Mereduksi Dampak dan Mengambil Peluang di Tengah Resesi | Malang POST

Sabtu, 22 Februari 2020 Malang Post

  Mengikuti :


Mereduksi Dampak dan Mengambil Peluang di Tengah Resesi

Senin, 11 Nov 2019,

Resesi secara sederhana dapat didefinisikan sebagai pertumbuhan ekonomi suatu wilayah atau negara berada pada nilai negatif berturut-turut setidaknya selama dua kuartal.  Penyebabnya bisa beragam yang jelas perlambatan pertumbuhan ekonomi menyebabkan sisi permintaan agregat mengalami penurunan.
Salah satu pihak yang mengalami dampak langsung dari perlambatan ekonomi ini adalah rumah tangga perusahaan. Perlambatan ekonomi yang berkelanjutan akan mempengaruhi produktifitas dan neraca keuangan. Pendapatan perusahaan umumnya akan mengalami penurunan sedangkan pengeluaran perusahaan cenderung tetap, bahkan ada kemungkinan adanya biaya tambahan yang harus ditanggung oleh perusahaan.
Dampak resesi memang tidak bisa dihindari akan tetapi para peneliti mengungkapkan bahwa dampak negatif resesi bisa direduksi. Ranjay Gulati, Nitin Nohria, dan Franz Wohlgezogen dalam makalahnya yang terbit di Harvard Business Review mengungkapkan bahwa selama resesi 1980, 1990, dan 2000 mayoritas perusahaan mengalami kondisi yang cukup buruk. Namun, 9% dari perusahaan tersebut tidak hanya bisa pulih dalam waktu kurang dari tiga tahun, bahkan mereka berhasil menjadi pemimpin pasar.
Hasil riset tersebut memperlihatkan bahwa resesi tidak hanya datang dengan segala dampak negatifnya, melainkan juga memberikan peluang untuk meningkatkan daya saing setelah ekonomi berbalik arah. Faktanya, masih dari laporan yang sama, perbedaan signifikan antara kelompok perusahaan yang masuk 9% dengan perusahaan lain adalah faktor persiapan.
Perusahaan lain mempunyai kecenderungan untuk mengaktifkan mode bertahan hidup saat resesi dengan memberlakukan kebijakan konservatif seperti Pemutusan Hak Kerja (PHK). Kebijakan konservatif ini tidak berlaku untuk kelompok 9% perusahaan yang justru menguasai pasar setelah resesi besar. Kelompok 9% ini melakukan langkah-langkah yang cenderung radikal dan berorientasi jangka panjang.
Bagaimana seharusnya perusahaan mempersiapkan diri sebelum resesi? Beberapa peneliti mengungkapkan setidaknya ada empat hal, yaitu: diversifikasi dan restrukturisasi aset, desentralisasi pengambilan kebijakan, manajemen tenaga kerja, dan investasi teknologi.
Diversifikasi dan Restrukturisasi Aset
Ancaman resesi yang sudah diprediksi harus dipersiapkan dengan ketersediaan likuiditas yang cukup. Oleh sebab itu, perluasan kapasitas produksi dan diversifikasi produk jika resesi kian dekat sebisa mungkin dihindari. Hal ini untuk menjaga agar perusahaan tidak kehabisan uang tunai pada saat resesi sedang berlangsung. Sebaliknya, ketika kondisi cenderung membaik, perusahaan seharusnya segera mengambil momentum untuk melakukan ekspansi dan diversifikasi usaha.
Perusahaan juga perlu melakukan restrukturisasi aset untuk menjaga arus kas dengan memindahkan aset-aset perusahaan pada portofolio yang lebih likuid. Restrukturisasi aset akan sangat membantu ketika arus kas perusahaan mengalami masalah dan hutang jatuh tempo kian dekat.
Desentralisasi Pengambilan Kebijakan
Mengapa diperlukan desentralisasi pengambilan kebijakan? Resesi memberikan banyak ketidakpastian dan turbulensi sehingga dalam mencari solusinya juga perlu hal yang diluar kewajaran.
Desentralisasi kebijakan artinya pengambilan keputusan ada baiknya didelegasikan lebih ke bawah bukan hanya di level top manager, hal ini dikarenakan pada tingkat manajemen yang lebih rendah umumnya lebih menguasai aspek teknis. Selain itu, mereka juga bersinggungan langsung dengan ketidakpastian sehingga lebih tanggap terhadap perubahan.
Kebijakan ini tentu tidak mudah pada implementasinya, karena banyak faktor yang menghambat mulai dari budaya organisasi yang sudah terbentuk hingga ketidakpercayaan top manager untuk membebankan kebijakan ke level dibawahnya. Jika desentralisasi kebijakan dirasa berat, setidaknya perusahaan bisa memberikan kesempatan lebih banyak untuk setiap elemen perusahaan terlibat aktif dalam pengambilan kebijakan.
Manajemen Tenaga Kerja
PHK terkadang tidak dapat dihindari selama masa sulit, selama resesi besar pada tahun 2009, 2,1 juta orang Amerika kehilangan pekerjaan. Namun, studi yang dilakukan Ranjay Gulati., dkk menemukan hal yang mengejutkan. Mayoritas perusahaan Amerika yang bisa bertahan di tengah gelombang resesi dan mempunyai kinerja baik setelah fase perlambatan adalah perusahaan yang tidak menjadikan PHK sebagai prioritas.
Faktanya, PHK tidak hanya merugikan pekerja tetapi juga perusahaan. Sebelum keputusan PHK diambil, perusahaan juga harus memikirkan biaya perekrutan pegawai baru, pelatihan kerja dan penyesuaian budaya kerja ketika ekonomi mulai membaik.
Oleh sebab itu, kebijakan pemotongan jam kerja, pemotongan insentif dan penghargaan berbasis kinerja merupakan alternatif solusi selama fase-fase disruptif. Kebijakan-kebijakan alternatif ini, selain mampu menekan biaya operasional juga bisa mengurangi ongkos sosial yang mungkin akan ditanggung perusahaan.
Investasi Teknologi
Kapan investasi teknologi perlu dilakukan? Tentu jawabannya adalah secepatnya. Akan tetapi, perlu dicatat, tidak semua perusahaan memiliki kondisi keuangan yang mumpuni sehingga penetrasi investasi di bidang teknologi antara perusahaan satu dengan perusahaan lain memiliki rentang waktu yang berbeda. Investasi di bidang teknologi tidak hanya mengurangi biaya operasional akan tetapi juga akan meningkatkan imunitas perusahaan dalam menghadapi resesi di masa depan.  
Selain itu, sisi lain yang perlu dipersiapkan perusahaan adalah reaktualisasi pemahaman mengenai resesi. Resesi tidak boleh dianggap sebagai sesuatu yang mengerikan namun harus dianggap sebagai gejala ekonomi siklikal yang wajar. Resesi seperti temuan Ranjay Gulati., dkk bukan hanya membawa perlambatan akan tetapi juga memberikan peluang untuk merebut pasar di masa depan.
Perusahaan multinasional asal Indonesia harus mengambil momentum resesi untuk mengubah peta dominasi perusahaan-perusahaan global. Strateginya, jangan terlalu konservatif dan berani mencoba mengambil kebijakan yang diluar kewajaran dengan tetap mempertimbangkan aspek kehati-hatian. (*)

Oleh: Mochamad Rofik
Peneliti di Pusat Pengembangan Ekonomi Bisnis dan Kewirausahaan (PPEBK) dan Dosen Matematika dan Statistik FEB UMM

Editor : mp
Penulis : opini

  Berita Lainnya



Loading...


Honda
mitsubhisi

WEB HOSTING HANDAL

ArdetaMedia

INTERNET STABIL dan MURAH

BestNet
Loading...