Malang Post - Kota Malang Alami Anomali Cuaca

Senin, 30 Maret 2020

  Mengikuti :


Kota Malang Alami Anomali Cuaca

Rabu, 04 Des 2019

MALANG - Kota Malang diprediksi sedang terjadi anomali cuaca. Sebab hujan deras tidak berlangsung lama. Hal ini dianggap tidak biasa oleh “Memang ini aneh juga. Kita juga sedang menganalisis anomali cuaca ini. Seharusnya sejak November musim penghujan di Kota Malang tetapi nyatanya tidak,” jelas Analis Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Malang Mahfuzi.
Menurut analisisnya hal ini berkaitan erat dengan letak Kota Malang. Yakni daerah paling rendah atau terdatar dari dua wilayah lainnya. Yakni Kabupaten Malang dan Kota Batu.
Ketika ada pergerakan angin kencang akibat iklim global, maka yang merasakan lebih dahulu adalah mereka yang berada di dataran tinggi. Kota Malang, lanjutnya dikatakan seperti berada pada sebuah titik tengah mangkok (paling cengkung,red).
“Jadi berdasarkan ilmu termodinamika (ilmu pergerakan energi) maka angin akan bergerak pada dataran tinggi terlebih dahulu, mereka akan berputar-putar disana. Kota Malang dikelilingi gunung mulai Semeru, Kelud, Arjuno. Maka tidak heran jika perubahan cuaca lebih dahulu berdampak pada mereka yang berada di dataran tinggi seperti Batu-Karangploso, Lawang, Singosari,” jelasnya.
Sementara itu, BPBD  Kota Malang mencatat 201 bencana terjadi sepanjang 2019 hingga bulan ini. Analis Bencana BPBD Kota Malang, Mahfuzi menyatakan terdapat kenaikan empat persen jika dibanding periode yang sama tahun 2018 lalu. Seperti diketahui, hingga November 2018 terdapat 193 kasus bencana.
“Paling terasa (kenaikan signifikan) adalah kebakaran, genangan air dan angin kencang,” tutur Mahfuzi .

Baca juga :  Puting Beliung Porak Poranda Malang Utara


Ia merincikan, tahun 2019 bencana tanah longsor tercatat 42 kasus dari 45 kasus di 2018. Banjir atau genangan air ada 12 kasus dibanding 5 kasus di 2018. Kebakaran menjadi 86 kasus dari 68 kasus di 2018.
Kemudian kejadian angin kencang naik cukup tinggi. Yakni dari 9 kasus di 2018 menjadi 22 kejadian di 2019. Kejadian pohon tumbang tercatat 20 kali dibanding 46 kasus di tahun 2018, gempa hanya 2 kali dan kejadian non alam sama-sama tercatat 17 kali.
“Jika kita perhatikan, bencana hidrometeorologi menjadi yang teratas. Seperti tanah longsor, banjir hingga angin kencang. Ini harus jadi perhatian kita bersama,” ucapnya.
Pusat Pengendalian dan Operasi (Pusdalops) PB BPBD Kota Malang juga telah melakukan perhitungan kerusakan dan kerugian akibat bencana. Pusdalops menyebut hingga November 2019 tercatat kerugian sebesar Rp. 10.792.047.300, atau naik 62 persen dari tahun lalu yang sebesar Rp. 6.658.146.850.
Saat ditanya kejadian bencana bulan November, ia  menyebut terdapat 17 kasus bencana yang terdiri atas satu kali tanah longsor, dua  kasus banjir (genangan air), enam kasus kebakaran, lima  kasus angin kencang, dua  kasus pohon tumbang dan satu kali kejadian non alam.
Dari 17 kasus tersebut, lima kejadian berada di wilayah Kecamatan Sukun. Lowokwaru dan Kedungkandang masing-masing empat  kasus, Blimbing tiga  kasus dan Klojen tercatat  satu kasus.
Hingga kini BPBD Kota Malang terus berupaya untuk memberikan pemahaman dan informasi kebencanaan kepada seluruh unsur masyarakat. Hal ini dimaksudkan untuk memberikan dasar mitigasi agar dapat menekan risiko bencana yang berujung pada berkurangnya nilai kerusakan dan kerugian.  (ica/van)

Editor : Vandri
Penulis : Sisca

  Berita Lainnya





Loading...