Mahasiswa UM 3,5 Jalani Inkubasi Startup di Korea | Malang Post

Jumat, 24 Januari 2020 Malang Post

  Mengikuti :


Jumat, 13 Des 2019,

Keraba Tani hasil karya tiga mahasiswa Universitas Negeri Malang (UM) mampu menembus persaingan startup dunia. Inovasi teknologi ini juga baru saja mewakili Indonesia di ajang Korea Startup Grand Challenge (KSGC) 2019. Dua dari tiga mahasiswa itu, menjalani masa inkubasi selama 3,5 bulan di Korea Silicon Valley, sejak September hingga 6 Desember dan tiba di Malang Rabu (11/12).
Selama menjalani masa inkubasi, Keraba Tani diwakili oleh CEO Keraba Tani, Ari Gunawan dan CPO Keraba Tani, Made Radikia. Selama 3,5 bulan inkubasi, mereka tinggal di Goshiwon Apartment. Semua biaya hidup di sana ditanggung oleh penyelenggara acara.
“Adaptasi yang paling sulit itu di makanan, tetapi tetap normal makan tiga kali sehari, selama di Korea justru sering beli makanan Indonesia tepatnya di Itaewon daerah masjid dan halal,” terang CEO Keraba Tani, Ari Gunawan.
Sebelumnya, Ari Gunawan dan Made Radikia pada September lalu berangkat ke Korea menggunakan pesawat Air Asia melalui Surabaya, Malaysia dan Incheon. Sedangkan pulang ke Indonesia menggunakan Garuda Indonesia melewati Incheon, Bali dan Surabaya. Semua transportasi tersebut ditanggung oleh KSGC 2019.
Keraba Tani adalah adalah sebuah smart farming 4.0 yang membantu petani dalam meningkatkan produktivitas. Berawal dari prototype pada tahun 2018 lalu, debut pertama teknologi ini yakni kompetisi di empat negara yakni Malaysia, Singapura, Thailand, dan Taiwan. Kemudian Agustus 2019 lalu inovasi ini kembali diikutsertakan dalam sebuah ajang bergengsi Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (Pimnas) XXXII 2019 di Bali dan berhasil menyabet medali emas.
Selanjutnya di bulan yang sama Agustus 2019, Keraba Tani berhasil memenangkan KSGC 2019 serta mendapatkan total dana sebesar 10.500 USD. Di Korea Selatan inilah Keraba Tani mampu menjadi top 40 dunia. Kegiatan itu yang diselenggarakan oleh pemerintah Korea Selatan melalui Ministry of SMEs ini. Tak tanggung-tanggung peserta ajang ini pun mencapai 1.667 tim dari 96 negara.
“Selama 3,5 bulan di Korea inkubasinya tergantung dari teknologinya apa, kalau saya bidang teknologi pertanian akhirnya di sana mengembangkan teknologinya lagi,” ujar Ari.
Selama tinggal di Korea Selatan, Ari bahkan bisa bertemu langsung dengan supplier dari China serta beberapa perusahaan Korea yang membantu pengembangan riset Keraba Tani. Total Keraba Tani melakukan tanda tangan dengan dua perusahaan dari Korea, dua perusahaan dari China serta MoU dengan Venture Capital. Dari kerja sama tersebut tim Keraba Tani mendapatkan kesempatan untuk mengembangkan temuannya di Korea.
Dengan Monit Korea kerja sama dalam bentuk pengembangan penambahan lima parameter pertanian seperti NPK, mendeteksi fotosintesis melalui oksigen dan karbondioksida. Sedangkan Partners Lab Korea Selatan nantinya akan membantu tim Keraba Tani untuk memberikan casing pada sensor.
“Kemudian kerja sama dengan dua perusahaan China itu mereka akan membantu komponen-komponen yang kami butuhkan,” jelas Ari.
Ari melanjutkan, selama di Korea Selatan suatu kebutulan baginya lantaran ada kunjungan dari Bank Dunia. Bahkan, ia diundang sebagai perwakilan negara berkembang untuk bisa meeting dan dinner bersama Wakil Presiden Bank Dunia. Menariknya, pada pertemuan itulah Keraba Tani mendapatkan respons sangat baik bahkan memberikan tanggapan apakah teknologi tersebut bisa dikembangkan di Afrika.
“Ketika wakil presidennya berkata demikian syok, tetapi tetap dijawab bisa saja tetapi harus menyesuaikan dengan kondisi di negara tersebut. Karena saat ini di Indonesia pun masih tahap pengembangan untuk beberapa komoditas,” terang mahasiswa semester 5 ini.
Kegiatan inkubasi terus berlanjut, Top 40 dunia melanjutkan pengembangan teknologi. Selama di Korea ini pun Keraba Tani menghasilkan satu prototype yang siap dipatenkan di Indonesia. Prototype baru tersebut juga dalam bentuk sensor hanya saja lebih canggih. Jika sebelumnya ada tiga sensor untuk mendeteksi tiga parameter, kali ini cukup menggunakan satu sensor atau satu chip.
Tak henti-hentinya mendapat kejutan, Keraba Tani juga berhasil lolos seleksi 7 startup dari 40 top dunia yang berhak presentasi inovasi di hadapan ratusan pasang mata pada kompetisi startup Korea yang diadakan oleh Shinhan Bank.
“Presentasi internasional tersebut kami tidak ikut lomba, tetapi sebagai tamu dan yang maju melalui seleksi dari 40 tim hanya tujuh tim yang terpilih, kriteria tidak tahu pasti tetapi mungkin dari validitas teknologi dan dari segi prospek bisnis,” urainya.
Menjelang masa berakhirnya inkubasi top 40 dunia diberikan pilihan untuk melanjutkan di semester depan namun dengan persyaratan harus memiliki visa D10 dan pendidikan minimal S1 serta ada beberapa persyaratan lain. Namun tim Keraba Tani tidak bisa menerima tawaran tersebut lantaran seluruh anggota masih menempuh pendidikan semester 5 dan ada pula yang masih semester 3.
Dikatakannya, yang tak kalah menariknya adalah Top 40 Dunia diwajibkan mengikuti sertifikasi startup yang menunjukkan bahwa teknologi ini telah menjalani masa inkubator di Korea Selatan. Dengan sertifikasi ini memiliki beberapa kemudahan seperti bisa menjalankan bisnis di Korea dengan perizinan yang mudah.
“Kemudian diakhir masa inkubasi kami presentasi Final Day di depan Ministry SMEs Republic of Korea dan beberapa juri yang mengevaluasi tentang kegiatan kami, jurinya ada Grab Venture, Asia SoftBank, Samsung, dan masih ada lainnya,” terangnya.
Saat presentasi inilah Ari merasa nervous lantaran pitch international untuk kali pertama di hadapan lebih dari 30 negara. Terlebih peserta kegiatan ini mayoritas di atas 25 tahun, lulusan NTU, Harvard, Oxford, Nottingham ,France dan lain sebagainya.
Usai menjalani masa inkubator di Korea Selatan selama 3,5 bulan, tim Keraba Tani saat ini tengah mengincar kerja sama dengan Kemenristek. Untuk produksi masal di tahun depan dengan 200 sensor. Tak hanya itu, tahun 2020 mendatang tim ini juga akan mengembangkan Keraba Tani menjadi sebuah aplikasi yang mudah diakses oleh petani, untuk memberikan rekomendasi tentang permasalahan seputar pertanian.
“Kalau selama ini Keraba Tani menggunakan sensor dengan cara kerja sensor ditancapkan ke lahan kemudian bisa mendeteksi Suhu, Kelembaban dan Ph, kemudian hasilnya tersebut dikirimkan ke Cloud System ke aplikasi petani hasil tersebut bisa dijadikan rekomendasi bagaimana penanganan yang tepat sesui kebutuhan tanah,” terang Ari.
Lebih lanjut, utuk mengarah kerja sama dengan Kemenristek tersebut, baru-baru ini Keraba Tani telah mendaftarkan diri dan berhasil lolos masuk ke inkubator terakreditasi di Indonesia yakni Inkubator Petra. Pendaftarnya lebih dari 100 tim namun hanya diambil 11 startup terbaik termasuk Keraba Tani.
“Kalau sudah ikut inkubasi terakreditasi Insya Allah akan lebih mudah mendapatkan kerja sama dengan Kemenristek, di sisi lain kami akan terus mengembangkan teknologi ini termasuk uji coba ke komoditas lainnya karena sejauh ini baru kentang dan ubi jalar,” tutupnya.(Linda Epariyani/ary)

Editor : Bagus
Penulis : Linda






WEB HOSTING HANDAL

ArdetaMedia

INTERNET STABIL dan MURAH

BestNet
Loading...