Malang Post - Kisah Praka Rendra Bagas Permadi Bertugas di Pasukan Garuda

Rabu, 08 April 2020

  Mengikuti :


Kisah Praka Rendra Bagas Permadi Bertugas di Pasukan Garuda

Kamis, 27 Feb 2020

Bergabung dalam Pasukan Garuda dan bertugas dalam misi menjaga perdamaian adalah cita-cita bagi setiap anggota TNI. Tak terkecuali Praka Rendra Bagas Permadi, Anggota Yonko 464 Paskhas. Dia bersyukur, karena tahun 2018, masuk dalam misi perdamaian ke Kongo.  


Dia masuk dalam Tim Long Range Mission (LRM) Satgas TNI Kontingen Garuda (Konga) XXXIX-A Rapidly Deployable Battalion (RDB) Mission de Organisation des Nations Unies pour La Stabilisation en Republique Democratique du Congo (MONUSCO). Selama  satu tahun, Rendra sapaan akrabnya bertugas di Kongo, guna melindungi masyarakat sipil.
“Kami berangkat Desember 2018 lalu, dan kembali ke tanah air Desember 2019 lalu,’’ kata Rendra. Dia mengaku sangat bangga.

 

Terlebih Satgas TNI Kontingen Garuda (Konga) XXXIX-A merupakan batalyon pertama yang memiliki tugas untuk melindungi masyarakat sipil.
“Sebelumnya ada pasukan perdamaian dari PBB setingkat Kompi. Sementara kami Satgas TNI Kontingen Garuda (Konga) XXXIX-A merupakan batalyon yang melindungi warga sipil,’’ ungkapnya. Dan yang menakjubkan dari Paskhas 464,  Rendra mengaku hanya dua orang saja yang terpilih berangkat di sana.
“Satunya adalah Kopda Dedik Kurniawan,’’ tambah pria kelahiran 2 Mei 1993 ini.


Rendra mengatakan, dia terpilih setelah mendapatkan surat dari Mabes TNI AU untuk mengikuti seleksi. Ada 18 prajurit dari Yonko 464 Paskhas  yang ikut dalam seleksi tersebut. Dan hanya dua saja yang berhasil lolos.
“Seleksinya tidak hanya di Mabes TNI AU, tapi juga di Mabes TNI,’’ tambah pria yang juga atlet paralayang Lanud Abd Saleh ini.
Satgas tempatnya bergabung ini juga berhasil menjalankan misi. Di mana banyak milisi kemudian menyerahkan diri. Bahkan menyerahkan puluhan senjata dan munisi dari ex milisi Kongo kepada Satgas TNI Konga XXXIX-A RDB MONUSCO.


Pengalamannya selama bertugas di Kongo, sangat banyak. Rendra mengaku jika saat mendapat tugas tersebut, dirinya telah mengetahui bahwa Kongo merupakan negara dengan kategori zona merah. Di mana konflik antara warga dengan milisi sangat kuat di negara tersebut. Konflik itu dipicu dengan perebutan black diamond.
“Saat bertugas kami kerap kali mendengar suara adu tembak. Dan besoknya kami mendapatkan laporan ada warga sipil yang meninggal,’’ urai anak pertama dari dua bersaudara ini.


Adu tembak umumnya terjadi saat malam hari. Tapi bukan berarti siang hari tidak ada.
“Karena kami tergabung dalam pasukan perdamaian, maka jam kerja kami hanya sampai pukul 18.00 waktu setempat. Sehingga patroli kami lakukan pada pagi mulai pukul 06.00 sampai sore hari. Kami tidak diperkenankan untuk berpatroli malam. Makanya itu saat ada kontak senjata, baru besok paginya kami datang ke lokasi. Dan saat kami datang, masih ada mayat warga sipil yang tergeletak,’’ pemilik hobi sepak bola ini.


Kali pertama mengetahui peristiwa itu, Rendra mengaku shock. Terlebih warga sipil yang menjadi korban tembakan umumnya kondisinya memprihatinkan.
“Awalnya shock, juga was-was. Apalagi di sana konfliknya masih sangat tinggi,’’ tutur anak pertama dari pasangan Muhakim dan Tanti Pramukawati.


Kendati demikian, Rendra membesarkan hati, dia yakin markasnya tidak akan diserang. Terlebih pasukan dari Indonesia selalu menerapkan 3S yaitu Sapa Senyum Salam di manapun berada.
“Jadi saat kami patroli itu sepertinya mereka tahu kami warga Indonesia, karena selalu bersikap ramah,’’ tambahnya.


Rendra juga mengatakan, saat bertugas kali pertama di Kongo dia cukup kebingungan menghubungi atau berkomunikasi dengan keluarga. Itu karena di tempatnya bertugas tidak ada sinyal HP. Dia baru bisa berkomunikasi setelah empat bulan berada di sana.
“Setelah empat bulan baru ada signal EDGE. Itu hanya bisa untuk menelpon saja,’’ katanya.
Biaya menelepon pun cukup mahal. Tapi demikian, sebagai prajurit Rendra sama sekali tidak putus asa. Dia pun menikmati tugasnya di sana.
“Tidak ada televisi, tidak ada internet saat itu. Jadi kalau menghubungi keluarga, kami harus membeli kartu sana dulu harganya 40 dolar Amerika, untuk berteleponan sekitar 10 menit saja. Kalau sinyalnya bagus ya komunikasi lancar,’’ katanya.


Seiring tidak adanya sinyal ponsel dan tidak ada GPS, dia pun memiliki pengalaman tersesat dan harus bermalam di hutan.
“Waktu itu kami sekitar 30 anggota melakukan long patrol dari Kampung Bendera menuju Markas Batalyon yang ada di Kalemi. Jika perjalanan darat patroli sekitar 4-5 jam. Namun karena tidak ada peta, kami tersesat. Dan perjalanan itu ditempuh lebih dari 24 jam,’’ ungkapnya.


Rendra pun mengaku saat itu sempat khawatir. Terlebih suasananya juga sangat mencekam. Tapi dia bersyukur, saat hari sudah pagi, dia dan pasukannya kembali bergerak. Sehingga berhasil sampai ke Kampung Kalemi dengan kondisi selamat.


Sekalipun kerap mendapati suasana yang kurang menyenangkan, karena kerap mendengar suara tembakan, Rendra dan rekan-rekannya selalu berusaha menikmati suasana. Terlebih markasnya juga berada tidak jauh dari pemukiman. Sehingga saat tidak ada kegiatan, dia dan rekan-rekannya kerap mengajak anak-anak di kampung tersebut bermain. Dan ini juga yang membuat pasukan dari Satgas TNI Kontingen Garuda (Konga) XXXIX-A dikenal ramah oleh warga.


Rendra juga mengatakan, selama bertugas di Kongo, dia mendapatkan cuti dua kali dalam satu tahun. Cuti itu pun dimanfaatkan dia untuk berwisata.
“Kalau Satgas di negara lain waktu cutinya diambil untuk umroh. Tapi kami tidak bisa, karena kami bertugas di negara dengan kategori zona merah, maka waktu cuti, kami gunakan untuk berwisata ke Turki,’’ tambahnya.(Ira Ravika/ary)

Editor : Bagus Ary Wicaksono
Penulis : Ira Ravika

  Berita Lainnya





Loading...