Malang Post - Kucing Putih Berbulu Mata Lentik

Senin, 06 April 2020

  Mengikuti :


Kucing Putih Berbulu Mata Lentik

Minggu, 05 Jan 2020

Malam ini, malam yang ketiga, aku di tempat tugas. Rinai pun turut menyertai sejak matahari terbenam tadi. Dinginnya hembusan angin menerpa dinding pondok kami. Ya, aku menyebutnya pondok untuk lebih tepatnya. Walaupun mungkin maksud pemerintah daerah pada saat membangun niatnya untuk rumah dinas guru, didirikan di pinggir hutan ini. Dinding-dindingnya sudah mulai lapuk. Anak tangga yang hanya ada enam, dua di antaranya patah. Demikian anak tangga yang di teras belakang. Daun jendela kamar depan terlepas dari engsel atas, sehingga jika ditutup menjadi miring.
Aku menyampaikan perihal tempat mandi kepada Pak Juan, karena aku merasa risih mandi di tempat terbuka. Walaupun, aku menggunakan kain sarung dan jilbab, tetap tampak lekuk tubuhku. Alhamdulillah, beberapa siswa kemarin telah berhasil menyambungkan bambu-bambu dari arah kali hingga ke belakang pondok kami, sehingga kami tidak lagi harus mandi di kali.
“Sebenarnya, aku juga sudah pikirkan hal itu, kasian Bu Mira. Sekarang Bu Mira istirahat saja dulu, maksimalkan saja kamar depan. Kamar belakang jadikan saja tempat penampungan barang-barang. Nanti aku dan Pak Wicok, biar tidur di ruang tengah saja,” sambil menunjuk-nunjuk Pak Juan mengarahkanku. Head lamp yang dipasang di kepalanya, cahanya ikut bergerak-gerak. Aku tersenyum tipis ketika Pak Juan menyebutnya kamar depan dan belakang, karena ruang itu hanya diberi sekat tanpa berdaun pintu.
Sebagai seorang muslim, mungkin alarm tubuhku sudah terbiasa terbangun di jam-jam waktu Subuh. Kuraih head lamp yang kuletakkan di sudut dekat tiang kamar ini, kutatap jarum jam tanganku, tepat menunjukkan pukul 04.00. Segera kulantunkan doa bangun tidur lalu kuusap wajahku. Berusaha tersenyum, karena kudapati bantalku basah lagi karena air mata.
Ternyata sudah tiga malam aku memang tertidur, tetapi alam bawah sadarku merintih. Aku tak dapat pungkiri, sungguh di sisi lain jiwaku menolak keadaan ini semua. Namun, di sisi lainnya ada rasa penasaran dengan tantangan alam ini. Jiwa keguruanku tertantang untuk melaksanakan tugas mulia ini sebagai pelaku mencerdaskan anak bangsa. Walau di sini yang jauh dari daerah asalku, di pelosok tanah Papua ini. Kutinggalkan keluarga besarku di Makassar demi sebuah wasiat ayahku untuk melanjutkan perjuangannya.
Astaghfirullah, aku berusaha meredam suara isak tangisku. Segera aku beranjak ke belakang dengan niat berwudhu. Suara ngorok Pak Juan dan Pak Wicok masih bersahut-sahutan. Tiba-tiba kakiku terasa dingin, aku menunduk dengan niat akan memperhatikan kedua kakiku. Tapi apa yang kulihat, di sela-sela papan tepat aku berdiri, aku melihat kucing berbulu putih. Kukucek-kucek mataku untuk memastikannya, ternyata kucing itu hilang, aku tidak melihatnya lagi.
Langsung kubaca tiga qul dengan niat agar rasa takutku hilang. Mungkin karena rasa takut atau pengaruh segelas teh panas yang semalam kuminum sebelum tidur atau dinginnya angin yang tiba-tiba berhembus, membuat rasa ingin buang air kecil mendesakku. Aku buru-buru ke teras belakang dan langsung berjongkok. Ternyata kucing putih itu ada juga berjongkok di ujung tangga belakang. Kukucek-kucek lagi mataku untuk memastikan apa yang aku lihat, memang kucing itu ada. Bulu kudukku sangat terasa berdiri, aku merinding.
Samar-samar terdengar suara-suara, kurasakan pipiku ditepuk-tepuk. Aku membuka mata dan serempak aku dengar orang-orang berucap syukur karena kata mereka aku telah siuman. Segera Pak Juan memegang leherku dan mengucapkan bismillah sambil menuntunku minum. Aku ditanyai beberapa hal, tapi aku tak menjawab satu pertanyaan pun. Aku beranjak menuju tempat wudhu kembali dan melanjutkan salat subuhku yang tertunda. Biarlah peristiwa tadi kusimpan sendiri, batinku.
Pada saat Pak Juan dan Pak Wicok akan ke sekolah untuk mengajar, Pak Juan memberi instruksi kepada salah seorang siswa untuk segera “toki” bel, agar  pelajaran segera dimulai. Karena itu ia perintahkan agar siswa-siswa untuk segera masuk kelas, Ruth dan Sumian disuruh untuk menemaniku dulu sampai aku agak baikan. Kalau pun aku tak masuk mengajar  hari ini tidak apa-apa katanya. Walau jarak antara sekolah dan pondok kami sangat dekat, hanya kira-kira ada 100 meter.
Setelah aku merasa baikan, aku meraih cermin, kutatap wajahku masih pucat, tapi segera aku bertekad untuk ke sekolah. Sungguh yang ada dipikiranku saat itu, kasian anak-anak jika  aku tak masuk mengajar  hari ini. Padahal mereka sudah lama tidak bersekolah karena guru-guru tak ada yang datang ke tempat tugas, menurut Pak Juan semenjak Ujian Nasional usai, guru-guru semua kembali ke kota, karena trauma dengan gempa tahun lalu tepat saat Ujian Semester berlangsung.
“Kenapa ibu belum makan?”, tanya salah seorang di antara mereka untuk kesekian kalinya.
Tapi untuk kesekian kalinya juga aku tak bergeming, aku hanya menatap tajam mereka. Dengan berharap mereka melepaskanku, kakiku pegal diberi beban ikatan. Tangan kiriku pun diikatnya di tiang pembatas sekat ruang tidur mereka. Mungkin sudah 3x24 jam, mereka menyekapku di tempat itu, sepertinya tempat itu berupa gua.
Tak lama kemudian datanglah sosok tinggi besar penuh pernak-pernik di tubuhnya, terutama di bagian kepalanya, tampak burung kasuari yang telah diawetkan bertahta di atas kepalanya. Tampak pula ukiran indah di wajah dan di dadanya. Mereka yang sejak tadi berjaga-jaga sambil memegang tongkat, serentak membungkukkan kepala tanda memberi hormat. Aku menebaknya, sosok itu pasti kepala suku mereka.
“Kenapa ibu tidak mau makan, apa ibu tidak suka ikan bakar itu?”, tanyanya sambil mengamati wajahku yang mungkin sudah pucat.
Ada guratan kecemasan di raut wajahnya. Mungkin ia sangat khawatir jika aku tiba-tiba lemas dan meninggal.
“Bukan itu masalahnya, aku suka makan ikan bakar. Tapi kenapa kalian tega padaku, menculikku seperti ini?” tanyaku setengah berteriak.
“Ibu makan saja dulu, kemudian kami membuka ikatan tangan dan kaki ibu”, sarannya yang sengaja dilembut-lembutkan. Aku bertekad akan bertahan tidak mau makan, sampai mereka melepaskan ikatanku. Aku semakin tidak mengerti apa yang mereka inginkan atas diriku.
Bodohnya aku, mengapa aku mengikuti kucing putih yang berbulu mata lentik itu hingga di tengah hutan, sampai tiba-tiba aku berteriak kesakitan akibat pukulan telak tepat di medula oblongata-ku. Selebihnya aku tak ingat lagi, mungkin aku jatuh pingsan, karena setelah aku siuman aku sedang dikelilingi para perempuan yang hanya menggunakan jumbai-jumbai dan bertelanjang dada.
Sampai saat itu, aku belum mengerti mereka itu siapa sebenarnya. Tapi, mereka selalu mengatakan bahwa aku harus makan dulu lalu mereka menjawab kedua pertanyaanku.
Dengan sisa tenagaku, kuberanikan diri untuk bertanya, “mengapa aku harus makan dulu?”, sambil menatap mereka satu persatu. Entah kekuatan dari mana aku seberani itu menatap mereka. Kepala suku pun tiba-tiba duduk bersimpuh di depanku, setelah menarik nafas panjang, ia berucap, “Karena kami menyayangi ibu, kami takut ibu jatuh sakit jika ibu tidak makan,” ucapnya penuh taksim.
Aku pun menjadi terenyuh. Ada ketulusan yang kutangkap pada tatapannya padaku.
Tapi, aku tak mau menyerah begitu saja mempercayainya.
“La? Kalau kalian menyayangiku lalu kenapa kalian mengikatku seperti ini?”, ucapku dengan setengah berteriak. Aku hampir saja menangis, namun kutahan, karena aku tak mau kelihatan lemah di hadapan mereka. Tapi jujur, perutku sudah mulai keroncongan, ulu hatiku semakin perih. Sepertinya aku harus makan, aku tak mau mati konyol. Mataku semakin suntuk, mengantuk, dan lapar.
“Mohon ibu, mohon ibu makan, atau apa ibu mau makan singkong rebus saja? Kami ganti papeda ini ya, Bu?”, tanpa kusadari aku mengangguk. Mungkin karena memang aku takut mati, atau mungkin karena suara kepala suku itu penuh kharisma. Serentak mereka bersorak-sorai tanda bahagia kepala suku mereka berhasil membujukku.
Enzim amilase di mulutku tiba-tiba terangsang melihat singkong rebus berasap dengan sambel kemangi dan ikan merah bakar tampak dagingnya yang empuk. Tak kusadari aku makan sangat lahap, hingga aku sendawa. Astaghfirullah, apa yang terjadi pada diriku ini? Mukaku terasa panas. Mungkin memerah karena aku jadi malu.
Tiba-tiba rasa ngantuk melanda diriku dan aku langsung tertidur. Aku terbangun setelah merasa wajahku panas, setelah kubuka mataku, ternyata aku bukan lagi dalam gua, tapi sudah berada di alam bebas. Aku sangat kaget dan langsung duduk, segera bersandar di batang pohon yang tak jauh dari punggungku. Mereka berkumpul mengelilingiku, semuanya laki-laki. Kudekap dadaku sembari memeriksa pakaianku, pikiranku sudah tak karuan. Kukira mereka telah memperkosaku, setelah aku sadar betul, ternyata pakaianku tak ada yang berubah. Akupun sudah tak diikat. Aku sangat bingung, apa mau mereka atas diriku ini. Kulihat kucing putih berbulu mata lentik itu datang menghampiriku, aku merinding. Kucing itu, mengusap-usap bulunya di ujung kakiku. Secepat itu aku menarik kakiku dan duduk bersila sambil mengusirnya.
‘Husss….hussss…., eh….eh….!
Kepala suku tiba-tiba berdiri dari lingkaran duduk mereka lalu mengambil kucing itu, kemudian dipangkunya. Kucing itu pun langsung tampak adem.
Dengan sisa keberanianku, aku pun bertanya, “Sesungguhnya, apa yang kalian inginkan atas diriku?”
“Tampaknya, belum total pengaruh makanan terhadap alam bawah sadar ibu?”, suara lirih sambil berbisik, salah seorang dari mereka yang duduknya paling dekat dari posisiku.
“Maksudmu apa?” tanyaku lirih.
Tapi, aku jadi tersadar dan heran, kenapa suaraku sudah terdengar lembut ya? Dan rasa emosiku pun sudah tak terasa sesak di dada? Apa pengaruh makanan mereka? Ah, entahlah.
Dalam kebingunganku seperti itu, tiba-tiba dari arah samping kiriku, kelompok perempuan datang menghampiriku. Salah saru di antara mereka, kalau diperhatikan baik-baik ternyata “hitam manis”. Ia datang bersimpuh di sampingku, ia membisikkan sesuatu di telingaku. Akupun menyuruhnya untuk mengulanginya, karena tadi aku belum siap menyimak. Aku kaget.
Aku hanya bisa mengernyitkan alis. Tak kusadari, terlontar pertanyaan…. Aaapaaaa?
“Heeh…. Siapa itu dalam kamar mandi?” terdengar orang berteriak, itu suara Mama Taran.
“Saya, Mama. Ibu Mira”, jawabku seramah mungkin.
“Oh, eh, dari kota kah?”, tanyanya tanpa kita saling bertemu muka.
“Semalam, Ma. Tapi, aku ada tidur di rumah Bapak Aiboi di rumah pantai”, jawabku sekenanya dengan dialek setempat.  
“Ooooo….”, terdengar suara percayanya.
Kujumpai Mama Taran sekedar berbasa basi. Sepulangku mengajar dari sekolah akupun taksim ke Bapak dan Mama Taran, pasangan suami istri ini adalah sepasang orang tua angkat kami di tempat tugas. Sudah menjadi kesepakatan awal, barangsiapa di antara kami pas kondisinya kebetulan seorang diri di tempat tugas, maka tidak boleh menginap di pondok guru kami, untuk menghindari hal-hal yang tak diinginkan. Nah, barulah sekarang aku mengerti pesan dari Pak Juan selama ini, selaku guru senior lima tahun dari aku. Sebenarnya ada guru PAK dan tenaga TU, tetapi beliau-beliau jarang datang, alasannya mereka capek jalan membelah hutan, karena mereka tinggal di desa seberang. Ada juga kepala sekolah kami, tapi terdengar kabar beliau sibuk mengurus promosi dirinya untuk menjadi kepala dinas, sehingga beliau berada di kota sampai tak terbatas. Ada pula guru penjas yang biasa dengan kami bersama ke tempat tugas dengan akses laut, naik perahu speed beliau. Tapi, dua bulan terakhir ini, beliau tak lagi ke tempat tugas, karena istrinya sedang hamil tua. Sementara, jika akan dihubungi bagaimana? Di tempat tugas kami belum ada listrik apalagi signal.
Suatu hari, di jam-jam istirahat, Pak Juan menegurku.
“Eh, Bu Mira, kenapa dua bulan terakhir ini, kita selalu berselisih jalan. Biasa Bu Mira bilang pulang ke kota tapi Bu Mira tak ada di kota. Di hubungi hp-nya juga tak aktif, sebenarnya kalau di kota Bu Mira tidur di mana?”, dengan dialek setempat Pak Juan mencecar aku pertanyaan. Aku berusaha menetralkan diri dan hanya meresponnya dengan senyum seramah mungkin. Hingga suatu malam, kami berkumpul di rumah Bapak Taran, karena tadi sore hampir gelap Bapak Taran baru pulang melaut. Alhamdulillah, Mubarak besar-besar. Aku membantu Mama Taran di dapur. Malam itu tampak wajah-wajah bahagia menikmati papeda1 panas dan ikan kuah kuning Mubarak2. Ada Bapak Sineri3, Ada Bapak Ade Taran4 beserta Tete Manggopi5, kami berkumpul di teras depan santap malam sambil bergurau. Di sela-sela percakapan, tiba-tiba Pak Wicok membahas tentang peristiwa yang terjadi Toli Kara, yang konon kabarnya ada 40 orang dari dalam hutan keluar menemui Bapak Bupati, dipimpin oleh kepala suku mereka, agar mereka diangkat menjadi pegawai negeri sipil.  Ke-40 orang tersebut sekelompok bagian dari organisasi yang menginginkan kemerdekaan. Kalau Bupati tidak memenuhi permintaan mereka, maka bupati mati.
“Kah6?”, hampir bersamaan kami tersedak yang menyimak pembicaraan Pak Aman.
“La, apa dong-dong ada ijazah kah7?”, Pak Har menimpali.
“Ya, tarada, too8, jawab Pak Aman cepat.
“Lalu, bagaimana itu dong-dong bisa bekerja?”, tanya Bapak Taran turut heran.
“Karena itu, Bapak Bupati dapat ancam, ale, kalau tidak, Bapak Bupati dapat panah9”, kata Pak Aman lirih.
“Wadoh, jadi bagaimana itu?”, Bapak Ade lanjut bertanya.
“Yah, terpaksa Bupati urus di pusat, sampai NIP keluar dan mereka mendapatkan gaji setiap bulannya”, Pak aman terus menjelaskan.
“Kah?”, hampir bersamaan semua orang yang hadir di malam itu berseru.
“Hari pertama dan kedua masuk kantor di Pemda, mereka diberi pekerjaan. Tapi karena mereka terbiasa di hutan saja, sehingga hari ketiga dan seterusnya mereka tidak muncul-muncul. Nanti “tanggal baru”, kemudian mereka muncul lagi dan meminta gaji, selayaknya gajian rutin PNS”, demikian penjelasan Pak Aman sembari menghentikan aktivitas makannya.
Aku terdiam seribu bahasa, karena apa yang Pak aman bicarakan itu seperti apa yang aku lakoni sekarang. Aku menjadi guru privat atas ancaman mereka yang di hutan, para bapak-bapak. Mereka menuntutku untuk mengajari mereka calistung10, sehingga mereka bisa ikut ujian persamaan Paket A, Paket B, dan Paket C. Yang menjadi pertanyaan adalah seberapa lama aku harus keluar masuk hutan mengajari mereka dan seberapa lama aku harus menyimpan rahasia ini? Tiba-tiba aku merinding sendiri. Kata mereka menekanku, target mereka satu bulan ke depannya, mereka harus mengikuti ujian Paket di Toli Kara, dan kata mereka aku harus ikut bersamanya. Jujur, sebenarnya lambat-laun aku senang melakoni pekerjaan guru rahasia ini, karena mereka cerdas-cerdas dan penuh semangat belajar. Mungkin karena makanan mereka yang alami, seperti kasbi, patatas11. Dibarengi semangat mereka akan jadi PNS. Aku hanya tersenyum tipis, sambil mengumpulkan piring-piring kotor yang ada di hadapan mereka. Setelah aku beres-beres di dapur, segera aku menuju pembaringan dan malam itu aku tertidur sangat lelap hingga subuh.

Oleh:  St. Na’at.

Guru SMP Negeri Warironi, Papua
Sedang tugas belajar magister prodi Bahasa dan Sastra Indonesia di UMM Malang

Peserta Pelatihan Guru Menulis Malang Post 2019

Editor : Redaksi
Penulis : St. Na’at

  Berita Lainnya





Loading...