhisi

WEB HOSTING HANDAL

ArdetaMedia

INTERNET STABIL dan MURAH

BestNet
Loading...