Malang Post - Koleksi Puluhan Diecast BMW, Tinggalkan Aktivitas Demi Lelang

Selasa, 31 Maret 2020

  Mengikuti :


Koleksi Puluhan Diecast BMW, Tinggalkan Aktivitas Demi Lelang

Rabu, 15 Jan 2020

SUKA dengan bentuk fisik mobil BMW, membawa Arief Bagus Cahyono, Owner Pitoe Production, mengoleksi diecast alias miniatur mobil produksi Jerman tersebut. Kini, setidaknya ada 90 varian diecast BMW yang dia miliki, disamping puluhan jenis lainnya.

JUMLAH koleksinya kini sudah lebih dari 100 diecast. Sebagian besar memang berbentuk mobil-mobilan. Namun, secara khusus, dia berburu yang berjenis BMW. "Sebenarnya ada berbagai macam koleksi. Tetapi, yang paling banyak memang BMW. Mungkin hampir semua series diecast BMW saya punya," beber Bagus, mengawali cerita.
Ia secara khusus mengutamakan koleksi BMW karena tertarik dengan bentuk nyata mobil  tersebut. Selain terlihat luxury, dia merasakan mobil tersebut nyaman.
Meskipun kendaraan pribadinya bukanlah BMW, dia beberapa kali menjajal mobil tersebut. Sehingga, mengoleksi diecast BMW sebagai  ikhtiar. Suatu saat dia memiliki bentuk real-nya.
"Ya kepingin suatu saat punya. Tetapi, saya mengoleksi, karena saya suka bentuknya. Khas sekali model atau desain BMW itu," terangnya.
Bagus mengatakan, mobil-mobilan dengan skala 1:64 tersebut, dikumpulkan sekitar lima tahun terakhir. "Sebenarnya, dari  tahun 2002 saat kuliah, saya sudah punya. Tapi ya sebagai mainan anak laki-laki saja, bukan untuk koleksi," papar dia.
Nah seiring waktu, ketika mulai disibukkan dengan pekerjaan,  Bagus  pun menjadikan berburu diecast sebagai kesibukan lain. Untuk mengusir rasa jenuhnya dengan pekerjaan atau event yang terkadang padat.
Pria berusia 37 tahun itu, bahkan rela, meng-hold pekerjaannya demi berburu BMW. Misalnya, ketika ada lelang di media sosial seperti Facebook. Maka, dia akan memasang alarm, jam dimulainya lelang, dan dia ikut biding di dalamnya. Rapat pun kadang ditinggal sebentar.
"Ya entah saya izin ke toilet, menunda rapat sejenak, kalau ada lelang kadang memang saya tinggal aktivitas pekerjaan tersebut. Ya itu serunya sih, sebagai hiburan," urai Bagus.
Lantas, dia mengakui, jika BMW-nya itu juga diburu dengan cara lain. Hunting dari toko modern satu ke gerai berikutnya. Berburu apa yang diinginkannya.
Kadang tidak ada di gerai satu, kadang ada beberapa pieces di gerai lainnya. Namun, dia pun mengisahkan, hal itu sebagai sesuatu yang lucu dan tak terlupakan. "Saya harus bertanya, lalu mencari di gantungan. Kalau ada lebih dari satu, kadang langsung borong. Satu pieces saya masukkan etalase atau rak khusus miniatur BMW tersebut, sisanya akan saya simpan di lemari kaca," tambah alumnus ITN Malang tersebut.
Ia mengatakan, secara harga diecast miliknya banyak yang receh. Rp 25 ribu per pieces. Namun, dia memberikan harga mahal pada perjuangannya. Sehingga, kadang ketika ada kolektor ingin membeli, dia menolaknya.
Pernah, ada kolektor yang ingin menebas semua koleksinya. Harganya pun lumayan, lebih dari yang dikeluarkan untuk membeli seluruh koleksi tersebut. Hanya saja, karena cintanya pada diecast itu, dia tak mau melepasnya.
"Ini hiburan saya. Saya bisa utak-utik mobil ini. Mulai dari ganti ban, ganti warna. Ya kelihatannya simpel, tapi kadang butuh ketelatenan. Dan ini menyenangkan," tuturnya.
Ia menyebutkan dari koleksinya tersebut, ada yang berharga sampai Rp 900 ribu. Dia menjelaskan, mengapa harganya mahal. Karena koleksi tersebut langka dan diburu kolektor.
Selain jenis BMW, dia sebenarnya memiliki jenis lain. Misalnya Fast Furious, dari seri pertama sampai seri terakhir, hingga diecast bertema Thomas. Namun yang spesial, ya berjenis BMW.
Yang menarik pula, dari koleksinya itu, disimpan di kantor production-nya. Mainan itu, dia jadikan hiasan di beberapa sudut kantornya.
Kebetulan, beberapa rekannya pun memiliki hobi mengoleksi miniatur lainnya, seperti VW dan koleksi dari hot wheels.
"Ini sebagai hiburan kami di tengah aktivitas yang padat, melelahkan. Sebagai penghilang stress juga. Punya hobi itu, membuat hidup kita juga terlibat lebih bahagia," pungkas dia. (stenly rehardson/van)

Editor : Vandri Battu
Penulis : Stenly Rehardson

  Berita Lainnya





Loading...