Mengenang Soesanto, Pejuang TRIP | Malang POST

Selasa, 18 Februari 2020 Malang Post

  Mengikuti :


Minggu, 10 Nov 2019,

SEORANG Komandan Batalyon 5000 Tentara Republik Indonesia Pelajar (TRIP) bernama Soesanto, tewas terlindas oleh Marine Brigade Belanda di Jalan Salak (sekarang Jalan Pahlawan Trip) pada 31 Juli 1947, dalam upayanya menyelamatkan anak buahnya, yang mulai terkepung dari sisi barat dan timur.
Soesanto waktu itu berupaya meledakkan granat, untuk menghentikan serangan Belanda. Namun akhirnya, Soesanto bersama 34 pasukan TRIP lainnya, dinyatakan gugur dalam pertempuran tersebut.
Cerita tersebut, tak kan hilang dari Budi Marto Atmodjo, pria berusia 52 tahun, yang merupakan anak dari almarhum Soemarto dan Dien Kartinah. Keduanya, merupakan bagian tentara pelajar, yang juga berjuang di Malang pada zaman itu. Namun, khususnya Soemarto, kala itu memiliki tugas bukan di medan perang sehingga tidak menjadi pejuang yang gugur dalam pertempuran.
“Ayah saya dulu ketika kejadian, bertugas mengamankan dokumen di Jalan Kauman, untuk dibawa ke Blitar. Jadi dia di Malang, tetapi dengan tugas yang berbeda,” ujar Budi, ketika menceritakan, apa yang disampaikan oleh orang tuanya di masa kecil.
Ayahnya memiliki tugas yang berbeda dengan pejuang TRIP yang sebagian besar gugur.  Menurutnya, almarhum ayahnya adalah pejuang TRIP. Begitu pula ibunya. “Kalau ibu, dulu adalah mata-mata. Ibu bisa bahasa Belanda, jadi dulu sering menjadi mata-mata. Tugas pejuang TRIP itu berbeda-beda,” papar dia.
Banyak cerita yang dia dapatkan. Cuma, ayahnya akhirnya meninggal pada 1991. Sedangkan ibunya, meninggal pada tahun 2002.  Sebelum meninggal, ayahnya adalah seorang tenaga pendidik, salah satunya di Universitas Brawijaya Malang.
Menurutnya, tahun 1950, pejuang TRIP ini didemobilisasi, untuk bisa melanjutkan karier di militer atau menjadi sipil. “Seluruh tentara pelajar didemobilisasi oleh pemerintah. Mau melanjutkan sekolah, ikut militer atau sipil. Ayah saya disekolahkan ke Tokyo,” terangnya.
Budi merupakan generasi kedua pejuang TRIP. Menurutnya, di Malang kini tinggal beberapa orang yang dulu menjadi bagian pejuang TRIP. “Bisa dihitung dengan jari untuk generasi pertama. Paling tinggal lima. Sekarang tinggal anak dan cucu, serta beberapa istrinya,” terang dia.
Namun, dia dengan bangga menceritakan sebagai seorang keturunan pejuang TRIP. Ia juga memiliki banyak cerita mengenai orang tuanya. “Ada aura yang berbeda yang kami rasakan ketika ternyata kami adalah keturunan dari pejuang TRIP. NIlai TRIP itu tinggi,” sebut dia kepada Malang Post.
Dia menyampaikan, semangat perjuangan dari sesepuh mereka. Dia juga menceritakan, kini aktif di Pengurus Daerah Paguyuban Mas Trip Malang, sebagai Wakil Ketua Bidang Usaha. Di sana, semua anggota mulai dari generasi pertama (pejuang TRIP, istri pejuang TRIP), generasi kedua (anak-anak pejuang TRIP), generasi ketiga (cucu) dan generasi keempat berkumpul. Sama dengan apa yang dilakukan oleh pendahulu mereka.
“Sejak 1950-an itu, sesepuh kami juga mulai mengumpulkan balung yang terpisah. Mereka yang dulu berjuang bersama-sama. Kami yang masih sehat, tentu mengurus mereka, menjaga terus komunikasi melalui paguyuban ini,” tambahnya.
Budi menuturkan, pada momen Hari Pahlawan, 10 November, dirinya juga ingin terus membawa semangat dari para sesepuh tersebut. Bila dulu TRIP berjuang untuk mempertahankan Kemerdekaan, maka untuk saat ini dirinya ingin meneruskan berjuang untuk generasi saat ini.
“Perjuangan kuteruskan sampai akhir zaman. Saya juga harus menjalankan apa yang dilakukan orang tua kami,” tutur dia.
Sementara itu, Malang Post juga berkesempatan bertemu dengan dua istri dari pejuang TRIP yang saat ini juga masih sehat. Mereka, terhitung memahami apa yang dilakukan oleh para pahlawan tersebut.
Srijani, istri dari almarhum Dolog Soetarto. Dulu, kala tergabung sebagai pejuang TRIP, Dolog tergabung dalam tim snipers atau penembak jitu. “Saat masa TRIP dulu, suami saya penembak jitu. Setelah itu, suami saya banyak sebagai pendidik,” papar dia.
Menurut dia, suaminya bergabung dengan TRIP di usia 16 tahun. Suaminya baru meninggal di tahun 2002. “Ada kebanggaan tersendiri suami seorang pejuang. Tetapi, jejaknya banyak di Blitar,” tambah perempuan 73 tahun tersebut.
Selain Srijani, salah satu istri pejuang TRIP yang kini masih sehat adalah Koestijah. Dia merupakan istri dari almarhum Amijarsono. Dalam kesempatan yang sama, ia menceritakan perjuangan suaminya, sama halnya dengan yang diceritakan Budi dan Srijani.
“Pejuang TRIP itu yang jelas berjuang tanpa pamrih. Dulu, mereka masih menjadi pelajar, yang terpenting adalah bersama-sama berjuang untuk Indonesia. Kami harap itu juga terjadi pada generasi sekarang,” tandasnya. (ley/udi)

Editor : udi
Penulis : stenly



Loading...


Honda
mitsubhisi

WEB HOSTING HANDAL

ArdetaMedia

INTERNET STABIL dan MURAH

BestNet
Loading...