Malang Post - Kisah Melia Fitriani, Berhenti Menulis Horor karena Kisahnya Jadi Kenyataan

Senin, 06 April 2020

  Mengikuti :


Kisah Melia Fitriani, Berhenti Menulis Horor karena Kisahnya Jadi Kenyataan

Jumat, 14 Feb 2020

Melalui guratan tangan berbentuk cerita non fiksi, Melia Fitriani ingin meningkatkan literasi di kalangan siswa. Guru SDN Sidodadi 1 Ngantang ini lebih menyukai kisah horor, meski seram, alur cerita yang dituangkan masih bisa dibaca oleh anak-anak. Sebab di dalam kisah tersebut tidak ada unsur kekerasan sehingga layak dijadikan bahan bacaan.
Melia hobi menulis sejak kecil, hanya saja saat masih duduk di bangsu SD belum ada penerbit buku. Sehingga ia menuangkan idenya melalui mading dan buku tulis pribadinya. Ketika menginjak SMA, ia aktif di majalah sekolah, tulisan pertamanya saat SMA yakni berkaitan dengan jalan terbaik, berkisah sebuah petualangan meraih cita-cita.
“Hobi menulis saya juga berlanjut sampai sekarang, awalnya dulu saat menjadi guru sukuan menulis di Facebook dan aktif ikut event-event menulis secara online,” ujar Melia.
Tahun 2014, Melia ikut antologi cerpen di sebuah event di Facebook. Tema yang diambilnya bertajuk horor thriller, sebab dengan genre ini ia dapat mengarang bebas menembus imajinasi dalam pikirannya. Bahkan kisah horor menjadi favoritnya dalam menuangkan ide termasuk pada buku terbarunya berjudul Berhentilah Menulis Horor.
Buku yang diterbitkan oleh JWriting Soul pada 2018 ini bahkan menjadi favorit para siswa. Di balik antusisme pembaca rupanya, ada kisah horor pula yang dilalui Melia bahkan sempat membuatnya berhenti menulis.
Buku tersebut mulai digarap tahun 2017. Namun ditengah perjalanan menulis Melia dikejutkan dengan beberapa keanehan tempatnya saat mengajar. Ruangan kelas yang ditempatinya berada paling pojok, kala itu ada beberapa anak yang tiba-tiba ketakutan dan menunjukkan gelagat aneh. Tidak seperti biasanya, siang itu menjadi horor dan tampak mencekam.
“Setelah kejadian di kelas karena membuat saya kepikiran akhirnya saya berhenti menulis, karena di dalam ceritanya mengisahkan tentang seorang gadis yang sering mengirim cerpen ke mana-mana, media dan lain sebagainya tetapi tidak pernah dimuat,” urainya.
Dalam cerita tersebut sang gadis akhirnya menuliskan sebuah kisah horor dan anehnya cerpen tersebut diterbitkan. Sangking senangnya gadis itu ketagihan menuliskan kisah horor namun dalam perjalanannya semua kisah yang ditulis terjadi di alam nyata.
Melia melanjutkan, setelah memutuskan untuk tidak melanjutkan buku Berhentilah Menulis Horor ini pada tahun berikutnya (2018, red) ada sebuah event menulis dari salah satu penerbit. Kemudian Melia iseng mengikutsertakan buku yang belum jadi tersebut ke lomba itu.
“Pada waktu itu, Berhentilah Menulis Horor belum jadi sepenuhnya karena kan sempat berhenti, eh kok pas ikut event tersebut pihak penerbit tertarik degan kisah yang saya tuangkan, akhirnya saya diminta untuk menyelesaikan dan ngebut selama tiga hari,” urainya.
Ia memaparkan buku tersebut banyak diminati anak-anak. Sebab meskipun ceritanya berbau horor, namun tidak ada penggambaran yang mengerikan tanpa ada kekerasan atau yang identik dengan darah. Bahkan di dalamnya juga terdapat nilai-nilai positif agar dapat diaplikasikan oleh siswa dalam kehidupan sehari-hari.
Tak hanya di buku tersebut, di buku lainnya pun Melia kerap menyuarakan hal-hal positif. Misalnya buku berjudul Misteri Liontin Giok, cerita petualangan tersebut ada beberapa poin, seperti cara menggulangi dan mencegah penyakit demam berdarah namun dengan bahasa cerpen.
Menariknya, buku  Misteri Liontin Giok ini pada tahun 2017 lalu menjadi finalis Diseminasi Nasional Literasi di Jakarta yang diselenggarakan oleh Kemendikbud RI selama satu minggu. Namun ia harus gugur lantaran cerita tersebut lebih mengarah untuk kelas 4,5,6 hingga remaja.
Hobinya menulis tersebut membuatnya menghasilkan 7 buku tunggal dan 80-an buku antologi. Selain itu kini ia juga menjadi editor lepas dan telah menghasilkan 50 buku. Juara 3 guru berprestasi Kabupaten Malang 2018 ini juga aktif menyuarakan ajakan menulis.
Bersama sang suami, Arjoko Setiono ia mendirikan Komunitas Ayo Menulis (KAM) pada tahun 2016. Pada awalnya KAM menjaring anggotanya dengan susah payah, bahkan grup di facebook tersebut sepi tanpa ada peminat.
“Pertama mengajak bikin antologi tetapi tidak ada respon sama sekali, dulu minat guru menulis masih minim, akhirnya saya share ajakan tersebut ke berbagai group di facebook yang saya ikuti, disitulah mulai banyak yang minat,” terangnya.
KAM kini beralih ke grup WhatsApp dan diikuti oleh berbagai kalangan. Mulai guru, masyarakat umu, pustakawan, hingga dosen. Bahkan anggota group ada yang berasal dari luar kota malang.
Tak hanya komunikasi melalui WA, Melia juga mengajak anggota groupnya untuk aktif melalukan kegiatan literasi yang dijuluki dengan Sarasehan Sastra dan rutin mengadakan antologi secara online.
“Untuk Sarasehan Sastra kami menyasar sekolah-sekolah, kegiatannya tidak hanya di Malang Raya juga pernah di Kediri dan setelah sarasehan kami ada antologi bareng siswa,” jelas perempuan kelahiran Jombang ini.
Ia bersama anggota KAM saat ini tengah mengembangkan rumah baca di Ngantang. Dikatakannya bahwa sebagian besar anggota Komunitas Ayo Menulis berasal dari kalangan pendidik maka fokusnya lebih kepad anak-anak.
“Sama siswa saya, mereka saya ajak membuat antologi setiap satu tahun sekali jadi mereka punya kenang-kenangan,” tandas Melia.(Linda Epariyani/ary)

Editor : Bagus Ary Wicaksono
Penulis : Linda Elpariyani

  Berita Lainnya





Loading...